Main Agenda: Dolar Rp 17.600/US$, Gubernur BI: Rupiah Masih Stabil

3 months ago  ·  3 min read
By Elizabeth Lopez - dailynesia.com
gubernur-bi-perry-warjiyo-menghadiri-rapat-kerja-komisi-xi-dpr-jakarta-senin-1852026-cnbc-indonesiarobertus-andrianto-serin-1779078408988_169-1

Dolar Rp 17.600/US$, Gubernur BI: Rupiah Masih Stabil

Dailynesia.com – Jakarta, dalam sebuah wawancara pada Senin (18/5/2026), Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyatakan bahwa fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam beberapa hari terakhir masih terjaga kestabilannya. Meskipun rupiah telah mencapai level Rp17.660 per dolar AS, Perry menegaskan bahwa volatilitasnya tetap dalam batas yang stabil, yaitu sekitar 5,4%.

“Menurut data tahun hingga saat ini, volatilitas sebesar 5,4% menunjukkan bahwa rupiah tetap stabil meski melewati level tertentu,” ujarnya dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Jakarta, Senin (18/5/2026).

Perry menjelaskan bahwa BI tidak memantau nilai tukar rupiah terhadap dolar AS secara spesifik pada angka tertentu. Fokus utama BI adalah memastikan pergerakan kurs tetap terkendali dan tidak mengalami perubahan yang signifikan, terutama dalam menghadapi tekanan eksternal dari pasar global.

Dalam menjelaskan ini, Perry menyebutkan bahwa stabilitas nilai tukar rupiah bukan berarti konsistensi pada tingkat tertentu, melainkan ketahanan terhadap fluktuasi yang tidak berlebihan. “Kami lebih memperhatikan pola pergerakan kurs secara rata-rata selama 20 hari terakhir, bukan hanya angka nominal,” tegas Perry.

Sebagaimana diketahui, pelemahan rupiah terhadap dolar AS semakin terasa pada perdagangan hari ini, Senin (18/5/2026). Merujuk data Refinitiv, kurs rupiah pada pukul 10.20 WIB turun 1,15% menjadi Rp17.660/US$, lebih dalam dibandingkan posisi pembukaan pagi hari yang tercatat melemah 0,97% di Rp17.630/US$.

Penguatan dolar AS di pasar internasional terus mengalir, memengaruhi dinamika tukar antar mata uang. DXY, indeks yang mengukur kekuatan dolar AS, pada periode yang sama meningkat 0,07% menjadi 99,353. Fenomena ini menunjukkan bahwa dolar AS tetap menjadi salah satu mata uang utama yang diperdagangkan, menjadikannya sebagai tolak ukur utama dalam alur nilai tukar.

Konteks Stabilitas Rupiah dalam Pasar Global

Kestabilan rupiah yang dijelaskan Perry terjadi di tengah tekanan dari berbagai faktor ekonomi. Sebagai contoh, tren penguatan dolar AS yang terjadi sepanjang tahun 2026 memberi dampak pada pergerakan rupiah. Meski mengalami pelemahan pada hari tersebut, BI tetap berupaya menjaga konsistensi kurs melalui kebijakan moneter yang tepat.

Indeks DXY yang menguat menjelaskan bahwa dolar AS masih menarik minat investor global, terutama di tengah pertumbuhan suku bunga yang diperkirakan oleh Federal Reserve. Hal ini memberi tekanan pada mata uang lain, termasuk rupiah, yang berusaha mempertahankan daya tukar dalam situasi yang dinamis.

Perry menambahkan bahwa BI tidak hanya mengevaluasi pergerakan kurs rupiah secara harian, tetapi juga mempertimbangkan kinerja jangka panjang. “Stabilitas kurs bukan hanya tentang perubahan harian, melainkan kecenderungan rata-rata dalam jangka waktu tertentu,” jelasnya. BI terus memantau kondisi ekonomi domestik serta kondisi pasar global untuk menyesuaikan kebijakan secara proporsional.

Kondisi Pasar dan Faktor Pendukung

Dalam pernyataannya, Perry menekankan bahwa rupiah tetap mengalami perubahan volatilitas yang tidak berlebihan. “Rupiah tidak dalam kondisi kritis, meski ada pelemahan yang terjadi hari ini,” tambahnya. BI berupaya menjaga keseimbangan antara stabilitas kurs dan kebutuhan ekspor serta impor.

Posisi rupiah saat ini juga menunjukkan penurunan dari level penutupan perdagangan pekan lalu, Rabu (13/5/2026), yang sebelumnya ditutup menguat 0,17% ke Rp17.460/US$. Pergerakan ini memperlihatkan bahwa meski terjadi tekanan, BI masih mampu mengontrol dampaknya terhadap stabilitas mata uang lokal.

Analisis pasar menunjukkan bahwa tekanan pada rupiah terutama berasal dari dinamika pasar global dan kebijakan moneter luar negeri. Namun, BI tetap berada di posisi yang strategis untuk mengamankan stabilitas kurs, terlepas dari fluktuasi sementara yang mungkin terjadi.

Perry juga menyebutkan bahwa BI tidak hanya memperhatikan pergerakan kurs, tetapi juga mengamati kondisi perekonomian secara keseluruhan. “Kestabilan kurs rupiah adalah salah satu indikator penting dalam menjaga kinerja ekonomi Indonesia, terutama dalam mendorong pertumbuhan sektor ekspor,” katanya.

Sementara itu, data Refinitiv menunjukkan bahwa rupiah mengalami penurunan signifikan hari ini, Senin (18/5/2026), dibandingkan hari sebelumnya. Rupiah turun 1,15% menjadi Rp17.660/US$, menggambarkan tekanan yang terus berlanjut dari dolar AS. Namun, BI berupaya mengurangi dampak ini melalui intervensi pasar dan kebijakan keuangan yang tepat.

Dengan penurunan tersebut, rupiah semakin menjauh dari posisi sebelumnya, tetapi BI tetap yakin bahwa pergerakannya dalam batas wajar. “Kami memperkirakan bahwa rupiah akan stabil dalam jangka pendek, asalkan kondisi pasar global tidak mengalami perubahan drastis,” jelas Perry. Hal ini memberikan kepastian bagi investor dan masyarakat dalam menghadapi pergerakan tukar mata uang yang sedang berlangsung.

MORE FROM THIS CATEGORY