Peternak Ayam Broiler Rugi, Harga Jual Rp16.000/Kg di Bawah Modal Rp22.000
Krisis Harga Ayam Broiler dalam Key Strategy Pemulihan Ekonomi
Dailynesia.com – Dalam Key Strategy mengatasi tekanan harga yang semakin parah, peternak ayam broiler di Indonesia mengeluhkan kerugian mencapai Rp7.000 per kilogram. Harga jual ayam hidup (live bird) yang stabil di angka Rp15.000–16.000 per kg tidak cukup menutupi biaya produksi yang terus meningkat, terutama di tengah kenaikan harga pakan hingga Rp8.800–9.400 per kg di tingkat pabrik. Menurut Ketua Umum Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (Permindo) Kusnan, masalah ini menggerus modal peternak dan memicu ketidakstabilan usaha budidaya unggas.
Kusnan menyatakan, permasalahan utama peternak saat ini bukan berasal dari produsen lokal, tetapi dari ketidakseimbangan antara permintaan dan penawaran di pasar. Dalam Key Strategy yang diusung Permindo, solusi diarahkan pada penguatan sisi hilir, yakni distribusi dan penjualan, untuk memastikan hasil produksi dapat diserap secara efektif. Selain itu, kenaikan biaya produksi tidak hanya terkait pakan, tetapi juga faktor seperti listrik, bahan baku, dan operasional pabrik, yang membuat harga pokok produksi (HPP) ayam broiler mencapai Rp21.000–22.000 per kg.
“Dalam Key Strategy untuk menjaga keseimbangan ekonomi peternakan, harga live bird yang terus turun menciptakan defisit keuntungan hingga Rp7.000 per kg. Ini mengakibatkan kehilangan modal peternak, terutama yang berskala kecil,” jelas Kusnan dalam pernyataan Rabu (10/6/2026).
Permindo Sarankan Penguatan Sistem Distribusi untuk Key Strategy
Dalam Key Strategy yang diusulkan oleh Permindo, fokus utama adalah memperluas pasar dan meningkatkan efisiensi distribusi. Kusnan menegaskan bahwa kelebihan pasokan di Pulau Jawa, yang menyumbang sekitar 70% populasi ayam pedaging dan petelur nasional, menjadi penyebab utama tekanan harga di tingkat peternak. Dengan memperkuat jaringan ritel modern seperti minimarket dan supermarket, serta mendorong keterlibatan Badan Pangan Nasional (Bapanas) dan Perum Bulog, peternak dapat menemukan pasar yang lebih luas.
Permindo menekankan pentingnya Key Strategy yang berfokus pada peningkatan kapasitas logistik dan kebijakan distribusi yang adil. Mereka mengusulkan pembentukan mekanisme penyerapan produk unggas yang berkelanjutan, melalui kerja sama dengan BUMN pangan dan pemangku kepentingan lainnya. Dengan sistem ini, harga ayam dan telur akan terbentuk secara lebih sehat, tanpa harus bergantung pada pengurangan produksi yang berdampak pada ketahanan pangan nasional.
“Dalam Key Strategy, peternak tidak hanya membutuhkan subsidi tetapi juga pasar yang lebih luas. Jika distribusi tidak diperbaiki, maka usaha budidaya unggas akan terus terancam,” tambah Kusnan.
Analisis Pemasaran dan Faktor Eksternal yang Mempengaruhi Harga
Krisis harga ayam broiler dalam Key Strategy ini juga dipengaruhi oleh faktor eksternal, seperti dinamika global pasar daging. Kenaikan harga bahan baku seperti jagung dan kedelai, yang menjadi komponen utama pakan ayam, menyebabkan lonjakan biaya produksi. Selain itu, perubahan cuaca dan penyakit ternak seperti avian influenza juga mengganggu produktivitas, sehingga memperparah tekanan pada peternak.
