Ucapan Mengejutkan Wamenperin-2 Pengusaha Soal Rupiah & Pertamax Naik

2 months ago  ·  3 min read
By Linda Miller - dailynesia.com
97a14ad3-b076-4664-96fb-6d42dbb42da1-0

Meeting Results: Wamenperin dan Pengusaha Bicara Penguatan Rupiah & Kenaikan Harga Pertamax

Dailynesia.com – Kembali menjadi sorotan dalam pertemuan terkini yang membahas dinamika nilai tukar rupiah dan kenaikan harga Pertamax. Dalam diskusi terbaru, Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza serta dua pengusaha mengungkap pernyataan penting mengenai peluang sektor ekonomi dan dampak kenaikan biaya bahan bakar. Pertamina, sebagai pengelola bahan bakar minyak, telah menyesuaikan harga Pertamax (RON 92) menjadi Rp16.250 per liter, menandai peningkatan harga sebesar Rp3.950 per liter sejak 1 Juni 2026.

Kenaikan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus berlanjut, dengan Refinitiv mencatatkan kurs rupiah menguat sebesar 0,42% pada perdagangan Jumat (12/6/2026), mencapai Rp17.900 per dolar. Perubahan ini menunjukkan perbaikan setelah rupiah sempat turun ke level terendah sepanjang masa, yaitu Rp18.170 per dolar pada Senin, 8 Juni 2026. Penguatan rupiah dalam meeting results ini dilihat sebagai indikasi kebijakan moneter yang stabil, serta optimisme pasar terhadap perekonomian nasional.

Wamenperin: Kenaikan Rupiah Memberi Peluang untuk Sektor Strategis

Dalam meeting results, Wamenperin Faisol Riza menjelaskan bahwa penguatan rupiah menjadi momentum bagi sejumlah industri yang memiliki dasar ekonomi kuat. “Meskipun ada tekanan dari pergerakan pasar global, pemerintah memastikan bahwa sektor domestik tetap didukung melalui kebijakan yang tepat. Kenaikan kurs rupiah juga memberi peluang bagi sektor pertanian, manufaktur, dan teknologi yang relatif tahan terhadap fluktuasi eksternal,” ujarnya.

“Pada masa ini, perusahaan lokal yang telah mengoptimalkan produksi dan efisiensi biaya justru bisa memanfaatkan pergerakan kurs rupiah sebagai keuntungan. Dengan stabilitas mata uang, daya beli masyarakat tetap terjaga, sehingga konsumsi dalam negeri tidak terganggu,” tambah Riza.

Menurut Riza, pemerintah juga memperkuat pengawasan atas impor untuk menjaga persaingan pasar. “Dalam meeting results, kita melihat bahwa penggunaan bea cukai sebagai penghalang efektif terhadap barang ilegal dan impor yang tidak bermutu menjadi strategi penting. Ini bertujuan melindungi industri dalam negeri sekaligus mendorong kemandirian ekonomi,” katanya.

Pengusaha: Kenaikan Harga Pertamax Terkendali, Fokus pada Kondisi Pasar

Ketua Umum Ikatan Pengusaha Konveksi Berkarya (IPKB), Nandi Herdiaman, menilai kenaikan harga Pertamax tidak secara signifikan mengganggu operasional perusahaan. “Pertamina telah melakukan penyesuaian harga yang terukur, dan dampaknya terkait dengan perubahan permintaan pasar. Selama daya beli masyarakat stabil, kenaikan harga BBM tidak menjadi hambatan besar bagi industri konveksi,” ujarnya.

“Dalam meeting results, kita juga melihat bahwa kebijakan harga bahan bakar perlu diimbangi dengan pengawasan terhadap inflasi. Meski ada tekanan, kita masih optimis dengan prospek ekspor yang mengalami peningkatan seiring penguatan rupiah. Ini bisa mendorong pertumbuhan sektor ekspor hingga 100 ribu tenaga kerja baru pada 2027,” tambah Nandi.

Direktur Keuangan PT Superior Prima Sukses (BLES), Andrew, menambahkan bahwa kenaikan harga Pertamax berdampak kecil terhadap operasional industri bangunan. “Biaya energi memang menjadi komponen penting, tetapi perusahaan sudah terbiasa mengatur alokasi anggaran. Kita juga terus berupaya untuk menyesuaikan harga jual produk agar tetap kompetitif,” katanya.

Perspektif Ekonomi Global dalam Meeting Results

Dalam meeting results, para peserta pertemuan juga menyoroti kondisi ekonomi global yang berdampak pada pasar keuangan. “Penguatan rupiah beriringan dengan kenaikan harga Pertamax mencerminkan keseimbangan antara kebijakan domestik dan tekanan eksternal,” jelas Riza. Ia menekankan bahwa pemerintah sedang memperketat pengawasan terhadap inflasi, terutama melalui penyesuaian harga BBM yang menjadi indikator kritis bagi kesejahteraan masyarakat.

“Kita perlu memperhatikan ekspor dan impor sebagai dua sisi yang saling terkait. Penguatan rupiah memudahkan ekspor, tetapi kenaikan harga Pertamax bisa menambah beban pengeluaran masyarakat. Jadi, dalam meeting results, kita terus mengawasi keduanya agar tetap seimbang,” kata Riza.

Menurut Nandi, kenaikan harga Pertamax juga menjadi refleksi dari dinamika global. “Meski harga BBM naik, konsumen tetap mampu beradaptasi jika kebijakan subsidi dan pengawasan harga terus ditegakkan. Meeting results menunjukkan bahwa perusahaan dan pemerintah perlu bekerja sama untuk menjaga kesejahteraan bersama,” ujarnya.

MORE FROM THIS CATEGORY