Anak Muda RI Hobi ‘Gali Lubang Tutup Lubang’, Bos OJK Lakukan Ini

2 months ago  ·  3 min read
By James Lopez - dailynesia.com
kepala-eksekutif-pengawas-perilaku-usaha-jasa-keuangan-edukasi-dan-perlindungan-konsumen-ojk-dicky-kartikoyono-saat-konferensi-1775443573025_169

New Policy: Anak Muda RI Menggali ‘Gali Lubang Tutup Lubang’, OJK Lakukan Ini

Kebiasaan Utang Generasi Muda Menjadi Fokus Perhatian OJK

Dailynesia.com – Dalam upaya menangani kenaikan utang di kalangan anak muda Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) merilis new policy yang dirancang untuk mengatasi masalah konsumsi berlebihan dan pengelolaan keuangan yang kurang optimal. Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK, Dicky Kartikoyono, menyoroti bahwa kebiasaan ‘gali lubang tutup lubang’ (utang untuk kebutuhan sehari-hari dan melunasi utang dengan utang baru) menjadi tantangan besar bagi generasi muda. “Banyak dari anak muda Indonesia terjebak dalam siklus utang yang tak terkendali, sehingga kita perlu pendekatan berbasis new policy yang lebih sistematis,” terang Dicky dalam Konferensi Pers RDKB pada 5 Juni 2026.

Langkah-Langkah Edukasi Keuangan Dalam new policy

Salah satu pilar new policy yang diterapkan OJK adalah peningkatan edukasi keuangan melalui platform digital. Dicky menyebutkan bahwa penggunaan teknologi menjadi kunci untuk mengakses informasi finansial secara mudah dan cepat. “Kami mengembangkan sistem belajar interaktif yang dapat diakses kapan saja, memudahkan pemahaman tentang konsep seperti disposable income dan rasio utang,” jelasnya. Selain itu, new policy ini juga menyasar penggunaan media sosial dan aplikasi untuk menyampaikan edukasi kepada masyarakat yang lebih mudah tergoda gaya hidup konsumtif.

Menurut Dicky, edukasi keuangan tidak hanya berupa materi teori, tetapi juga melibatkan simulasi praktis. “Kami menggunakan metode pengajaran berbasis kasus nyata, seperti bagaimana mengelola penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sambil meminimalkan risiko utang,” tambahnya. Langkah ini bertujuan untuk membentuk kesadaran masyarakat, khususnya anak muda, terhadap pentingnya tabungan dan pengelolaan keuangan yang seimbang.

Kolaborasi Dalam Monitoring Utang Real-Time

Sebagai bagian dari new policy, OJK juga mendorong kolaborasi dengan berbagai lembaga untuk memantau eksposur utang secara real-time. Dicky menjelaskan bahwa sistem ini akan memanfaatkan data dari perbankan, fintech, dan lembaga pembiayaan untuk mengidentifikasi risiko kredit yang tersembunyi. “Dengan membangun sistem pengawasan yang lebih canggih, kita bisa mendeteksi tanda-tanda kecenderungan utang berlebihan sejak dini,” katanya. Langkah ini juga berupaya meningkatkan kualitas skor kredit dalam Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) agar lebih akurat dalam mengevaluasi kemampuan pembayaran utang.

Menurut Dicky, kolaborasi ini akan diperkuat dengan penggunaan algoritma canggih dan big data. “Kami bekerja sama dengan pihak swasta untuk mengembangkan teknologi pemantauan yang lebih real-time, sehingga pencairan kredit bisa diatur dengan lebih hati-hati,” ungkapnya. Selain itu, new policy ini juga mencakup upaya untuk menyelaraskan standar kredit antarlembaga, agar ada kesamaan dalam menilai profil debitur dan mengurangi risiko kredit yang tidak terkendali.

Menjaga Stabilitas Sistem Keuangan Melalui Prinsip Kejujuran

“Dalam new policy ini, kita juga fokus pada transparansi dan kejujuran dalam pemberian pinjaman. Jadi, pihak pemberi pinjaman harus melihat repayment capacity sebagai prioritas utama,”

kata Dicky. Ia menambahkan bahwa dalam situasi ekonomi yang dinamis, prinsip kehati-hatian dan transparansi sangat diperlukan agar risiko kredit tidak menumpuk secara berlebihan. “Kami juga mendorong perusahaan jasa keuangan untuk melibatkan calon debitur dalam proses pengajuan pinjaman, agar mereka memahami tanggung jawab finansial yang diambil,” terangnya.

Langkah-langkah dalam new policy ini tidak hanya menargetkan perusahaan jasa keuangan, tetapi juga melibatkan pemangku kepentingan lain, seperti pemerintah dan komunitas. “Kolaborasi lintas sektor adalah kunci dalam menyeimbangkan akses keuangan dan perlindungan konsumen,” tambah Dicky. Ia menjelaskan bahwa OJK akan menyelaraskan kebijakan dengan lembaga pemeringkat dan pihak pemerintah untuk memastikan semua pihak memahami tujuan dan mekanisme new policy secara utuh.

Kemungkinan Efek dari new policy pada Ekonomi Indonesia

Dicky Kartikoyono juga menyoroti bahwa new policy ini diharapkan bisa mengurangi tingkat utang anak muda secara signifikan. “Kami yakin bahwa dengan pendekatan yang lebih komprehensif, pengelolaan keuangan generasi muda akan lebih baik,” katanya. Menurutnya, kebijakan ini akan memberikan dampak jangka panjang, seperti meningkatkan kemampuan pembayaran dan menurunkan tingkat kredit yang berisiko. “Selain itu, new policy juga berpotensi memperkuat sistem keuangan Indonesia, karena mendorong keterbukaan dan kesadaran debitur,” lanjutnya.

OJK akan terus mengevaluasi hasil new policy ini dalam beberapa bulan ke depan. “Kami akan melihat respons masyarakat dan beradaptasi jika diperlukan,” jelas Dicky. Ia berharap, kebijakan ini bisa menjadi referensi untuk kebijakan keuangan nasional yang lebih inklusif. “Dengan new policy, kita ingin memastikan bahwa utang bisa menjadi alat untuk berkembang, bukan alat untuk terjebak dalam krisis keuangan,” tutupnya.

MORE FROM THIS CATEGORY