Media China Sorot Rupiah Merosot, Sebut Ini Biang Kerok

2 months ago  ·  3 min read
By Linda Davis - dailynesia.com
warga-melakukan-penukaran-mata-uang-rupiah-ke-dolar-as-di-money-changer-valuta-artha-mas-jakarta-rabu-652026-1778057115111_169

Media China Perhatikan Penurunan Rupiah, Sebut Faktor Utama Penyebabnya

Dailynesia.com – Jakarta, pada hari Jumat (5/6/2026), media massa besar Tiongkok, Xinhua, menyoroti penurunan nilai tukar rupiah Indonesia dalam laporan terbarunya. Rupiah yang terus mengalami tekanan ini mencapai level Rp 18.015 per dolar AS, menandai penurunan tahunan lebih dari 7%. Penguatan dolar AS dan ketidakpastian global menjadi faktor utama yang memengaruhi situasi ini, menurut analisis terkini dari laporan yang dibagikan oleh Xinhua.

“Nilai rupiah Indonesia turun hingga 18.015 per dolar AS, menyebabkan penurunan tahun ini mencapai lebih dari 7%,” tulis laman Xinhua dalam artikel berjudul “Indonesian Rupiah Weakens Beyond 18,000 Per Dollar.”

Ketidakpastian Global dan Kinerja Sektor AS

Analisis tambahan menyebutkan bahwa peningkatan permintaan terhadap dolar AS berdampak signifikan pada pergerakan rupiah. Hal ini didorong oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah, serta data ekonomi AS yang melebihi ekspektasi pasar, seperti pertumbuhan sektor jasa dan ketenagakerjaan yang kuat. Selain itu, inflasi global yang melonjak dan kebijakan moneter ketat dari bank sentral AS juga menjadi penyumbang utama tekanan terhadap mata uang lokal.

“Ketidakstabilan pasar keuangan internasional dan kebijakan moneter ketat di Amerika Serikat memberikan tekanan terhadap rupiah, yang saat ini mengalami depresiasi lebih dalam dibandingkan periode awal tahun,” tambah laman Xinhua.

Para ahli ekonomi juga menyoroti bahwa dinamika pasar keuangan global, terutama pada akhir 2025 dan awal 2026, telah memengaruhi pola ekspor-impor Indonesia. Dengan mata uang asing yang lebih kuat, biaya impor bahan baku meningkat, sementara ekspor tidak cukup mengimbangi tekanan tersebut. Faktor ini menjadi perhatian utama dalam Latest Program yang menekankan pentingnya kebijakan stabilisasi untuk mengatasi masalah mata uang.

Respons Bank Indonesia dan Stabilisasi Rupiah

Bank Indonesia (BI) telah mengambil beberapa langkah untuk memperkuat stabilitas rupiah, meski tantangan tetap besar. Dalam Latest Program, pihak BI menegaskan komitmen untuk menjaga likuiditas valuta asing dan menggunakan instrumen kebijakan yang tepat guna mengurangi tekanan pada mata uang. Selain itu, BI juga memperhatikan kinerja pasar domestik yang masih kurang optimis.

“Dengan memanfaatkan instrumen kebijakan dan menjaga likuiditas valuta asing yang memadai, BI akan terus memperbaiki kondisi mata uang,” muat laman Xinhua.

Pasangan mata uang yang terus bergerak fluktuatif mengharuskan BI tetap aktif dalam mengawasi arus dana asing dan mengatur tingkat suku bunga. Meski pihak BI menyatakan telah mengambil langkah “konsisten dan terukur,” para ekonom menyebutkan bahwa kinerja rupiah masih memerlukan pengawasan intensif agar tidak kembali ke level yang lebih rendah. Latest Program juga menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia harus tetap didorong dalam konteks stabilitas mata uang.

Sejumlah laporan tambahan menyebutkan bahwa depresiasi rupiah tidak hanya menekan sektor manufaktur, tetapi juga mengurangi daya beli masyarakat dan meningkatkan inflasi domestik. Xinhua mengungkapkan bahwa kondisi ini berdampak pada kepercayaan investor dan mengharuskan pemerintah mengambil langkah-langkah terencana untuk mengembalikan momentum ekonomi. Sementara itu, data dari BI menunjukkan bahwa cadangan devisa Indonesia masih cukup memadai, meski laju pertumbuhan ekonomi terus dikoreksi.

“Kondisi ini mengharuskan BI dan pemerintah tetap waspada, terutama dalam menghadapi dinamika pasar yang terus berubah,” tulis Xinhua dalam analisis terbaru mereka.

Dalam konteks Latest Program, penurunan rupiah menjadi sorotan utama bagi pihak eksternal dan internal. Media China menilai bahwa penurunan ini menunjukkan kebutuhan akan kebijakan ekonomi yang lebih terpadu, termasuk penyesuaian politik moneter dan dukungan sektor pertanian serta industri dalam negeri. Dengan menggabungkan faktor internasional dan domestik, Indonesia diharapkan mampu memperkuat kestabilan mata uang dan memperbaiki kondisi ekonomi secara keseluruhan.

MORE FROM THIS CATEGORY