Main Agenda: ESDM Targetkan Produksi Migas Non Konvensional Dalam Waktu Dekat

2 months ago  ·  2 min read
By James Lopez - dailynesia.com
1d529704-a032-4d95-ba09-d88e69bca1e1-0

ESDM Berencana Percepat Pengembangan Migas Non Konvensional

Dailynesia.com – Jakarta – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sedang fokus pada pengembangan produksi migas non konvensional (MNK) sebagai bagian dari strategi pemerintah untuk memperkuat kemandirian energi nasional. Proyek ini bertujuan meningkatkan kapasitas produksi minyak dan gas bumi tanpa mengandalkan impor secara signifikan. Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengungkapkan bahwa pemerintah bersama SKK Migas sedang mempercepat penerapan MNK untuk memastikan keberhasilan dalam jangka pendek.

Kebutuhan Teknologi dan Regulasi

Menurut Yuliot, pengembangan MNK memerlukan penyesuaian teknologi yang tepat karena pengeboran dilakukan pada lapisan unkonvensional. Teknologi ini lebih rumit dibandingkan metode konvensional, sehingga membutuhkan analisis mendalam agar proses produksi mencapai efisiensi optimal. Main Agenda ini juga mencakup pembuatan kerangka regulasi yang akan memudahkan pengusahaan migas non konvensional, sehingga tidak ada hambatan dalam penerapan.

“Kita lagi berkejaran dengan waktu,” kata Yuliot.

SKK Migas telah menetapkan target penyelesaian regulasi hingga akhir Juni 2026. Dengan kebijakan ini, implementasi MNK bisa dimulai awal Juli, sehingga mendorong kenaikan produksi dalam waktu dekat. Yuliot menekankan bahwa teknologi yang digunakan harus dipilih berdasarkan keunggulan dalam pengurangan biaya operasional dan peningkatan kecepatan produksi.

Karakteristik Blok Rokan dan Potensi MNK

Dalam rangkaian Main Agenda ESDM, Blok Rokan di Riau menjadi salah satu area utama untuk uji coba teknologi MNK. Hadi Ismoyo, seorang praktisi minyak dan gas bumi, menyoroti bahwa potensi blok ini sangat menggiurkan, mirip dengan proyek serupa di Amerika Serikat. Meski teknisnya berbeda, keterlibatan pihak eksternal dalam menyediakan solusi teknologi berperan penting dalam Main Agenda ini.

Hadi menjelaskan bahwa teknik pengeboran MNK harus disesuaikan dengan karakteristik reservoir yang unik. “Recovery factor rendah, sehingga dibutuhkan jumlah sumur lebih banyak untuk mendapatkan volume yang sama seperti eksplorasi konvensional,” tambahnya. Proses uji coba di sumur Gulamo#1 dan Kelok#1 akan menjadi dasar untuk menentukan skala produksi, serta efektivitas teknologi yang diterapkan.

Kebijakan Main Agenda ini juga menyoroti pentingnya keterlibatan sektor swasta. Yuliot menegaskan bahwa Kementerian ESDM akan menggandeng perusahaan-perusahaan minyak dan gas untuk memastikan adanya peningkatan investasi. “Kolaborasi dengan sektor swasta sangat dibutuhkan agar proyek ini bisa berjalan efektif dan berkelanjutan,” jelasnya. Kebijakan ini sejalan dengan visi pemerintah dalam menjaga stabilitas pasokan energi.

Dalam Main Agenda pengembangan MNK, pemerintah juga berencana mengoptimalkan sumber daya alam yang ada. ESDM berharap dengan kebijakan ini, produksi migas bisa meningkatkan daya saing di pasar internasional. Teknologi pengeboran canggih, seperti hydraulic fracturing atau horizontal drilling, akan menjadi pilar utama dalam Main Agenda untuk meningkatkan efisiensi dan mengurangi risiko lingkungan.

MORE FROM THIS CATEGORY