Meeting Results: AS Tak Lagi Dianggap Reliabel, Kepercayaan Eropa Hancur
Dailynesia.com – Hasil Meeting Results terbaru yang dirilis oleh European Council on Foreign Relations (ECFR) menunjukkan kepercayaan publik di Eropa terhadap jaminan keamanan Amerika Serikat (AS) mencapai titik terendah dalam sejarah. Survei ini dilakukan di 15 negara, termasuk Austria, Bulgaria, Jerman, dan Inggris, dan menemukan bahwa hanya 11% responden yang masih melihat AS sebagai sekutu utama, naik dari 16% enam bulan sebelumnya dan 22% pada November 2024. Jelang pertemuan penting para pemimpin Barat dalam forum G7 dan NATO, temuan ini memperlihatkan kekhawatiran yang meningkat terhadap sikap AS dalam menjaga stabilitas geopolitik.
Perubahan Persepsi terhadap Sekutu Tradisional
Meeting Results mengungkapkan bahwa masyarakat Eropa kini lebih cenderung menyebut AS sebagai “mitra yang diperlukan” daripada sekutu dekat. Hal ini mencerminkan ketidakpuasan terhadap kebijakan luar negeri Washington yang dianggap tidak konsisten. Selain itu, 13% responden menganggap AS sebagai rival, sementara 12% menilai negara itu sebagai musuh langsung. Perubahan ini terjadi karena masyarakat Eropa mulai meragukan komitmen AS dalam membantu negara-negara mereka saat menghadapi ancaman militer.
Secara historis, AS dianggap sebagai penjamin utama keamanan Eropa. Namun, selama masa pemerintahan Donald Trump, kebijakan seperti penurunan anggaran pertahanan, sikap agresif di Timur Tengah, dan ancaman terhadap Greenland telah mengubah persepsi tersebut. Dalam Meeting Results, warga Eropa menyatakan ketidakpercayaan terhadap kemampuan AS untuk mengintervensi secara efektif. Mayoritas responden menyatakan mereka lebih yakin pada negara-negara tetangga akan menjadi penolong utama dalam krisis keamanan.
Pengaruh Kebijakan Trump terhadap Relasi Barat
Meeting Results menyoroti dampak signifikan kebijakan Trump terhadap kepercayaan Eropa. Sikap agresif AS terhadap Tenggara, seperti intervensi di Suriah dan keraguan terhadap keberlanjutan NATO, dianggap sebagai penyebab utama penurunan kredibilitas. Para peneliti dari ECFR menekankan bahwa tindakan Trump menciptakan kesan bahwa AS tidak lagi menjadi pihak yang dapat diandalkan dalam mengamankan kepentingan Eropa.
“Dukungan untuk mengurangi ketergantungan pada Washington mencerminkan perubahan mendasar dalam pandangan publik terhadap sekutu tradisional,” kata Jana Kobzová, peneliti senior ECFR.
Kobzová menambahkan bahwa masyarakat Eropa semakin terbuka terhadap peningkatan belanja pertahanan nasional. “Ini menunjukkan bahwa warga Eropa mulai percaya pada kemampuan negara-negara tetangga untuk mengatasi ancaman bersama,” ujarnya. Dalam Meeting Results, angka dukungan untuk skema utang bersama Uni Eropa mencapai 47%, dengan Portugal, Denmark, Belanda, dan Spanyol sebagai negara-negara dengan persentase tertinggi. Meski kepercayaan terhadap AS melemah, mayoritas warga Eropa tetap optimis hubungan transatlantik akan membaik setelah Trump meninggalkan jabatannya.
Peningkatan anggaran pertahanan nasional juga menjadi fokus utama dalam Meeting Results. Hasil survei menunjukkan peningkatan rata-rata 4% dibandingkan tahun sebelumnya, meskipun Italia menjadi satu-satunya negara yang mayoritas menolak. Perubahan ini mencerminkan pergeseran prioritas Eropa dari ketergantungan pada AS menuju kebijakan yang lebih mandiri. Dalam konteks pertemuan G7 dan NATO, kepercayaan yang hancur terhadap AS mendorong Eropa untuk mempercepat pengambilan keputusan strategis yang lebih berdaulat.
“Tuntutan masyarakat Eropa untuk lebih mandiri memberi ruang bagi pemimpin regional untuk bergerak lebih cepat dalam keamanan,” kata Paweł Zerka, rekan penulis laporan.
Meeting Results juga menyoroti keraguan terhadap kemampuan AS dalam menjaga kestabilan. Kritik terhadap kebijakan Trump tidak hanya memengaruhi opini publik, tetapi juga memperkuat keinginan Eropa untuk memperkuat aliansi dengan negara-negara tetangga. Peningkatan kepercayaan pada sekutu lain seperti Prancis, Jerman, dan Italia menjadi indikator bahwa Eropa sedang mencari alternatif dalam menghadapi ancaman global. Meski AS masih menjadi bagian integral dari aliansi transatlantik, kepercayaan publik telah hancur, dan pertemuan penting ini menjadi momen kritis untuk mengubah arah kebijakan luar negeri.

