Harta Prajogo Pangestu Lenyap Rp 31,5 Triliun Dalam 1×24 Jam
Dailynesia.com – Dalam kurun waktu satu hari perdagangan di Jakarta, kekayaan konglomerat Indonesia Prajogo Pangestu mengalami penurunan dramatis. Menurut data terkini dari Forbes Real Time Billionaires yang diperbarui pada 14 Mei 2026, nilai asetnya merosot US$1,8 miliar atau sekitar Rp31,5 triliun (berdasarkan kurs Rp17.500 per dolar AS) dalam 24 jam. Penurunan ini terjadi setelah MSCI mengeluarkan saham-saham Grup Barito dari indeks globalnya, yang mencakup BREN, TPIA, dan CUAN. Peristiwa ini menciptakan gelombang perubahan signifikan dalam posisi kekayaan sang konglomerat.
Konteks Penurunan Harta
Kehilangan nilai ini memicu perhatian pasar karena saham-saham yang dimiliki Prajogo berakhir di zona merah, memengaruhi IHSG yang anjlok hampir 2%. Selain itu, enam perusahaan yang terdaftar di bawah nama Prajogo menjadi salah satu emiten paling berpengaruh terhadap kinerja indeks pada perdagangan sebelumnya. Dengan penguasaan sektor petrokimia dan energi, kekayaannya tercatat sebagai salah satu sumber daya utama yang menarik investasi di pasar keuangan internasional.
“Harta kekayaan Prajogo Pangestu mengalami penurunan signifikan, setelah pada Mei 2024 nilai kekayaannya sempat mencapai US$70 miliar atau setara Rp1.200 triliun (asumsi kurs Rp17.400/US$).” – Forbes Realtime Billionaire
Dalam Special Plan untuk memperkuat dominasi di sektor energi, Prajogo tetap berada di posisi ke-153 orang terkaya dunia. Meski kehilangan Rp31,5 triliun dalam sehari, ia masih mengungguli tokoh-tokoh kaya seperti Low Tuck Kwong, R. Budi Hartono, dan Anthoni Salim di Tanah Air. Forbes mencatat bahwa kekayaannya selama ini didominasi oleh bisnis yang berkembang di industri petrokimia dan energi, menjadikannya sebagai salah satu pemain kunci di sektor tersebut.
Jejak Bisnis Prajogo
Prajogo, yang kini berusia 82 tahun, dikenal sebagai sosok self-made billionaire yang membangun kekayaannya dari nol. Putra dari seorang pedagang karet ini memulai karier bisnisnya di industri kayu pada akhir dekade 1970-an. Perusahaannya, Barito Pacific Timber, mencapai listing di bursa pada 1993, lalu berganti nama menjadi Barito Pacific pada 2007. Langkah strategis ini memperkuat Special Plan dalam membangun kekuatan finansial melalui akuisisi besar, seperti 70% saham Chandra Asri pada tahun yang sama.
Kemudian, pada 2023, Prajogo melanjutkan ekspansi dengan mencatatkan Petrindo Jaya Kreasi di bursa, lalu Barito Renewables Energy pada tahun yang sama. Tahun 2015 menjadi titik balik penting karena Chandra Asri Petrochemical bekerja sama dengan Michelin Prancis untuk mengembangkan pabrik karet sintetis di Indonesia. Selama periode ini, kekayaan Prajogo terus tumbuh sebagai bagian dari Special Plan untuk menciptakan diversifikasi bisnis yang kuat.
Kehilangan kekayaan di akhir Mei 2026 tidak menghentikan ambisi Special Plan Prajogo. Dalam periode Juni 2025, Chandra Daya Investasi mendapatkan valuasi US$1,4 miliar melalui IPO, sementara dana investasi pemerintah Indonesia diumumkan akan turut serta dalam proyek pabrik kimia Chandra Asri senilai US$800 juta. Selain itu, perusahaan energi asal Thailand, Thaioil, mengantarkan 15% saham Chandra Asri, yang semakin menguatkan strategi bisnis keluarga Prajogo.
Di bulan November 2025, Chandra Asri mengumumkan pendanaan US$750 juta dari KKR untuk memperkuat akuisisi aset Esso Singapore. Sebulan sebelumnya, perusahaan juga merilis rencana membeli jaringan SPBU ExxonMobil di Singapura. Tahun 2022 menjadi momen penting ketika keluarga Prajogo mengakuisisi 33% saham Star Energy dari BCPG Thailand, dengan nilai transaksi mencapai US$440 juta. Ini menunjukkan Special Plan yang konsisten dalam memperluas kekayaan melalui berbagai strategi investasi.
Langkah-langkah ini memperlihatkan kemampuan Prajogo dalam mengatur bisnis yang melintasi batas negara. Sejak listing awalnya, perusahaan-perusahaan yang dimilikinya terus berkembang, menciptakan ekosistem kekayaan yang kompleks. Dalam Special Plan jangka panjang, ia berupaya membangun posisi dominan di pasar global dengan menggabungkan kekuatan lokal dan ekspansi internasional. Meski ada krisis sementara, ketangguhan bisnisnya tetap menjadi sorotan bagi investor dan pengamat pasar.

