Main Agenda: Bak Tikus Mati di Lumbung Padi, Iran Tenggelam dalam Dilema Perang

2 hours ago  ·  4 min read
By Linda Miller
iran-us-israel-war-1778032372543_169-1

Bak Tikus Mati di Lumbung Padi, Iran Tenggelam dalam Dilema Perang

Main Agenda – Musim panas memberikan tantangan besar bagi Iran dalam menjaga ketersediaan energi, di tengah situasi perekonomian yang semakin tidak menentu akibat dampak perang dan kebatinan anggaran pemerintah. Penurunan kapasitas produksi bensin setelah serangan terhadap fasilitas energi mengakibatkan kekurangan pasokan, sementara permintaan energi meningkat tajam akibat penggunaan pendingin ruangan dan kebutuhan listrik lainnya. Kondisi ini memperlebar kesenjangan antara pasokan dan konsumsi, menggambarkan tekanan yang semakin berat pada sistem energi negara tersebut.

Subsidi Energi sebagai Penyangga Ekonomi

Sejumlah kebijakan subsidi energi yang telah diterapkan pemerintah Iran masih berperan sebagai penyangga biaya hidup bagi rakyat. Tarif listrik, gas, air, dan bahan bakar tetap terjaga rendah karena subsidi, meski kenyataannya biaya produksi jauh lebih tinggi. Namun, penurunan kinerja ekonomi membuat pemerintah sulit mempertahankan subsidi tersebut. Sanksi internasional, korupsi, pengelolaan keuangan yang tidak optimal, inflasi kronis, serta pelemahan nilai tukar mata uang menjadi beban tambahan yang membatasi kemampuan negara untuk menopang biaya energi.

“Mereformasi dan menaikkan harga energi saat ini tidak layak dan logis karena kondisi ekonomi serta kekhawatiran sosial yang terus meningkat,” kata Wakil Presiden Organisasi Optimalisasi dan Manajemen Strategis Energi Iran, Esmail Saghab Esfahani, seperti dikutip Al Jazeera, Kamis (4/6/2026).

Iran, yang memiliki cadangan minyak mentah terbesar ketiga di dunia, tetap harus mengimpor bahan bakar karena permintaan domestik melebihi kemampuan kilang. Hal ini mengakibatkan subsidi energi menjadi salah satu alat untuk memastikan akses listrik dan bahan bakar bagi masyarakat umum. Namun, kebijakan ini juga menggerus keuntungan pemerintah, terutama ketika jumlah penggunaan energi yang berlebihan meningkat.

Upaya Penghematan Energi oleh Pemerintah

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, telah beberapa kali mendorong masyarakat dan kantor-kantor untuk mengurangi penggunaan energi. Langkah simbolis seperti melepas jaket saat rapat kabinet menunjukkan upaya untuk menekan konsumsi pendingin udara. Sejumlah kebijakan baru juga diterapkan, seperti pembatasan distribusi bahan bakar selama perang. Saat ini, setiap kartu bahan bakar hanya bisa digunakan untuk memperoleh maksimal 30 liter per hari.

Kebijakan ini sejalan dengan sistem kuota bensin yang diberlakukan pemerintah. Pengguna kendaraan di Iran mendapatkan 60 liter bensin bersubsidi per bulan dengan harga 15.000 rial per liter, dan 100 liter berikutnya dengan tarif lebih tinggi. Konsumsi di atas kuota dikenai harga hingga 50.000 rial per liter melalui kartu bahan bakar. Meski sistem ini dianggap efektif untuk mengurangi penggunaan energi berlebihan, banyak warga masih merasa tekanan biaya hidup membesar karena perbedaan harga antara kuota dan tarif standar.

