New Policy Dukung Target IPO Tahun 2026, BEI Optimis Pasar Stabil
Dailynesia.com – Sebagai bagian dari New Policy yang diumumkan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI), target pencatatan saham perdana (IPO) tahun 2026 masih terpantau berjalan sesuai rencana meski kondisi pasar dalam beberapa bulan terakhir terlihat sepi. Pernyataan ini dikeluarkan oleh Jeffrey Hendrik, Direktur Utama BEI, yang menegaskan bahwa walaupun jumlah emiten baru terasa lambat, langkah strategis yang diambil oleh perusahaan tetap sesuai dengan harapan pihaknya.
Implementasi New Policy: Strategi untuk Memperkuat Pasar Modal
Sebagai bagian dari New Policy, BEI terus memperkuat kebijakan untuk menarik lebih banyak perusahaan melakukan IPO. Kebijakan ini mencakup berbagai langkah yang bertujuan meningkatkan daya tarik pasar modal kepada investor lokal dan internasional. Meski jumlah emiten baru dalam Semester I tahun ini masih tergolong sedikit, Jeffery Hendrik menegaskan bahwa situasi ini bisa menjadi pertimbangan dalam menyesuaikan strategi pencatatan saham di tengah dinamika pasar yang berubah.
“Sampai saat ini, kita masih sesuai dengan target. Nanti kalau ada perubahan, kami akan sampaikan,” ujar Jeffrey Hendrik saat diwawancara di Gedung BEI Jakarta, Senin (18/5/2026). Ia menjelaskan bahwa New Policy tidak hanya fokus pada volume IPO, tetapi juga pada kualitas emiten yang diunggulkan untuk memastikan stabilitas pasar di tengah kondisi yang tidak pasti.
Kondisi Pasar: Tantangan dan Peluang dalam IPO Tahun 2026
Sejumlah analis pasar menyatakan bahwa kondisi pasar yang sepi pada awal tahun 2026 memengaruhi keputusan perusahaan untuk mencatatkan saham. Namun, New Policy telah dirancang agar bisa menyeimbangkan antara daya tarik investor dan keberlanjutan proses IPO. Jeffrey Hendrik menambahkan bahwa kebijakan ini mencakup perlindungan terhadap emiten yang memiliki potensi pertumbuhan tinggi serta mekanisme untuk meningkatkan transparansi dalam penerbitan saham.
“Dalam kondisi pasar seperti ini, calon emiten harus mempertimbangkan berbagai aspek, seperti pricing yang optimal dan kemampuan pasar untuk menerima IPO tersebut. Itu menjadi faktor kunci dalam menentukan keberhasilan pencatatan saham,” jelas Jeffrey. Meski proses IPO masih membutuhkan waktu, pihaknya optimis bahwa New Policy akan memberikan dampak positif dalam jangka panjang.
Menurut data yang diterbitkan BEI, hingga 30 April 2026, hanya satu perusahaan yang berhasil mencatatkan saham di bursa dengan dana terkumpul mencapai Rp 0,30 triliun. Meski angka ini masih jauh dari target, jumlah perusahaan yang masuk dalam tahap persiapan mencapai 15 entitas, yang menunjukkan adanya potensi kenaikan dalam jumlah IPO di semester kedua.
New Policy juga memperhatikan aspek keberlanjutan, dengan fokus pada kualitas emiten daripada kuantitas. Dalam wawancara terpisah, Jeffrey Hendrik menyebutkan bahwa kebijakan ini didorong oleh kebutuhan untuk memastikan stabilitas pasar modal. “Kita sudah sepakat mengutamakan kualitas, dan hal ini masih berlaku,” tambahnya. Hal ini menjadi keunikan dari New Policy dibandingkan kebijakan IPO sebelumnya.
Menyusul kondisi pasar yang sepi, BEI berharap New Policy bisa membuka peluang bagi perusahaan yang ingin mencatatkan saham. Pihaknya juga menjelaskan bahwa kebijakan ini memastikan transparansi dan pertumbuhan yang sehat, terutama dalam konteks perekonomian nasional yang saat ini masih stabil. Dengan pendekatan ini, BEI yakin bahwa pencatatan saham di 2026 akan mencapai target yang ditetapkan, meskipun ada tantangan di awal tahun.

