Main Agenda: IHSG Ambruk 2,86%, Saham Komoditas Rontok!

3 months ago  ·  2 min read
By David Williams - dailynesia.com
ilutrasi-bursa-cnbc-indonesiamuhammad-sabki-7_169

Ihsg Ambruk 2,86%, Saham Komoditas Rontok!

Dailynesia.com – Pada akhir pekan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di bawah level 7.000 setelah mengalami penurunan. IHSG turun sebanyak 204,92 poin atau 2,86% ke angka 6.969,40, Jumat (8/5/2026). Dalam sesi perdagangan, terdapat 607 saham yang anjlok, 138 saham mengalami kenaikan, dan 214 saham tidak berubah. Nilai transaksi mencapai Rp 36,06 triliun, dengan total 54,38 miliar lembar saham yang diperdagangkan dalam 2,8 juta transaksi.

Kapitalisasi pasar mengalami penurunan signifikan hingga mencapai Rp 12.406 triliun. Menurut Refinitiv, hampir seluruh sektor saham berada di zona merah, terutama utilitas, bahan baku, dan energi yang terpuruk hingga masing-masing -9,34%, -6,76%, dan -5,27%. Saham-saham komoditas seperti batu bara, nikel, dan lainnya tiba-tiba mengalami penurunan tajam pada sesi kedua.

Kebijakan Pajak dan Bea Keluar Menjadi Penyebab Utama

Beberapa saham utama yang memberatkan IHSG meliputi Barito Renewables Energy (BREN) dan Dian Swastatika Sentosa (DSSA), masing-masing kehilangan 20,29 dan 20,28 poin. Penerapan pajak baru untuk sektor batu bara dan nikel, yang sering disebut windfall profit tax, menjadi faktor koreksi dalam pasar komoditas. Kebijakan ini diharapkan dapat mengompensasi subsidi energi yang telah dikeluarkan pemerintah, terutama dalam situasi gejolak harga minyak mentah global akibat konflik di Timur Tengah.

“Penguatan pengawasan, simplifikasi regulasi untuk mengurangi informalitas, penerapan windfall tax secara terukur dan terarah, serta penguatan sinergi pusat dan daerah,” dikutip dari dokumen RKP 2027, Jumat (8/5/2026).

Dalam dokumen RKP 2026, dijelaskan bahwa strategi mengejar target rasio penerimaan negara sebesar 11,82%-12,40% terhadap PDB dilakukan melalui modernisasi administrasi perpajakan dan PNBP. Digitalsasi menjadi elemen kunci untuk menghindari kebocoran dan mencakup seluruh aktivitas ekonomi, termasuk sektor informal. Kebijakan windfall tax disebut sebagai salah satu pendekatan yang dipertimbangkan.

Menurut Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, pemerintah ingin memastikan tambang lama dan baru memberi kontribusi maksimal terhadap pendapatan negara. Pola kerja sama seperti di sektor minyak dan gas bumi (migas), yang memiliki skema cost recovery dan gross split, dianggap bisa menjadi referensi untuk sektor pertambangan mineral dan batu bara (minerba).

Ketegangan Timur Tengah Memicu Pergerakan Pasar Global

Sementara itu, di tingkat internasional, ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas Kamis-Jumat (8/5/2026). Serangan saling tembak dilakukan di Selat Hormuz, sementara itu, serangan udara juga terjadi di langit Teheran. Uni Emirat Arab (UEA) melaporkan serangan drone dan rudal yang memengaruhi sentimen pasar. Pada saat yang sama, pengumuman pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Xi Jinping menyebabkan bursa kawasan Asia masuk zona merah.

Indeks seperti ASX200 turun hingga -1,51%, sedangkan HSI, Taiwan, dan Nikkei masing-masing kehilangan 0,87%, 0,79%, dan 0,19%. Kebijakan perpajakan yang sedang dikaji pemerintah, termasuk sistem bagi hasil seperti migas, bertujuan meningkatkan manfaat sumber daya alam bagi negara dan masyarakat secara lebih optimal.

MORE FROM THIS CATEGORY