Piala Dunia 2026 Terancam “Zonk”-Gagal Jadi Mesin Uang AS
Harapan Ekonomi yang Mulai Tersentak
Dailynesia.com – Kota-kota di Amerika Serikat (AS) kini menghadapi tantangan ekonomi yang menggoyang ekspektasi tinggi terkait Piala Dunia FIFA 2026. Diharapkan turnamen sepak bola terbesar dunia ini bisa membangkitkan aktivitas ekonomi lokal melalui peningkatan kunjungan wisatawan, peningkatan penggunaan hotel, dan pemberdayaan sektor kerja. Namun, beberapa indikator terbaru menunjukkan keraguan terhadap potensi tersebut.
Ketidakpastian yang Menghimpit
Meningkatnya harga tiket pertandingan, kurangnya pemesanan akomodasi, serta gejolak politik global menjadi hambatan utama. Menurut Profesor Mike Edwards dari North Carolina State University, ketakutan warga AS terhadap perjalanan dan pengeluaran besar terutama memengaruhi minat wisatawan internasional. “Orang semakin cermat dalam menghabiskan uang, terutama karena kekhawatiran tentang perjalanan ke AS dan risiko politik,” ujarnya, seperti dilansir Al Jazeera.
“Minat untuk bepergian dan membayar harga tiket yang tinggi semakin berkurang. Saya pikir ada juga beberapa isu geopolitik yang tentu saja membuat orang lebih waspada untuk bepergian ke AS dan menghabiskan uang di AS,”
Isu Kebijakan Imigrasi dan Proses Visa
Kebijakan imigrasi yang diterapkan oleh Presiden Donald Trump disebut memengaruhi minat wisatawan luar negeri. Sejumlah organisasi, termasuk American Civil Liberties Union (ACLU), mengeluarkan peringatan bagi warga asing yang ingin berkunjung ke AS. Ketidakjelasan aturan visa dan penundaan penerbitan dokumen turut memperparah ketidakpastian, terutama bagi penggemar sepak bola dari luar negeri.
Tekanan Ekonomi di Tengah Masyarakat Domestik
Kenaikan harga bensin menjadi US$4,16 per galon, naik dari US$2,98 pada Februari lalu, memberi tekanan tambahan. Biaya hidup yang meningkat dan perlambatan pasar tenaga kerja menyebabkan masyarakat AS lebih hati-hati dalam pengeluaran. Dampaknya terlihat di sektor perhotelan, di mana 80% hotel melaporkan pemesanan di bawah target hanya beberapa hari sebelum turnamen dimulai.
Kota Tuan Rumah: Kondisi yang Berbeda
Di New York City, yang menjadi lokasi pertandingan final, tingkat pemesanan hotel hanya mencapai 65% dari rencana awal. Sementara di Seattle, 80% hotel masih kalah dari tingkat pemesanan musim panas biasanya. Situasi serupa juga terjadi di Vancouver, Kanada, yang juga turut menyelenggarakan acara tersebut.
Permintaan dan Perkiraan Industri
Sebaliknya, sejumlah pelaku bisnis tetap optimis. CEO Airbnb Brian Chesky mengatakan bahwa perusahaan memproyeksikan peningkatan pesanan besar selama Piala Dunia. Meski sekitar 70% pemesanan berasal dari wisatawan dalam negeri, tingkat harga akomodasi di kota tuan rumah menunjukkan tren tinggi. Di sekitar stadion Dallas, tarif penginapan dua malam mencapai hampir US$700, sementara di Philadelphia, harga terendah hingga US$300.
Perbandingan Pengeluaran Wisatawan
Menurut United States Travel Association, wisatawan asing biasanya menghabiskan lebih dari US$5.000 per orang, angka yang lebih besar dibandingkan wisatawan lokal. Namun, kontribusi dari kelompok ini masih rendah, sehingga dikhawatirkan tidak mampu menyelamatkan target pendapatan ekonomi yang diharapkan.
Harga Tiket: Strategi FIFA vs. Kritik
Peningkatan tarif tiket menjadi sorotan, dengan kategori tribun atas di Dallas mencapai di atas US$800 per lembar. Untuk laga final, harga di pasar sekunder bahkan melonjak hingga US$43.553 per tiket. FIFA menjelaskan bahwa penyesuaian harga ini dilakukan untuk mengikuti permintaan pasar, tetapi kritik terus berdatangan.

