Kisah Presiden RI & Satu Dunia Kena “Prank” Gunung Emas 53 Juta Ton

2 months ago  ·  4 min read
By Linda Davis - dailynesia.com
3f365f2a-5f0c-484d-b9da-99eb301ce3f1-0

Kisah Presiden RI & Satu Dunia Kena “Prank” Gunung Emas 53 Juta Ton

Dailynesia.com – Dunia internasional, termasuk Presiden Republik Indonesia Soeharto, terkejut oleh klaim perusahaan tambang Kanada, Bre-X, tentang temuan emas masif di Kalimantan Timur. Dikabarkan pada tahun 1993, tim geologi Bre-X menyatakan bahwa area Busang, sebuah kawasan hutan tropis yang terpencil, memiliki potensi tambang emas hingga 53 juta ton. Klaim ini mengguncang pasar global, karena sebelumnya emas di Indonesia tidak pernah dianggap memiliki cadangan sebesar itu. Penelitian yang diterbitkan Bondan Winarno dalam bukunya *Sebungkah Emas di Kaki Pelangi* (1997:50) mengungkapkan bahwa perjalanan investigasi Bre-X ke Busang berlangsung selama 12 hari, di mana mereka menelusuri daerah yang secara lokal dianggap kaya akan emas. Setelah mengecek lokasi, tim tersebut mengirim laporan ke investor yang memprediksi proyek Busang akan menjadi penghasil emas terbesar sepanjang masa.

Usaha Membujuk Investor

Perusahaan Bre-X lalu mengeluarkan surat terbuka yang menjanjikan keuntungan besar bagi para investor. Laporan tersebut menyatakan bahwa dengan pengelolaan yang tepat, tambang Busang dapat menghasilkan emas dalam jumlah luar biasa, sehingga membuat para pemodal kaya raya. Kabar ini segera menyebar, dan nilai saham Bre-X di Kanada pun melonjak tajam. BBC International mencatat, nilai perusahaan mencapai puncaknya hingga Rp7 triliun. Di dalam negeri, rakyat dan pejabat pemerintah juga tergiur. Anak Presiden Soeharto, Sigit Harjojudanto, serta pengusaha ternama Bob Hasan menjadi salah satu investor yang terlibat. Mereka dibujuk dengan berbagai kesepakatan, termasuk Bob Hasan menguasai 50% saham PT Askatindo Karya Mineral dan PT Amsya Lina, yang bertugas mengelola tambang Busang I dan Busang II.

Kisah ini tidak hanya melibatkan perusahaan tambang, tetapi juga jaringan kekuasaan yang terlibat. Pihak Bre-X menyewa konsultan lokal, termasuk PT Danutan Raya, yang dikabarkan menjadi partner dalam pengembangan proyek Busang. Sigit Harjojudanto, putra Soeharto, disebut menerima insentif US$1 juta per bulan untuk peran tersebut. Dalam beberapa bulan, perusahaan Bre-X menggandeng pemerintah Indonesia dan memperkuat narasi bahwa Busang adalah sumber emas yang bisa mengubah nasib bangsa. Namun, di balik kemilau itu, semakin banyak pertanyaan muncul.

Vanishing of Michael de Guzman

Seiring waktu, kecurigaan terhadap klaim Bre-X mulai berkembang. Pada 19 Maret 1997, pers terkejut oleh kabar mengenai hilangnya Michael de Guzman, direktur eksplorasi Bre-X. Dalam bukunya *Sebungkah Emas di Kaki Pelangi*, Bondan Winarno menggambarkan kejadian itu dengan detail: “Kursi belakang dengan satu-satunya penumpang itu sudah kosong, dan pintu kanan helikopter terbuka,” tulis Bondan (1997:117). Helikopter yang digunakan untuk perjalanan Samarinda-Busang itu ditemukan kosong, menimbulkan dugaan bahwa de Guzman telah menghilang secara misterius. Selang beberapa hari, mayat yang diyakini sebagai de Guzman ditemukan di Filipina, dan dianggap sebagai bukti kematian dirinya. Namun, Bondan mempertanyakan kebenaran identitas mayat tersebut.

