Latest Program: Saham JELI dan BACH Mengalami Penurunan Tren, Ada Apa dengan Kedua Emiten Ini?
Dailynesia.com – Menghadirkan situasi menarik di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat (10/7/2026), di mana dua emiten baru, PT Niramas Utama Tbk (JELI) dan PT Bach Multi Global Tbk (BACH), mengalami tekanan jual yang signifikan. Saham JELI turun hingga 14,81% ke Rp1.495 per saham, menyentuh batas Auto Rejection Bawah (ARB), sementara BACH juga mengalami penurunan sekitar 10% ke Rp500 per saham. Fenomena ini menggambarkan perubahan sentimen pasar yang terjadi pasca-kebijakan terkini yang memengaruhi investor dan persepsi terhadap dua saham yang baru masuk ke pasar modal.
Analisis Penawaran Saham JELI
PT Niramas Utama Tbk (JELI) resmi terdaftar di bursa pada 7 Juli 2026 dengan harga IPO Rp900 per saham. Perusahaan ini melepas 266 juta lembar saham atau 21,01% dari modal, dengan total dana yang terhimpun mencapai Rp239,4 miliar. PT Sucor Sekuritas menjadi penjamin pelaksana emisi efek dalam proses ini. Meski dibuka dengan harapan positif, harga saham JELI hari ini mengalami penurunan tajam, yang memicu pertanyaan mengenai kinerja finansial dan potensi pertumbuhan perusahaan.
Ada Apa dengan Saham JELI?
Analisis proyeksi keuangan dalam propektus menunjukkan aliran kas operasional JELI mengalami penurunan signifikan hingga 83% pada tahun 2025. Lonjakan piutang usaha dari Rp104,21 miliar menjadi Rp174,13 miliar akibat strategi penjualan kredit menjelang akhir tahun menjadi faktor utama. Risiko kualitas laba yang belum berubah menjadi kas juga mengemuka dalam proyeksi keuangan perusahaan. Dari segi rasio harga terhadap laba (PER), JELI mencapai kisaran 31-39 kali, jauh di atas rata-rata sektor makanan dan minuman yang sekitar 12-18 kali.
Pendapatan JELI juga menurun selama tiga tahun terakhir, dari Rp838,94 miliar pada 2023 menjadi Rp753,05 miliar pada 2025. Meski laba bersih meningkat hingga 235,5% dibanding tahun sebelumnya, peningkatan ini dianggap lebih berasal dari efisiensi operasional dan perbaikan marjin, bukan dari peningkatan volume penjualan. Dengan kondisi ini, investor perlu lebih kritis dalam mengevaluasi potensi saham JELI di pasar modal.
Kinerja Saham BACH
PT Bach Multi Global Tbk (BACH) terdaftar di bursa pada 8 Juli 2026 dengan harga final Rp442 per saham. Harga ini diambil dari rentang bookbuilding yang berada di Rp400-Rp500, dengan total saham yang dilepas sebanyak 615 juta lembar atau 15,06% dari modal, serta free float yang relatif tipis. PT Erdikha Elit Sekuritas dan PT Pilarmas Investindo Sekuritas menjadi penjamin pelaksana emisi efek.
Ada Apa dengan BACH?
Penurunan saham BACH hari ini didukung oleh data broker yang menunjukkan satu broker tercatat sebagai net seller senilai sekitar Rp117,4 miliar. Angka ini menandakan adanya kekhawatiran investor terhadap valuasi saham yang tinggi dan potensi risiko ketidakstabilan. Sebagai bagian dari Grup Djarum, BACH bergerak di sektor genset dan infrastruktur telekomunikasi, tetapi kinerjanya yang menurun di hari perdagangan pertama menimbulkan keraguan tentang daya tahan bisnis jangka panjang.
Perusahaan ini juga menghadapi tantangan dalam membangun momentum pertumbuhan. Meski IPO menarik perhatian, kinerja awal yang tidak optimal memicu pertanyaan tentang strategi bisnis dan prospek perusahaan. Dengan penurunan harga, investor harus mempertimbangkan apakah saham BACH tetap layak dipertahankan dalam portofolio investasi mereka.
Perbandingan dan Proyeksi Pasar
Dalam Latest Program, JELI dan BACH menjadi sorotan karena kinerja yang berbeda dari dua emiten baru lainnya. JELI, yang bergerak di sektor makanan dan minuman, menunjukkan penurunan yang lebih tajam dibanding BACH, yang bergerak di bidang genset dan infrastruktur telekomunikasi. Namun, kedua saham ini tetap menarik perhatian karena potensi keuntungan jangka panjang dan strategi bisnis yang berbeda.
Kondisi pasar saat ini menunjukkan kecemasan investor terhadap beberapa sektor. IHSG bergerak tenang di zona hijau, tetapi fluktuasi saham JELI dan BACH menjadi indikator perubahan sentiment. Dengan valuasi yang tinggi, pendapatan yang menyusut, dan arus kas operasional yang lambat, investor perlu lebih waspada dalam memilih saham yang layak untuk pembelian. Penurunan harga pada hari perdagangan pertama bisa menjadi sinyal awal tentang keberlanjutan perusahaan di pasar.
Latest Program juga menyoroti pentingnya transparansi informasi keuangan dalam prospektus emiten. Kedua perusahaan ini memberikan data yang cukup lengkap, tetapi tetap perlu dikaji lebih lanjut untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan IPO akan berdampak pada nilai saham mereka di masa depan. Dengan dinamika pasar yang terus berubah, investor harus terus memantau perkembangan terkini dari JELI dan BACH untuk membuat keputusan yang lebih tepat.

