Special Plan: Bukan Cuma Technical Rebound, Ini Alasan Saham Bank Tiba-Tiba Ngebut

3 weeks ago  ·  3 min read
By David Williams - dailynesia.com
pengunjung-mengamati-layar-digital-pergerakan-indeks-harga-saham-gabungan-ihsg-di-bursa-efek-indonesia-jakarta-kamis-462026-1780551448276_169

Special Plan: Bukan Teknis, Ini Penyebab Saham Bank Melonjak

Dailynesia.com – Mengemuka dalam diskusi pasar keuangan pada hari Jumat (17/7/2026), saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kenaikan signifikan ke area positif. Penguatan ini tidak hanya berasal dari koreksi teknis, tetapi juga didukung oleh berbagai faktor lain yang mendorong saham perbankan tiba-tiba melesat. Refinitiv mencatat IHSG naik 1,32% atau 80 poin, mencapai level 6.188,33 pada sesi II, menunjukkan respons investor yang positif terhadap situasi pasar saat ini.

Saham Perbankan Tampil Aktif, Faktor Eksternal Berperan

Penguatan saham bank terutama dipengaruhi oleh kombinasi kebijakan internal dan eksternal yang dinilai menguntungkan. Analis Panin Sekuritas Elandry Pratama mengatakan, pergerakan ini memperkuat sentimen pasar, terutama di sektor perbankan yang menjadi salah satu pendorong utama dalam Special Plan. “Koreksi teknis diiringi optimisme terhadap pemulihan pertumbuhan kredit dan likuiditas yang meningkat, sehingga investor kembali melakukan akumulasi, khususnya pada saham dengan volatilitas rendah,” ujarnya dalam wawancara dengan CNBC Indonesia.

Selain itu, Destry Damayanti, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, menyoroti peran kebijakan yang disebut “Special Plan” dalam stabilitas rupiah. BI telah memperluas operasi moneter valas dengan melibatkan transaksi NDF offshore, yang sebelumnya hanya terbatas pada pasar domestik. “Kebijakan ini memberikan ruang lebih luas bagi dealer utama PUVA untuk berpartisipasi, sehingga mendorong peningkatan likuiditas dan kepercayaan investor,” tambah Destry.

Analisis Investor: Kebijakan BI dan Eksternal Bukan Sekadar Teknis

Koreksi teknis di sektor perbankan pada sesi I menjadi pengantar untuk penguatan berkelanjutan. Elandry menjelaskan bahwa penguatan ini juga dipengaruhi oleh ekspektasi kebijakan BI dalam Special Plan, termasuk penggunaan CNH (China Yuan Offshore) sebagai alat stabilisasi nilai tukar rupiah. “Sentimen positif terhadap penggunaan CNH memperkuat pemulihan pasar, karena menunjukkan komitmen BI untuk menjaga keseimbangan moneter,” tutur Elandry.

Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa peran asing dalam market sentiment justru lebih dominan dibandingkan faktor dalam negeri. Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, mengungkapkan bahwa pernyataan Destry Damayanti dalam forum CNBC Indonesia Investment Forum 2026 menjadi titik balik bagi investor asing. “Special Plan yang diumumkan BI memberikan kejelasan tentang kebijakan stabilisasi rupiah, sehingga mengurangi tekanan terhadap capital flow asing,” jelas Liza.

“Meski efek rebound teknis menjadi faktor utama, investor masih perlu memantau kebijakan global seperti suku bunga AS dan fluktuasi valuta asing. Special Plan menjadi penopang untuk menjaga momentum penguatan, tetapi keberlanjutannya bergantung pada konsistensi kebijakan dan respons pasar,” tegas Elandry.

Implikasi Special Plan untuk Pasar Modal Indonesia

Penguatan saham bank dalam konteks Special Plan menunjukkan peluang pasar modal Indonesia untuk pulih lebih cepat. Elandry mengatakan, sentimen positif terhadap kebijakan HSC (High Shareholding Concentration) juga memberikan dampak yang signifikan. “Transparansi dari Special Plan membantu mengurangi ketidakpastian, sehingga investor lebih percaya pada stabilitas sistem keuangan nasional,” ujarnya.

Destry menambahkan bahwa kebijakan BI dalam Special Plan tidak hanya fokus pada jangka pendek, tetapi juga mempertimbangkan dampak jangka panjang. “Kami mencoba mengoptimalkan instrumen NDF dan CNH untuk mendukung ketersediaan dana asing, sekaligus memperkuat kepercayaan pasar terhadap sistem keuangan Indonesia,” jelas Destry. Penguatan IHSG sebesar 1,32% pada hari Jumat menjadi indikasi awal keberhasilan dari kebijakan ini.

Analisis lebih mendalam menunjukkan bahwa Special Plan menjadi pendorong kunci untuk membuka peluang investasi dalam sektor perbankan. Elandry menyebutkan bahwa likuiditas pasar yang meningkat, dipadu dengan ekspektasi pemulihan ekonomi, membuat saham bank menjadi favorit investor. “Penguatan ini memberi sinyal bahwa pasar modal Indonesia mulai memperlihatkan kekuatan, terutama dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan stabilitas rupiah,” tukasnya.

MORE FROM THIS CATEGORY