Ekonom Asing Ramal Dolar AS Bisa Tembus Rp18.600

16 hours ago  ·  3 min read
By Sandra Taylor
b12facc5-267f-4817-b40c-6354326ee7d1-0

Ekonom Asing Ramal Dolar AS Bisa Tembus Rp18.600

Ekonom Asing Ramal Dolar AS Bisa – Dolar AS semakin diperkirakan akan menembus level Rp18.600 terhadap rupiah oleh para ahli ekonomi internasional. Kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) telah mencapai titik terendah sepanjang sejarah, yaitu Rp18.000, dalam perdagangan hari Kamis (4/6/2026). Berdasarkan data yang dihimpun oleh Refinitiv, pada pukul 09.11 WIB, nilai tukar rupiah meluncur ke Rp18.015/US$ dengan penurunan 0,42% dibandingkan hari sebelumnya. Fenomena ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor terkait volatilitas mata uang Garuda yang semakin tinggi. Proyeksi ekonom asing tentang dolar AS bisa tembus Rp18.600 tidak hanya terjadi karena kebijakan moneter global, tetapi juga akibat faktor-faktor ekonomi makro yang sedang berkembang.

Faktor Penyebab Penurunan Rupiah

Kondisi ekonomi Indonesia dalam beberapa bulan terakhir menjadi sorotan para ekonom asing. Salah satu analisis menunjukkan bahwa penurunan nilai tukar rupiah melebihi 100 basis poin dalam satu hari dianggap tidak normal, menurut Kay Hian Surya Wijaksana dari UOB.

“Ketidakstabilan kepercayaan publik mengakibatkan tekanan terhadap rupiah, meskipun kinerja ekonomi riil dinilai cukup baik. Efek dari hal ini akan terasa dalam waktu dekat,” ujarnya.

Selain itu, kondisi yield curve terbalik yang terjadi di pasar global turut memengaruhi dinamika kurs. Pasar menilai bahwa yield SBN jangka panjang Indonesia masih terlalu rendah dibandingkan dolar AS, yang membuat investor lebih tertarik untuk berinvestasi di mata uang asing.

Proyeksi untuk Akhir Tahun

Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) menjadi faktor penting dalam memengaruhi kurs rupiah. BI telah menaikkan BI Rate hingga 50 basis poin, yang diharapkan mampu menopang nilai tukar mata uang domestik. Namun, proyeksi dari ekonom asing tentang dolar AS bisa tembus Rp18.600 menunjukkan bahwa tekanan dari luar masih sangat kuat. Dalam jangka pendek, Surya memperkirakan rupiah akan bergerak pada rentang Rp18.000–Rp18.200 per dolar AS. Proyeksi ini didasarkan pada tren pasar yang memperlihatkan tekanan terhadap rupiah akibat ekonomi global yang tidak stabil.

Analisis lebih lanjut mengungkap bahwa kebijakan moneter global, khususnya kebijakan suku bunga yang lebih ketat, menjadi sentimen utama. Para ekonom menilai bahwa BI Rate yang dinaikkan tidak cukup untuk mengimbangi inflasi yang sedang meningkat. Selain itu, sentimen pasar terhadap ekonomi Indonesia terkait defisit neraca perdagangan dan risiko perekonomian global juga memperparah tekanan terhadap rupiah. Kurs yang terus menurun memicu para pemain pasar untuk berpindah dari rupiah ke dolar AS sebagai aset yang lebih aman.

Dampak dari Rating S&P Global

Peringkat kredit Indonesia yang diberikan oleh S&P Global tidak sepenuhnya menjadi penyebab utama penurunan kurs rupiah. Menurut Surya, dampak dari peringkat tersebut lebih bersifat jangka panjang dibandingkan tekanan langsung dari yield curve terbalik.

“Meski peringkat S&P Global tetap stabil, pengaruhnya tidak sebesar efek depresiasi dolar AS yang terjadi secara cepat. Faktor utama adalah ketidakseimbangan antara inflasi dan suku bunga acuan,” katanya.

Namun, peringkat tersebut tetap menjadi indikator penting yang menunjukkan kinerja perekonomian Indonesia. Jika peringkat turun, hal ini bisa memperkuat prediksi ekonom asing bahwa dolar AS bisa tembus Rp18.600 dalam waktu dekat.

Kebijakan moneter global, khususnya kebijakan suku bunga yang diterapkan oleh bank sentral seperti Federal Reserve, juga menjadi perhatian utama. Para ekonom menilai bahwa kebijakan hawkish yang dianut oleh beberapa bank sentral dunia memicu aliran modal ke luar negeri, terutama ke dolar AS. Dengan pertumbuhan ekonomi global yang melambat dan inflasi yang tinggi, dolar AS terus menjadi pilihan utama untuk investasi aset aman. Proyeksi bahwa dolar AS bisa tembus Rp18.600 memperkuat kecenderungan ini, terutama jika kebijakan moneter Indonesia tidak mampu menyesuaikan diri dengan kondisi pasar global yang dinamis.

MORE FROM THIS CATEGORY