Meeting Results: Prabowo Siapkan Regulasi Baru untuk Program 100 GW PLTS
Meeting Results – Dalam meeting results yang diadakan di Jakarta, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengumumkan rencana penyusunan aturan baru yang bertujuan mendorong percepatan program pembangunan 100 gigawatt (GW) pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Aturan ini diharapkan menjadi dasar hukum berupa Peraturan Presiden (Perpres) yang akan mendukung pengembangan energi terbarukan secara lebih intensif. Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menjadi pendorong utama kebijakan ini, yang sejalan dengan visinya dalam menyiapkan sumber daya energi nasional yang berkelanjutan.
Langkah Strategis dalam Penyusunan Regulasi
Meeting results tersebut menjadi momen penting bagi Kementerian ESDM dalam merumuskan langkah-langkah konkret untuk mencapai target 100 GW PLTS. Dirjen EBTKE, Eniya Listiani Dewi, menjelaskan bahwa penyusunan regulasi ini bertujuan memperkuat kerangka kerja pengembangan energi surya di berbagai daerah. Ia juga menegaskan bahwa revisi terhadap Perpres 112 tahun 2022 akan menjadi bagian dari upaya ini, guna mengoptimalkan kebijakan harga beli listrik dari sumber energi terbarukan.
“Kita sedang fokus pada penguatan regulasi untuk mempercepat program arahan Bapak Presiden. Dalam meeting results ini, kami juga mengidentifikasi kebutuhan perubahan dalam kebijakan energi baru terbarukan,” ujar Eniya, sambil menambahkan bahwa prioritas utama adalah menggarisbawahi keterlibatan swasta dalam pengembangan infrastruktur energi surya.
Pengembangan PLTS di Berbagai Wilayah
Program 100 GW PLTS akan mencakup berbagai skema, termasuk pembangunan PLTS terhubung ke jaringan PLN, instalasi atap, dan percepatan dedieselisasi. Pemerintah juga melibatkan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) dalam pengembangan PLTS terapung di lokasi strategis, seperti bendungan dan waduk. “Dengan melibatkan PU, kita bisa mempercepat penyelesaian proyek PLTS apung dan PLTA,” jelas Eniya, menyoroti kerja sama lintas kementerian sebagai kunci keberhasilan.
Dalam meeting results ini, Kementerian ESDM juga menyampaikan rencana penguatan regulasi untuk mendukung hilirisasi energi surya. Eniya menekankan bahwa kebijakan ini harus mencakup kebutuhan permintaan listrik yang lebih tinggi, seperti melalui kendaraan listrik dan konversi mesin industri. Dengan memperluas permintaan, kebijakan pengaturan harga beli listrik akan lebih efektif dalam mencapai target 100 GW.
Meeting results menunjukkan bahwa pemerintah juga mengupayakan penggunaan teknologi baterai sebagai bagian dari sistem PLTS off-grid. Hal ini bertujuan memastikan keandalan pasokan energi di daerah terpencil, sekaligus memperkuat ketersediaan energi terbarukan di seluruh wilayah Indonesia. “Dengan menggabungkan PLTS dan baterai, kita bisa menciptakan solusi energi yang lebih fleksibel dan ekonomis,” tambah Eniya, yang menyoroti pentingnya inovasi teknologi.
Kebijakan baru ini diharapkan dapat mempercepat realisasi 100 GW PLTS dalam beberapa tahun ke depan. Dalam meeting results, pihak Kementerian ESDM juga menyebutkan bahwa program ini akan menjadi bagian dari pembangunan ekonomi nasional, dengan fokus pada penyerapan tenaga kerja dan pengurangan ketergantungan pada energi fosil. Eniya menyatakan bahwa penyusunan regulasi ini akan mengambil waktu sekitar 3-6 bulan, sebelum ditetapkan secara resmi.