Dalam Key Strategy, analisis pasar menjadi bagian penting untuk mengidentifikasi peluang dan tantangan. Kusnan menyoroti bahwa peternak rakyat harus dilibatkan secara aktif dalam perencanaan strategi pemasaran, termasuk pengembangan produk olahan ayam untuk meningkatkan nilai tambah. Dengan mengurangi ketergantungan pada produk mentah dan meningkatkan variasi pasar, peternak bisa memperkuat daya tahan ekonomi mereka.
Permindo juga mengkritik keterlambatan pemerintah dalam menangani masalah ini. Meski ada kebijakan peningkatan produksi, kerugian peternak justru semakin mengkhawatirkan. Dalam Key Strategy, perlu ada koordinasi yang lebih baik antarlembaga, termasuk Kementerian Pangan, Kementerian Perdagangan, dan Badan Pangan Nasional (Bapanas), untuk memastikan pasar bisa menyerap produksi secara optimal.
Langkah Konkret dalam Key Strategy untuk Meningkatkan Keuntungan Peternak
Untuk mewujudkan Key Strategy yang efektif, Permindo menyarankan beberapa langkah konkret. Pertama, pemerintah harus mendorong pembangunan infrastruktur logistik di daerah-daerah produksi, seperti ketersediaan gudang penyimpanan dan sistem transportasi yang lebih efisien. Kedua, peningkatan kualitas ayam broiler melalui standarisasi dan sertifikasi, yang akan membantu menarik minat pembeli di pasar ekspor. Ketiga, pengembangan jaringan pemasaran yang lebih luas, termasuk kerja sama dengan pelaku UMKM dan toko-toko ritel lokal, agar produk bisa terjual dengan harga lebih kompetitif.
Dalam Key Strategy ini, pendekatan berbasis teknologi juga disarankan. Misalnya, penggunaan sistem informasi pasar yang terintegrasi, sehingga peternak bisa memperoleh data harga secara real-time dan mengambil keputusan yang lebih tepat. Selain itu, pelatihan dan bimbingan teknis kepada peternak kecil tentang manajemen biaya dan pemasaran juga perlu ditingkatkan. Dengan kombinasi faktor ini, peternak bisa mengurangi kerugian dan meningkatkan daya saing di pasar.
Kusnan menambahkan, dalam Key Strategy pemulihan ekonomi peternakan, pemerintah harus memperhatikan keberlanjutan usaha. “Peternak rakyat tidak bisa hanya bergantung pada produksi. Mereka membutuhkan Key Strategy yang menyeluruh, mulai dari sisi produksi hingga distribusi dan pemasaran,” pungkasnya.
Potensi Dampak pada Ketahanan Pangan Nasional
Krisis harga ayam broiler dalam Key Strategy ini tidak hanya mengganggu keuntungan peternak, tetapi juga berpotensi memengaruhi ketahanan pangan nasional. Jika harga jual terus jatuh di bawah modal, produsen kecil bisa dipaksa menghentikan operasional, sehingga menyebabkan penurunan produksi secara keseluruhan. Kusnan menegaskan, ketergantungan pada daerah-daerah produksi yang terpusat di Pulau Jawa perlu diminimalkan dengan mendorong pengembangan peternakan di luar pulau tersebut.
Permindo juga mengkhawatirkan dampak dari kebijakan produksi yang berlebihan. Dalam Key Strategy, pemerintah harus melakukan evaluasi terhadap volume produksi, agar sesuai dengan kapasitas pasar. “Jika produksi tidak diatur secara proporsional, maka kelebihan pasokan akan terus memicu penurunan harga, yang berujung pada kerugian bersama,” jelas Kusnan. Dengan Key Strategy yang seimbang, ketahanan pangan nasional bisa terjaga tanpa mengorbankan keberlanjutan usaha peternak.
Key Strategy ini juga menjadi kesempatan untuk memperkuat ekosistem usaha peternakan secara keseluruhan. Dengan integrasi antara produsen, distributor, dan pelaku pemasaran, harga jual bisa meningkat, sehingga peternak tidak lagi mengalami kerugian. Kusnan berharap Key Strategy yang diusung dapat menjadi acuan bagi kebijakan pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi sektor unggas.