Krisis Energi dan Dampaknya pada Usaha

Kebijakan subsidi energi meski membantu, tetapi keuntungannya semakin berkurang akibat situasi ekonomi yang memburuk. Seorang pemilik bengkel las di dekat Teheran mengungkapkan tagihan energinya melonjak tiga kali lipat dibanding tahun lalu, dari 40 juta rial per bulan (sekitar US$23) menjadi hampir 120 juta rial. Ia menyatakan bahwa biaya listrik terus meningkat, meski tingkat konsumsi tidak mengalami perubahan signifikan.

“Saya pergi ke perusahaan listrik, dan mereka hanya terus mengatakan bahwa tarif telah naik,” ujarnya. Ia menambahkan beberapa rekan kerjanya mengalami kenaikan biaya serupa, meski penggunaan energi tetap stabil. “Sepertinya kami harus membayar biaya perang.”

Secara keseluruhan, tekanan pada sektor energi semakin berat. Kapasitas produksi bensin harian menurun dari sekitar 115 juta liter menjadi 110 juta liter, sementara konsumsi mencapai hingga 140 juta liter per hari. Kenaikan ini memperparah krisis, dengan kebutuhan listrik yang meningkat drastis. Kebijakan pemerintah untuk meninjau keluhan pelanggan dan menawarkan insentif bagi pengguna yang mengurangi konsumsi menjadi langkah antisipatif.

Sejumlah laporan menyebutkan bahwa operator SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum) diberi instruksi untuk membatasi penggunaan kartu darurat. Sebelumnya, kartu ini memungkinkan warga mendapatkan tambahan bahan bakar di luar kuota. Tindakan ini diambil untuk mengatasi ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan, tetapi juga memicu kekhawatiran akan keterbatasan akses bagi masyarakat yang tidak mampu.

Perang dan Ancaman Global

Ancaman dari luar negeri juga memperkuat krisis energi. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menjanjikan serangan lanjutan terhadap infrastruktur energi Iran, yang memicu kekhawatiran tentang pemadaman listrik dan kekurangan pasokan gas. Kebijakan ini diperkirakan akan memperparah tekanan pada sektor energi selama beberapa bulan ke depan. Dengan perekonomian yang terpuruk dan keterbatasan anggaran, Iran terjebak dalam dilema: mengakhiri subsidi energi untuk mengurangi beban anggaran, atau mempertahankannya untuk memastikan akses dasar bagi rakyat.

Di tengah situasi yang tidak menentu, pemerintah terus berusaha mempertahankan keseimbangan. Namun, angka-angka menunjukkan bahwa tekanan pada sektor energi tidak akan berkurang dalam waktu dekat. Peningkatan tagihan listrik, gas, dan bahan bakar terus berlanjut, dengan biaya energi yang tak lagi terjangkau bagi sebagian besar populasi. Krisis ini tidak hanya memengaruhi kehidupan sehari-hari, tetapi juga menghambat pertumbuhan ekonomi nasional.

Selama perang berlangsung, pemerintah memperketat pengawasan distribusi bahan bakar. Selain kuota harian, perusahaan listrik dan operator SPBU juga diwajibkan mengontrol penggunaan energi secara lebih ketat. Meski langkah-langkah ini bertujuan mengurangi beban negara, mereka juga menimbulkan kekhawatiran akan keterbatasan akses untuk warga yang membutuhkan. Kebijakan subsidi tetap menjadi jembatan bagi sebagian besar masyarakat, meski di tengah perang, biaya hidup terus meningkat.

Iran terus berupaya menyeimbangkan antara kebutuhan rakyat dan kestabilan anggaran. Dengan pembatasan distribusi bahan bakar dan peninjauan tarif, pemerintah berharap bisa mengurangi tekanan pada cadangan energi. Namun, tantangan terbesar tetap ada, yakni kekhawatiran akan gangguan eksternal yang bisa memperburuk krisis. Meski demikian, kebijakan subsidi energi tetap dipertahankan karena peran pentingnya dalam menjaga stabilitas sosial di tengah tekanan perang yang berkepanjangan.

MORE FROM THIS CATEGORY