OJK Ungkap Rahasia Agar Hari Tua Sejahtera

2 months ago  ·  3 min read
By Daniel Rodriguez - dailynesia.com
kepala-departemen-pengawasan-asuransi-dan-jasa-penunjang-otoritas-jasa-keuangan-ojk-sumarjono-saat-menyampaikan-pemaparan-dala-1779534601496_169

OJK Ungkap Rahasia Agar Hari Tua Sejahtera

Dailynesia.com – Dalam rangkaian acara Jogja Financial Festival 2026, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkap hasil pertemuan kritis tentang strategi persiapan dana keuangan untuk masa pensiun. Kegiatan edukasi yang berjudul “Muda Kaya Raya, Tua Sejahtera” diadakan di Jogja Expo Centre (JEC), Bantul, pada hari Sabtu (23/5/2026), dan menjadi ajang diskusi penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya perencanaan keuangan sejak usia muda. Meeting results ini menyoroti peran asuransi sebagai penjaga stabilitas finansial di masa depan, sekaligus memberikan gambaran tentang tantangan dan peluang yang ada.

Persiapan Dana Keuangan yang Tepat

Kepala Departemen Pengawasan Asuransi dan Jasa Penunjang OJK, Sumarjono, dalam sesi edukasi tersebut, memaparkan bahwa keuangan yang siap sejak dini menjadi kunci utama menuju kesejahteraan di masa tua. “Meeting results ini menegaskan bahwa masyarakat perlu mulai merencanakan tabungan dan investasi sejak usia muda, agar tidak terjebak dalam krisis keuangan saat menghadapi pensiun,” jelasnya. Menurut Sumarjono, strategi ini tidak hanya membantu menghadapi risiko kehidupan, seperti kecelakaan, penyakit, atau pengurangan pendapatan, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup di masa tuanya.

“Kalau mau sejahtera nanti di waktu tua, kita harus mempersiapkan, merencanakannya harus dari sekarang,”

tegas Sumarjono, mengingatkan peserta bahwa kebijakan dan pengetahuan keuangan yang baik adalah dasar dari meeting results yang berdampak signifikan. Ia juga menekankan bahwa produk asuransi bukan sekadar alat perlindungan, melainkan bagian integral dari keuangan yang sehat, yang bisa memberikan manfaat jangka panjang bagi kehidupan seseorang.

Miskompetensi dan Tantangan Masyarakat

Data OJK mengungkap bahwa penetrasi asuransi di Indonesia masih rendah, hanya mencapai 2,7% pada tahun 2025. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya, seperti Singapura (13,4%), Malaysia (7,5%), Filipina (4,2%), Thailand (5,6%), dan Vietnam (3,8%). Dalam meeting results yang disampaikan, Sumarjono mengungkap bahwa kesadaran masyarakat tentang pentingnya asuransi masih rendah karena kurangnya pemahaman akan manfaat produk ini. Banyak orang merasa asuransi adalah pengeluaran tambahan yang tidak langsung memberikan keuntungan finansial.

Salah satu penyebab utama adalah kesadaran risiko yang belum cukup terbangun. Generasi muda, meskipun antusias mengikuti edukasi keuangan, masih menghadapi hambatan dalam memahami konsep asuransi dan cara menggunakannya. “Mereka sering bingung antara asuransi dan investasi, sehingga cenderung memilih produk yang lebih sederhana, seperti saham atau reksa dana,” kata Sumarjono. Namun, ia menekankan bahwa asuransi memiliki keunggulan dalam perlindungan risiko yang tidak bisa diabaikan.

Peserta meeting results ini, termasuk para pelajar dan mahasiswa, menyampaikan bahwa mereka merasa kewalahan menghadapi istilah-istilah teknis asuransi. “Kita lebih suka produk yang langsung memberikan penghasilan, seperti saham, daripada asuransi yang terkesan ‘menghabiskan’ uang,” ungkap salah satu peserta. Meski demikian, dalam diskusi, peserta juga menunjukkan minat untuk mempelajari asuransi lebih dalam, terutama jika produk tersebut disesuaikan dengan kebutuhan dan kenyamanan masyarakat.

Strategi Kolaborasi dan Edukasi

Meeting results ini menegaskan pentingnya kerja sama antara OJK, badan keuangan, dan mitra strategis untuk meningkatkan adopsi asuransi. Kehadiran Ketua Bidang Kerja Sama Antar Lembaga, Regulator, Stakeholder Dalam Negeri & Internasional AAJI Handojo G Kusuma, serta Direktur Keuangan Indonesia Financial Group (IFG) Heru Handayanto, menegaskan bahwa kolaborasi lintas sektor adalah solusi kritis. “Dengan meeting results ini, kita bisa menyusun program edukasi yang lebih menarik dan praktis, sehingga masyarakat lebih mudah memahami manfaat asuransi,” ujar Handojo.

OJK berharap melalui inisiatif seperti Jogja Financial Festival, masyarakat bisa lebih terbuka terhadap produk keuangan yang bisa membawa kesejahteraan jangka panjang. “Kami ingin menumbuhkan budaya persiapan keuangan sejak dini, agar tidak ada yang kewalahan saat menghadapi masa tua,” kata Heru Handayanto. Ia menambahkan bahwa OJK akan terus menggali ide-ide baru untuk memperluas pengetahuan tentang keuangan, termasuk memanfaatkan media sosial dan platform digital yang lebih dekat dengan generasi muda.

Kegiatan edukasi juga menjadi momentum untuk meninjau ulang kebijakan OJK dalam mendorong adopsi asuransi. Dalam meeting results, berbagai proposal diperkenalkan, seperti penawaran asuransi dengan premi fleksibel atau produk yang bisa diakses melalui aplikasi mobile. “Kami ingin membuat asuransi lebih mudah dipahami dan diakses, terutama bagi kalangan menengah dan rendah,” lanjut Sumarjono. Ia berharap inisiatif ini bisa meningkatkan minat masyarakat, terutama di usia produktif, agar mereka bisa menikmati kesejahteraan di masa tua.

MORE FROM THIS CATEGORY