Program Terbaru: Video Pengusaha: Kekuatan Rupiah Lawan Dolar AS “Tak Baik-baik Saja”
Pasar Modal RI Mengalami Penurunan, Rupiah Melemah di Rp17.500 per Dolar AS
Dailynesia.com – Dalam Latest Program edisi Rabu, 13 Mei 2026, Jakarta – Situasi pasar modal Indonesia terus memperlihatkan keterpurukan akibat berbagai faktor eksternal dan internal. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat menyentuh level 6.700, sementara nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS bergerak turun ke Rp17.500 per dolar. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan pengusaha akan stabilitas ekonomi nasional.
Analisis Ekonomi dan Faktor Penyebab Pelemahan Rupiah
“Kekuatan Rupiah lawan Dolar AS dalam Latest Program hari ini masih terlihat kurang optimal,” kata Ajib Hamdani, Analis Kebijakan Ekonomi Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO). Menurutnya, tekanan pada mata uang lokal terjadi karena sentimen eksternal yang dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah, serta faktor internal seperti kebijakan fiskal pemerintah yang dinilai terlalu agresif sejak awal tahun 2026.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang masih berlangsung menjadi salah satu penyebab utama ketidakstabilan pasar keuangan. Sejumlah ahli menyatakan bahwa konflik ini berpotensi memperparah tekanan inflasi dan meningkatkan biaya impor, yang berdampak langsung pada nilai Rupiah. Yusuf Rendy Manilet, ekonom Center of Reform on Economics (CORE), menambahkan bahwa meski pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,61% pada kuartal pertama 2026, perang antara Iran dan AS bisa mengubah momentum tersebut.
Strategi untuk Memperkuat Stabilitas Mata Uang Nasional
“Perlu strategi yang lebih efektif agar Latest Program ini dapat memperkuat daya tahan Rupiah,” ujar Yusuf Rendy Manilet. Ia menyoroti pentingnya kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) yang konsisten dan penyesuaian cadangan devisa untuk mengatasi tekanan eksternal. Selain itu, kontrol atas defisit neraca perdagangan dan inflasi juga menjadi fokus utama para ekonom.
Menurut Ajib Hamdani, kinerja Rupiah saat ini menunjukkan kecenderungan melemah karena kurangnya aliran investasi asing ke pasar modal dalam negeri. “Faktor eksternal seperti perang dagang atau krisis di Eropa juga memengaruhi dinamika mata uang,” tambahnya. Ia menekankan bahwa keberhasilan Latest Program dalam memperkuat Rupiah bergantung pada kolaborasi antara pemerintah, BI, dan sektor swasta dalam menciptakan lingkungan ekonomi yang lebih menarik bagi investor.
Di sisi lain, beberapa pengusaha menilai bahwa pelemahan Rupiah berpotensi meningkatkan beban biaya operasional perusahaan, terutama bagi sektor yang mengandalkan impor. “Kami mengkhawatirkan efek domino dari pelemahan nilai tukar ini,” ujar salah satu pengusaha yang diwawancarai dalam Latest Program. Meski demikian, beberapa pihak optimis bahwa kebijakan fiskal yang lebih bijak dan peningkatan daya tarik pasar domestik bisa menjadi solusi jangka panjang.
Kondisi Ekonomi Global dan Dampaknya pada Rupiah
Ketegangan geopolitik dan ketidakpastian di pasar global terus memengaruhi kondisi ekonomi Indonesia. Ajib Hamdani menjelaskan bahwa fluktuasi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS sering kali terjadi karena ketergantungan pada aliran modal asing. “Maka dari itu, Latest Program hari ini menekankan pentingnya kebijakan yang bisa menarik investasi jangka panjang, bukan hanya untuk jangka pendek,” katanya.
Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa pelemahan Rupiah juga berdampak pada daya beli masyarakat. Peningkatan harga kebutuhan pokok akibat kurs yang melemah bisa menyebabkan inflasi yang lebih tinggi. Yusuf Rendy Manilet menegaskan bahwa keberhasilan Latest Program dalam mengatasi tekanan ini akan menjadi ujian bagi stabilitas ekonomi Indonesia dalam menghadapi tantangan global.
Dalam dialog di Latest Program, para ahli sepakat bahwa pemerintah perlu mengevaluasi kebijakan fiskal untuk memastikan tidak ada kenaikan belanja pemerintah yang berlebihan. Kombinasi antara kebijakan moneter BI dan kebijakan fiskal pemerintah diharapkan bisa mengurangi tekanan pada Rupiah. Selain itu, penguatan ekspor dan pengendalian impor menjadi langkah penting untuk memperkuat nilai tukar mata uang nasional.
Perkembangan Pasar Modal dan Tantangan Masa Depan
Di Latest Program yang dipandu oleh Shafinaz Nachiar, para ekonom juga menyoroti perubahan tren pasar modal akibat percepatan digitalisasi. “Kebijakan moneter yang adaptif bisa menjadi penyelamat bagi Rupiah,” kata Ajib Hamdani. Ia menambahkan bahwa beberapa sektor seperti teknologi dan keuangan perlu berperan aktif dalam menciptakan pasar yang lebih stabil dan menarik bagi investor.
Yusuf Rendy Manilet menekankan bahwa Latest Program ini memberi sinyal penting bagi pemerintah untuk melakukan pengaturan lebih tepat dalam menangani inflasi dan kebijakan fiskal. “Kami yakin dengan langkah-langkah yang tepat, Rupiah bisa kembali menguat dalam beberapa bulan ke depan,” ujarnya. Namun, kondisi eksternal yang tidak pasti tetap menjadi faktor risiko yang perlu diwaspadai.
Terlepas dari tantangan, Latest Program pada edisi ini mengingatkan pentingnya konsistensi kebijakan ekonomi dan komunikasi yang jelas dari pihak pemerintah. Dengan menggabungkan upaya stabilisasi dari BI, pengusaha, dan pemerintah, diperkirakan ada potensi peningkatan kembali nilai Rupiah di kuartal kedua 2026. Selengkapnya, simak wawancara eksklusif dalam Latest Program yang tayang di CNBC Indonesia.