“Ciri-ciri fisik de Guzman berbeda dengan mayat yang ditemukan,” tulis Bondan dalam investigasinya. Ini membuatnya memperkirakan bahwa de Guzman masih hidup dan sengaja disembunyikan. Keluarga de Guzman tidak mengetahui keberadaannya meskipun percaya dia masih berada di dunia nyata. Kabarnya, ia mengasingkan diri ke Amerika Selatan setelah kejadian itu.

Kelengkapan bukti yang diberikan Bre-X mulai diperdebatkan. Beberapa peneliti independen, termasuk tim dari Freeport-McMoran, yang ditunjuk pemerintah Indonesia sebagai pihak verifikasi, menyatakan bahwa tanah Busang tidak mengandung emas sebagaimana klaim. Dalam laporan mereka, kawasan tersebut dinyatakan tidak memiliki cadangan emas sejak 1995 hingga 1997. Hasil ini segera memicu kegaduhan di Indonesia, karena klaim Bre-X sempat membuat publik berharap kekayaan tambang emas bisa memperkuat perekonomian nasional.

Krisis yang Mengguncang Pemerintahan Soeharto

Kejutan terbesar datang saat Freeport-McMoran mengungkapkan bahwa hasil verifikasi lapangan menunjukkan Busang tidak mengandung emas. Pemerintah Soeharto, yang awalnya mendukung proyek ini, terpaksa mengakui bahwa klaim Bre-X adalah tipuan. Keluarga de Guzman dan para investor yang tergoda mulai bersuara. Mereka menyandera David Walsh, bos Bre-X, untuk menuntut pengembalian modal yang telah terbuang. Meski berbagai upaya dilakukan, krisis ini tidak segera diselesaikan. Bre-X justru bangkrut, sahamnya anjlok, dan banyak investor kecewa.

Skenario ini menggambarkan bagaimana keinginan kekayaan bisa menyebabkan kebohongan besar. Sejak awal, proyek Busang dianggap sebagai rahasia kekayaan Indonesia yang bisa memperkuat posisi pemerintah. Namun, ketika fakta diungkap, kepercayaan publik hancur. Pemerintahan Soeharto, yang dikenal dekat dengan dunia bisnis, dianggap terlibat dalam skandal ini. Meski demikian, tidak ada bukti bahwa pihak pemerintah secara langsung terlibat dalam penyamaran data. Yang jelas, kejadian ini menunjukkan bagaimana keberhasilan ekonomi bisa tergantung pada narasi yang dibuat oleh perusahaan asing.

Pelajaran dari Prank Emas Busang

Busang menjadi simbol kecurangan dalam sektor pertambangan. Klaim 53 juta ton emas, yang pada awalnya terdengar luar biasa, ternyata merupakan permainan angka. Kehilangan Michael de Guzman memperkuat teori bahwa ada upaya mengelabui dunia. Sementara itu, Freeport-McMoran, yang menjadi mitra pemerintah, tidak bisa memastikan kebenaran klaim Bre-X. Dalam beberapa bulan, proyek ini memicu spekulasi dan investasi massal, tetapi akhirnya berujung pada keruntuhan.

Kisah Bre-X juga menunjukkan bagaimana kepercayaan pasar bisa tergoyahkan dalam hitungan hari. Dari awalnya menggelegar hingga akhirnya ambruk, perusahaan ini menjadi contoh nyata tentang risiko mengandalkan data yang tidak diverifikasi. Meski kejadian ini terjadi lebih dari dua dekade lalu, dampaknya masih terasa hingga hari ini. Ia menjadi bagian dari sejarah Indonesia yang menyimpan cerita tentang keinginan kekayaan, kebohongan, dan dampaknya terhadap perekonomian nasional.

Bondan Winarno, yang secara aktif menelusuri fakta-fakta ini, berhasil membuktikan bahwa mayat yang ditemukan bukanlah de Guzman. Penelitian lebih lanjut di Kanada menunjukkan bahwa ciri fisik dan karakteristik mayat tersebut tidak cocok dengan sosok de Guzman yang sebenarnya. Ini memperkuat teori bahwa de Guzman masih hidup dan mungkin terlibat dalam upaya penyamaran. Meski belum ada penjelasan pasti, kisah ini tetap menjadi peringatan untuk semua pihak yang terlibat dalam

MORE FROM THIS CATEGORY