Pengusaha Wanti-Wanti Kapan PHK Dimulai, Awalnya Pangkas Jam Kerja

2 months ago  ·  3 min read
By Elizabeth Lopez - dailynesia.com
ini-profesi-yang-paling-banyak-kena-phk-di-indonesia-1756088107290_169

Pengusaha Antisipasi PHK, Mulai dengan Pengurangan Jam Kerja: Facing Challenges

Dailynesia.com – Jakarta – Industri petrokimia dalam negeri saat ini menghadapi tekanan serius akibat maraknya impor barang murah dari Tiongkok, yang terus mengalir ke pasar Indonesia. Menurut Sekretaris Jenderal Inaplas, Fajar Budiono, ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) belum terjadi dalam waktu dekat, namun risiko tersebut semakin mendekat. Beberapa perusahaan telah memulai strategi pengurangan jam kerja sebagai langkah awal untuk mengatasi tantangan ini.

Kondisi Ekonomi Global Memperparah Tantangan Industri

Tantangan yang dihadapi pengusaha tidak hanya berasal dari dalam negeri, tetapi juga dipengaruhi oleh situasi global yang terus berubah. Kenaikan harga bahan baku dan listrik memperkuat tekanan terhadap sektor manufaktur, terutama industri hilir yang lebih rentan terhadap fluktuasi harga. “Kita sedang menghadapi fase yang sangat berat, di mana permintaan pasar tidak stabil, sementara biaya produksi terus naik,” jelas Fajar kepada CNBC Indonesia, Senin (8/6/2026).

Dalam upaya menjaga keberlanjutan bisnis, perusahaan-perusahaan menekankan efisiensi operasional sebagai solusi jangka pendek. Ini termasuk memangkas jam kerja dan mengoptimalkan penggunaan sumber daya. “Yang paling mungkin dilakukan sekarang adalah mengurangi utilisasi kapasitas produksi. Jika utilisasi turun di bawah 60%, maka langkah berikutnya adalah efisiensi tenaga kerja,” tambahnya.

Pengusaha juga menyadari bahwa strategi ini tidak cukup untuk mengatasi Facing Challenges yang dihadapi. Mereka membutuhkan langkah lebih jauh, seperti restrukturisasi biaya dan pengaturan kembali rantai pasok. “Kalau harganya terus naik, kita harus melakukan banyak pengorbanan. Mulai dari mengurangi gaji karyawan hingga meninjau ulang kontrak dengan pemasok,” pungkas Fajar.

Impor Tiongkok Memperparah Kondisi Pasar

Kenaikan volume impor dari Tiongkok menjadi salah satu faktor utama yang memperburuk situasi. Fajar menyebutkan bahwa barang dari negara tersebut masuk ke Indonesia dalam jumlah yang meningkat drastis. “China sekarang ini sangat masif mengirimkan barang ke mana-mana, termasuk ke Indonesia. Kita perkirakan impor barang dari Tiongkok bisa mencapai 300.000 ton per tahun di 2026,” jelasnya.

Pada 2023, volume impor dari Tiongkok masih berada di bawah 50.000 ton, tetapi hingga 2025 telah naik hingga 200.000 ton. “Di 2026, kita menilai volume impor akan mencapai 300.000 ton dengan harga yang relatif lebih murah,” tambah Fajar. Hal ini membuat perusahaan lokal kesulitan untuk bersaing, terutama di sektor makanan dan minuman yang menjadi pasar utama.

Fajar menekankan bahwa keunggulan biaya produksi di Tiongkok menjadi ancaman serius bagi industri dalam negeri. “Produsen Tiongkok memiliki akses bahan baku yang lebih banyak dan biaya energi yang lebih kompetitif. Mereka bisa menghasilkan produk dengan harga lebih rendah, sehingga kita harus mengambil langkah tepat waktu untuk menghindari PHK,” ujarnya.

Dengan kondisi pasar yang semakin tegang, banyak pengusaha memprediksi bahwa Facing Challenges akan berlanjut hingga akhir tahun. “Masyarakat bawah paling terdampak, karena harga barang murah membuat konsumen lebih memilih produk impor. Jika ini terus berlanjut, kita akan kewalahan dalam mempertahankan tenaga kerja,” kata Fajar.

Pengusaha juga berharap pemerintah memberikan dukungan untuk membantu sektor industri melewati masa krisis. “Dengan penurunan harga bahan baku, mungkin kita bisa menunda PHK. Tapi jika harga terus melonjak, maka tidak ada pilihan selain mengurangi tenaga kerja atau mengubah model bisnis,” pungkasnya. Situasi ini menunjukkan bahwa Facing Challenges adalah bagian dari dinamika ekonomi yang tak terhindarkan, tetapi perusahaan tetap berusaha adaptif untuk meminimalkan dampak negatif.

MORE FROM THIS CATEGORY