Pertamax Naik Jadi Rp 16.250 per Liter, Kepala BP BUMN Buka Suara

2 months ago  ·  3 min read
By James Lopez - dailynesia.com
bf68076e-08c9-43cf-87ed-7b410061b47e-0

Meeting Results: Pertamax Harga Naik ke Rp16.250 per Liter, BP BUMN Beri Penjelasan

Pengumuman Kenaikan Harga Pertamax dalam Rapat Kementerian Energi

Dailynesia.com – Pada hari ini, dalam sebuah meeting results yang dihadiri oleh berbagai pihak, harga bahan bakar minyak (BBM) Pertamax resmi meningkat menjadi Rp16.250 per liter. Kenaikan ini menjadi perhatian publik, terutama mengingat dampaknya terhadap masyarakat. Dony Oskaria, sebagai kepala BP BUMN, memberikan penjelasan mengenai keputusan ini yang diambil setelah rapat dengan Komisi VI di Gedung DPR Jakarta, Rabu (10/6/2026).

Dony Oskaria menyatakan bahwa kenaikan harga Pertamax merupakan hasil dari meeting results yang mempertimbangkan berbagai faktor ekonomi dan pasar. “Harga BBM non subsidi kenaikan ini sudah sesuai dengan kondisi pasar global, dan Pertamina tidak lagi harus menanggung beban biaya yang berlebihan,” jelasnya. Ia menegaskan bahwa penyesuaian harga telah melalui mekanisme yang disetujui oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), sehingga dianggap adil dan transparan.

“Kenaikan harga Pertamax kali ini berdasarkan keputusan meeting results yang melibatkan stakeholder terkait, termasuk Kementerian ESDM. Kecuali kita menaikkan harga di atas tingkat ekonomis, ini masih di bawah nilai yang seharusnya dibebankan kepada konsumen,” ujar Dony Oskaria setelah meeting results berlangsung.

Konteks Kenaikan Harga dan Kebijakan BBM

Kenaikan harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter ini bukanlah keputusan yang diambil secara spontan. Sebelumnya, pihak Pertamina telah mengusulkan penyesuaian harga BBM non subsidi dalam meeting results rutin yang diadakan setiap bulan. “Kami sudah menghitung berbagai aspek seperti inflasi, daya beli masyarakat, dan kebutuhan industri,” terang Dony. Pihaknya juga menekankan bahwa kebijakan ini bertujuan untuk menjaga stabilitas harga bahan bakar di tengah tekanan kenaikan harga minyak internasional.

Dalam meeting results terkini, pertimbangan utama yang diambil adalah fluktuasi harga minyak dunia yang terus mengalami peningkatan. Dony menambahkan bahwa kenaikan ini sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk mengurangi subsidi dan mengoptimalkan pendapatan dari sektor energi. “Langkah ini diharapkan dapat mendukung kebijakan subsidi yang lebih tepat sasaran, terutama bagi masyarakat yang lebih rentan terhadap kenaikan harga bahan bakar,” kata dia.

Respons Konsumen dan Dampak Ekonomi

Kenaikan harga Pertamax menuai reaksi beragam dari masyarakat. Banyak konsumen menyampaikan kekecewaan terhadap kenaikan yang relatif besar, terutama bagi pengguna mobil pribadi. Namun, Dony Oskaria menegaskan bahwa Pertamax bukan untuk kalangan menengah ke bawah, melainkan lebih banyak digunakan oleh kalangan menengah ke atas. “Karena itu, dampak terhadap inflasi dianggap minimal,” imbuhnya.

Dalam meeting results yang dihadiri oleh berbagai pihak, pemerintah juga menyoroti pentingnya komunikasi yang jelas terkait kebijakan harga BBM. “Kita perlu menjelaskan bahwa penyesuaian ini bukan tiba-tiba, tetapi sudah melalui proses yang matang,” kata Dony. Ia menambahkan bahwa pihaknya siap memberikan penjelasan lebih lanjut jika ada pertanyaan atau kritik dari masyarakat. Kebijakan ini juga didukung oleh berbagai lembaga, termasuk Badan Pengawas Perdagangan (BP) BUMN, yang menilai kenaikan harga Pertamax sudah tepat secara ekonomi.

Kebijakan kenaikan harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter ini diharapkan dapat memberikan dampak positif jangka panjang. Dalam meeting results terakhir, Kementerian ESDM juga menyebutkan bahwa penyesuaian harga BBM akan dilakukan secara berkala dan disesuaikan dengan kondisi pasar. “Kami akan terus memantau situasi, dan jika diperlukan, bisa ada penyesuaian lebih lanjut,” ujar salah satu anggota meeting results yang hadir.

Sementara itu, Dony Oskaria memastikan bahwa kebijakan ini tidak akan mengganggu kebutuhan industri. “Kami sudah mempertimbangkan kebutuhan sektor transportasi dan industri dalam meeting results terkait, sehingga harga Pertamax tetap bisa diakses oleh pelaku usaha,” katanya. Ia juga menyoroti bahwa kenaikan harga BBM non subsidi menjadi Rp16.250 per liter ini sudah dipastikan tidak memicu kenaikan harga bahan bakar yang signifikan dibandingkan harga BBM subsidi.

Sebagai kesimpulan, meeting results yang berlangsung hari ini menegaskan bahwa kenaikan harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter adalah bagian dari upaya menyesuaikan harga bahan bakar dengan kondisi pasar global. Dony Oskaria dan tim BP BUMN memberikan penjelasan bahwa keputusan ini diambil setelah analisis mendalam, serta dengan harapan dapat mendukung stabilitas perekonomian dan kebijakan subsidi yang lebih efektif. Kenaikan harga Pertamax menjadi perhatian utama masyarakat, terutama dalam konteks meeting results yang diadakan secara rutin untuk mengevaluasi kebijakan bahan bakar minyak di Indonesia.

MORE FROM THIS CATEGORY