Angka Kelahiran Turun, Populasi Negara Juara Ini Terancam Menyusut

2 months ago  ·  2 min read
By Sandra Taylor - dailynesia.com
orang-orang-mengunjungi-gerbang-india-di-new-delhi-setiap-pagi-dan-sore-dan-selama-beberapa-jam-di-antara-puluhan-juta-orang-i_169

New Policy dan Penurunan Angka Kelahiran Ancam Populasi Negara Ini

Dailynesia.com – Perubahan demografi di India terus terjadi, dengan angka kelahiran yang menurun karena kebijakan baru yang diterapkan pemerintah. Laporan terbaru menunjukkan bahwa tingkat kesuburan total (TFR) telah mencapai 1,9 anak per perempuan pada akhir 2026, lebih rendah dari ambang penggantian populasi sebesar 2,1. Hal ini memicu kekhawatiran bahwa populasi negara ini berpotensi menyusut dalam beberapa dekade mendatang, meski masih menjadi negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia sekitar 1,5 miliar jiwa.

Peran Kebijakan Baru dalam Mengubah Struktur Keluarga

Kebijakan baru yang diterapkan pemerintah India secara tidak langsung memengaruhi keputusan keluarga. Menurut ekonom pembangunan Dipa Sinha, program pengendalian penduduk selama beberapa dekade, termasuk kebijakan baru ini, telah berkontribusi pada penurunan angka kelahiran. Ia menekankan bahwa akses pendidikan perempuan, biaya hidup yang meningkat, serta penggunaan alat kontrasepsi menjadi faktor utama dalam kebijakan tersebut.

Keberhasilan kebijakan baru dalam mengurangi jumlah kelahiran menunjukkan pergeseran pola hidup masyarakat, dimana keluarga lebih memilih beranak sedikit untuk fokus pada kualitas hidup dan pendidikan anak.

Dalam dekade 2000-an, TFR India mencapai 3,3 anak per perempuan. Namun, tren penurunan telah terjadi sejak 1970-an, ketika pemerintah mengambil langkah-langkah konservatif untuk mengatasi masalah kepadatan populasi. Meski kebijakan baru ini mempercepat perubahan, India tetap tumbuh pesat, bahkan melebihi China sebagai negara dengan populasi terbesar dunia pada 2023.

Ketimpangan Regional dalam TFR

Perbedaan tingkat kesuburan antar wilayah di India menjadi indikator bahwa kebijakan baru belum merata dampaknya. Daerah seperti Bihar masih mencatat TFR sebesar 2,9, sedangkan kota-kota besar seperti New Delhi hanya mencapai 1,2. Sinha menyoroti bahwa daerah dengan ekonomi berkembang dan peran perempuan yang lebih kuat, seperti Tamil Nadu dan Kerala, lebih cepat mengadopsi kebijakan baru ini.

Dalam upaya mengatasi penurunan angka kelahiran, beberapa pemerintah daerah mulai memberikan insentif finansial. Contohnya, negara bagian Andhra Pradesh menawarkan bantuan sebesar 30.000 rupee (sekitar Rp6,59 juta) untuk kelahiran anak ketiga dan 40.000 rupee (sekitar Rp8,79 juta) untuk anak keempat. Program ini bertujuan menarik keluarga untuk tetap mengadopsi kebijakan baru, meski dampaknya masih terbatas.

Resiko Ekonomi dan Politik Akibat Penurunan Populasi

Penurunan angka kelahiran dapat memengaruhi bonus demografi yang selama ini menjadi keuntungan ekonomi India. Dengan jumlah penduduk usia produktif yang berkurang, kebijakan baru ini berpotensi menyebabkan kekurangan tenaga kerja dan tekanan pada sistem pensiun. Sinha memperingatkan bahwa jika tren ini terus berlanjut, India akan menghadapi tantangan serius dalam 30 hingga 40 tahun ke depan.

Kebijakan baru yang mengurangi angka kelahiran perlu diimbangi dengan strategi untuk meningkatkan kualitas tenaga kerja dan mengurangi beban pada pelayanan sosial.

Perubahan demografi ini juga berdampak pada dinamika politik. Wilayah dengan TFR lebih tinggi kemungkinan besar akan menjadi pusat kekuatan politik di masa depan, sementara daerah-daerah dengan angka kelahiran rendah mungkin menghadapi krisis sosial. Fenomena serupa terjadi di negara-negara lain seperti Tiongkok, Taiwan, dan Korea Selatan, yang juga mengalami penurunan TFR signifikan.

MORE FROM THIS CATEGORY