Imbas MSCI, Harta Prajogo Lenyap Rp 69 Triliun di Hari Ulang Tahun

3 months ago  ·  2 min read
By Linda Davis - dailynesia.com
dulu-sopir-angkot-lulusan-smp-prajogo-kini-orang-terkaya-ri_169

Imbas MSCI, Harta Prajogo Lenyap Rp 69 Triliun di Hari Ulang Tahun

Dailynesia.com – Dalam sebuah important visit yang diharapkan memberi dampak positif, kekayaan tokoh bisnis terkaya Indonesia, Prajogo Pangestu, mengalami penurunan signifikan setelah saham-saham yang dimilikinya turun tajam pada perdagangan hari ini, Rabu (13/5/2026), di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pada hari ulang tahun ke-84 Prajogo, yang lahir di Kalimantan Barat pada 13 Mei 1944, kerugian total mencapai Rp 69 triliun akibat keputusan MSCI yang mengeluarkan saham Grup Barito dari indeks globalnya.

Kebuntuan MSCI dan Kinerja IHSG

Kebuntuan dalam pengambilan keputusan MSCI terjadi di tengah keterpurukan pasar saham yang menimpa sejumlah emiten besar. Pada hari ini, delisting tiga saham milik Prajogo—Barito Renewables Energy (BREN), Chandra Daya Investasi (CDIA), dan Petrosea (PTRO)—mengakibatkan kerugian total sebesar Rp 69 triliun. Penurunan nilai saham ini memengaruhi indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang merosot hampir 2% dan mengurangi kapitalisasi pasar BEI ke level 6.700-an.

Dari enam saham yang terafiliasinya, saham Barito Pacific (BRPT) mengalami penurunan terbesar, dengan kepemilikan langsung Prajogo mencapai 71,37% dan kerugian mencapai Rp 13,38 triliun. Sementara itu, Chandra Asri Pacific (TPIA) mencatat kerugian Rp 19,29 triliun, di mana Prajogo memiliki 5,03% kepemilikan langsung dan 34,63% melalui BRPT. Kerugian pada saham PTRO dan CDIA masing-masing sebesar Rp 1,31 triliun serta Rp 1,11 triliun, menambah beban yang dirasakan investor.

Kerugian Pasar dan Kurs Rupiah

Kecoaan saham-saham milik Prajogo menjadi salah satu faktor utama yang membebani kinerja pasar saham hari ini. Total kerugian dari enam saham tersebut menyebabkan kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia berkurang sebesar Rp 159 triliun. Situasi ini memperkuat tekanan terhadap rupiah, yang turun terhadap mata uang asing akibat ketidakpastian investasi.

Dalam rangkaian important visit oleh para pemain utama pasar keuangan, keputusan MSCI menimbulkan rasa khawatir mengenai stabilitas ekosistem investasi Indonesia. Keputusan ini memicu reaksi cepat dari investor, terutama yang memegang saham-saham sektor energi dan infrastruktur. Penurunan tajam nilai aset Prajogo menjadi contoh nyata bagaimana keputusan lembaga global dapat mengubah dinamika pasar dalam waktu singkat.

Analisis Kekayaan dan Dampak Jangka Panjang

Dari data Forbes Realtime Billionaire, harta kekayaan Prajogo tercatat dalam trajektori penurunan yang signifikan. Sebelumnya, pada Mei 2024, kekayaannya sempat mencapai US$ 70 miliar atau setara Rp 1.200 triliun (asumsi kurs Rp 17.400/US$). Namun kini, nilai kekayaannya hanya US$ 18,7 miliar (Rp 325 triliun), atau menghilap sebesar Rp 875 triliun dalam dua tahun.

Kerugian yang dialami Prajogo tidak hanya mengguncang bisnis individu, tetapi juga memengaruhi kepercayaan pasar terhadap sektor yang dijalankannya. Para analis menyebutkan bahwa keputusan MSCI merupakan tantangan besar, namun juga bisa menjadi momentum untuk restrukturisasi strategi investasi. Important visit dari investor asing atau pemain lokal mungkin akan menjadi penentu keberlanjutan bisnis ini.

Menurut data Forbes Realtime Billionaire, penurunan harta kekayaan Prajogo menunjukkan bagaimana volatilitas pasar bisa memengaruhi kekayaan miliarder. Meski delisting MSCI terjadi secara mendadak, dampaknya terasa secara langsung pada portofolio saham yang diperdagangkan di Indonesia. Saat ini, penurunan nilai aset Prajogo menjadi perhatian publik dan investor, terutama dalam konteks important visit ke pasar keuangan global.

MORE FROM THIS CATEGORY