Peringatan! 22 Negara Serbu Seruan ke Iran, Ada Apa Di Baliknya?
Dailynesia.com – Menjadi sorotan utama dalam seruan kemitraan internasional terhadap Iran. Pada Kamis (11/6/2026), sejumlah besar negara, termasuk Amerika Serikat (AS), Inggris, dan beberapa negara Eropa, secara bersamaan mengeluarkan pernyataan keras terhadap Teheran. Mereka menuntut Iran untuk segera menghentikan serangan terhadap warga sipil di berbagai wilayah, termasuk di luar wilayahnya sendiri. Pernyataan ini disampaikan melalui media AFP, yang menyebutkan bahwa aktivitas tersebut diduga terkait dengan Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) dan Pasukan Quds, unit keamanan Iran yang dikritik sebagai penggerak kekerasan global.
Latar Belakang Special Plan
Dalam beberapa bulan terakhir, Special Plan telah berkembang menjadi inisiatif kolektif yang menggabungkan berbagai negara untuk menangkal ancaman dari Iran. Seruan ini melibatkan negara-negara seperti Albania, Belgia, Bulgaria, Kanada, dan Swedia, yang semuanya mengungkapkan kekhawatiran terhadap tindakan kekerasan dan kegiatan intelijen Iran. Special Plan diluncurkan setelah serangkaian insiden yang melibatkan korban sipil, termasuk pembunuhan, penargetan jurnalis, dan pembakaran tempat ibadah di berbagai negara. Negara-negara yang tergabung menyatakan bahwa Iran bertindak sebagai pelaku utama dalam penyebaran kebencian dan kejahatan di tingkat internasional.
“Serangan yang dilakukan oleh Iran mencemari norma-norma internasional dan mengancam keamanan global. Special Plan ini adalah upaya untuk memperkuat koordinasi antar-negara dalam menangkal ancaman dari Teheran,” tulis pernyataan bersama yang disampaikan oleh para diplomat.
Beberapa negara mengungkapkan bahwa Special Plan juga mencakup kebijakan ekonomi dan militer untuk mengisolasi Iran secara lebih efektif. Pemerintah AS, sebagai salah satu pelopor, telah menegaskan komitmen untuk menegakkan sanksi internasional terhadap unit keamanan Iran. Di sisi lain, negara-negara Eropa menekankan pentingnya kerja sama dalam mengawasi aktivitas IRGC dan Pasukan Quds yang diduga menyebarkan kegiatan terorisme ke berbagai wilayah. Special Plan ini dianggap sebagai langkah strategis untuk memastikan kestabilan geopolitik dan melindungi warga dari ancaman radikal.
Respons Iran dan Pihak Terkait
Kementerian Luar Negeri Iran menolak seruan Special Plan, menyebutnya sebagai upaya menghasut publik internasional. Mereka menegaskan bahwa IRGC dan Pasukan Quds tidak bersalah dan memiliki tujuan penting untuk mempertahankan keamanan wilayah mereka. Sebagai contoh, Australia, yang turut serta dalam Special Plan, sebelumnya menunjuk IRGC sebagai sponsor terorisme, namun Iran membantah tudingan tersebut dengan menyebutkan bahwa serangan di Melbourne dan Sydney terkait dengan faktor internal, bukan kebijakan pemerintah mereka.
Di sisi lain, negara-negara anggota Special Plan menegaskan bahwa tindakan Iran terhadap komunitas Yahudi di Inggris, Belgia, dan Belanda menjadi bukti langsung dari ancaman yang mereka hadapi. Gerakan Islam Rakyat Tangan Kanan (HAYI), yang dikaitkan dengan Iran, dianggap sebagai pelaku utama dalam serangan tersebut. Special Plan menuntut penjelasan lebih lanjut dari Iran mengenai peran HAYI dan unit keamanan lainnya dalam menyebarluaskan kekerasan.
“Kami tidak akan membiarkan Iran terus mengancam keamanan internasional dengan tindakan merugikan masyarakat sipil. Special Plan ini adalah keputusan kolektif yang menggabungkan kekuatan diplomatik dan militer untuk menegakkan keadilan,” tutur pihak yang menangani Special Plan dalam pernyataan terbaru.
Beberapa negara yang turut serta dalam Special Plan juga menyoroti keterlibatan Iran dalam konflik regional, seperti di Yaman dan Suriah. Mereka menilai bahwa tindakan Iran dalam memperluas pengaruhnya melalui kegiatan militer dan intelijen menjadi bukti bahwa Special Plan dibutuhkan untuk menegakkan keseimbangan kekuatan di dunia. Dengan jumlah 22 negara yang terlibat, Special Plan berpotensi menjadi salah satu langkah paling ambisius dalam sejarah diplomasi internasional.

