Eksportir Ikan Hadapi Tantangan BBM Naik
Dailynesia.com – Industri eksportir ikan di Indonesia tengah menghadapi tantangan berat akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang melonjak. Meski PT Dharma Samudera Fishing Industries Tbk (DSFI) mencatatkan laba bersih sebesar Rp 4,3 miliar pada Kuartal I-2026, kenaikan biaya operasional terus menjadi beban berat bagi para pelaku usaha. Pertumbuhan penjualan yang positif tidak cukup mengimbangi peningkatan pengeluaran logistik, yang mencapai 10-30% dalam beberapa bulan terakhir. Tantangan ini semakin terasa karena BBM menjadi komponen utama dalam rantai pasokan ikan dan hasil laut.
Upaya Mitigasi Dengan Efisiensi Operasional
Menghadapi tantangan meningkatnya BBM, DSFI berupaya mengoptimalkan kapasitas pengiriman per kontainer untuk mengurangi biaya produksi per kilogram. Strategi ini mencakup penyempurnaan proses pengemasan dan pengurangan waktu transportasi. Selain itu, perusahaan memilih mitra pengiriman yang menawarkan tarif kompetitif, meskipun tantangan ini masih memerlukan adaptasi terus-menerus. Dalam wawancara dengan Squawk Box, CNBC Indonesia, Ewijaya, Presiden Direktur DSFI, menekankan bahwa upaya efisiensi ini menjadi kunci untuk bertahan dalam kondisi pasar yang tidak stabil.
Kenaikan Biaya Bahan Baku Menekan Profitabilitas
Kenaikan harga BBM tidak hanya memengaruhi biaya logistik, tetapi juga menekan profitabilitas nelayan dan pengolah ikan. Harga bahan bakar yang meningkat mengakibatkan kenaikan biaya produksi ikan mentah, yang kemudian dialihkan ke harga jual ekspor. Menurut analis pasar, dampaknya bisa mencapai 15-25% dari total biaya produksi, terutama untuk produk-produk yang rentan terhadap perubahan harga. Ewijaya mengungkapkan bahwa industri perikanan harus menyesuaikan strategi pemasaran untuk mempertahankan daya saing di pasar internasional.
Perang di Timur Tengah, yang telah berlangsung beberapa bulan, semakin memperparah situasi. Kenaikan harga minyak global berdampak langsung pada biaya bahan bakar perusahaan, termasuk perusahaan-perusahaan yang mengandalkan ekspor. Sebagai contoh, industri pengolahan ikan harus menghadapi kenaikan biaya transportasi laut, yang merupakan jalur utama untuk ekspor. Meski demikian, Ewijaya yakin kebutuhan pasar ekspor masih tinggi, terutama dari negara-negara yang mengalami inflasi akibat krisis energi.
Di sisi lain, kenaikan BBM juga menggerus keuntungan nelayan yang mengandalkan penggunaan kapal kecil. Berdasarkan laporan dari Asosiasi Perikanan Indonesia, biaya bahan baku ikan dan udang meningkat sekitar 18% dalam tiga bulan terakhir, yang berdampak pada harga ekspor. Tantangan ini memaksa pelaku usaha untuk mencari solusi seperti memperpanjang kontrak dengan pemasok atau mengadopsi teknologi penghematan energi. Dengan menghadapi tantangan ini, industri perikanan berharap bisa mempertahankan keuntungan sekaligus memenuhi permintaan pasar.
“Kenaikan BBM menambah tekanan pada industri perikanan, terutama bagi perusahaan yang beroperasi di sektor ekspor. Kami terus memantau perubahan harga dan menyesuaikan strategi untuk menjaga kinerja,” kata Ewijaya. Dia juga menambahkan bahwa kenaikan biaya operasional ini menjadi bagian dari tantangan yang harus diatasi oleh pelaku usaha di tengah situasi global yang tidak pasti.
Menurut pakar ekonomi, kenaikan BBM menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi laba bersih perusahaan-perusahaan eksportir ikan. Jika kondisi ini tidak segera diperbaiki, ada risiko terhadap pertumbuhan industri hasil laut di tahun 2026. Di sisi lain, pemerintah diharapkan bisa memberikan insentif untuk menekan beban operasional perusahaan. Menghadapi tantangan BBM, para eksportir ikan membutuhkan dukungan kebijakan yang lebih tepat untuk memastikan kelangsungan usaha mereka.

