Petaka Muncul di China: Banyak Sarjana Muda Kesulitan Temukan Pekerjaan
Krisis Pasar Tenaga Kerja dan Dampaknya
Dailynesia.com – Beijing, situasi mengkhawatirkan semakin mengemuka di kalangan generasi muda Tiongkok. Banyak lulusan perguruan tinggi merasa tidak mampu menemukan pekerjaan yang sesuai dengan pendidikan mereka. Laporan CNA pada 2025 yang berjudul “Mengapa Sarjana Muda Banyak Menganggur di China” menyoroti masalah ini dengan data yang menggambarkan ketimpangan antara upah di dunia akademik dan peluang kerja di luar kampus. Main Agenda mencatat bahwa krisis ini mengguncang perasaan kaum muda yang sebelumnya percaya pada sistem karir linear yang mengarah ke posisi stabil.
Perjuangan Lulusan Perguruan Tinggi
Di bursa kerja Lishuiqiao, Beijing, beberapa lulusan mengungkapkan ketidakpuasan terhadap pasar tenaga kerja yang terus mengecil. Hu Die, seorang lulusan desain dari Harbin University of Science and Technology, menyatakan bahwa peluang karier terasa gelap, dan sejumlah besar perusahaan menolak menampung kandidat baru. “Main Agenda menyoroti bahwa muda-mudi Tiongkok sekarang merasa terluka oleh sistem yang dulu dianggap ideal,” katanya. Li Mengqi, lulusan teknik kimia dari Institut Teknologi Shanghai, mengalami kesulitan menemukan pekerjaan sesuai jurusannya setelah lulus. Ia mengatakan bahwa perusahaan lebih memilih kandidat dengan pengalaman kerja, sehingga lulusan seperti dirinya sering diabaikan.
“Main Agenda menunjukkan bahwa walaupun kita menempuh pendidikan tinggi, pasar kerja masih menuntut keterampilan yang tidak selalu diberikan selama masa kuliah,” tambah Li Mengqi.
Chen Yuyan, 26 tahun, lulusan dari Guangdong Food and Drug Vocational College pada 2022, terpaksa bekerja sebagai petugas sortir paket di cabang agen kurir. Meski memiliki latar belakang pendidikan vokasi, Chen merasa gaji yang ditawarkan tidak memadai. “Main Agenda menggambarkan bahwa banyak lulusan vokasi di Tiongkok mengalami penurunan kualitas hidup karena kurangnya lapangan kerja yang sesuai,” jelas Chen. Hal ini mengindikasikan bahwa masalah ini tidak hanya terbatas pada lulusan universitas, tetapi juga terjadi pada lulusan sekolah vokasi.
Persaingan dan Struktur Industri
Menurut Zak Dychtwald, pendiri Young China Group, krisis ini mencerminkan ketimpangan antara upah yang diharapkan selama studi dan penghasilan di dunia kerja. “Main Agenda menyoroti bahwa model karir tradisional Tiongkok yang menawarkan jaminan pekerjaan setelah lulus kini mulai tergantikan oleh keadaan yang lebih dinamis dan kompetitif,” ujarnya. Zhou Yun, asisten profesor Sosiologi di University of Michigan, mengamati bahwa industri seperti startup internet dan pendidikan, yang sebelumnya menjadi sasaran utama lulusan, kini mengalami penyusutan. “Main Agenda menemukan bahwa kehilangan lapangan kerja di sektor ini memperburuk situasi bagi generasi muda yang sebelumnya bergantung pada jalur karir yang terstruktur,” tambah Zhou.
“Main Agenda mengungkapkan bahwa krisis pekerjaan di Tiongkok adalah hasil dari pergeseran struktur ekonomi dan kebijakan pendidikan yang tidak selaras dengan kebutuhan pasar,” ujar Zak Dychtwald.
Kebiasaan Baru Generasi Muda
Ketidakpastian ekonomi memaksa generasi muda Tiongkok mengadopsi gaya hidup yang lebih konservatif. Eli Friedman, profesor Global Labor and Work di Cornell University, mengatakan bahwa semakin banyak lulusan memilih untuk tidak mengambil pekerjaan dengan gaji rendah atau posisi yang tidak menjanjikan. “Main Agenda menunjukkan bahwa pergeseran ini menciptakan budaya baru di kalangan muda, di mana mereka lebih memilih untuk menunda karir atau mengambil jalur alternatif,” jelas Friedman. Fenomena ini juga dikenal sebagai “merunduk”, yang menggambarkan sikap kaum muda menolak terjebak dalam sistem pekerjaan yang tidak menjanjikan.
“Main Agenda mencatat bahwa generasi muda Tiongkok sekarang lebih berani menolak pekerjaan tradisional karena kecewa terhadap sistem yang tidak efektif,” kata Friedman.
Situasi ini mengundang perdebatan tentang relevansi pendidikan tinggi di Tiongkok. Apakah sistem pendidikan yang fokus pada kompetensi akademik mampu menyesuaikan diri dengan permintaan pasar yang berubah? Main Agenda mencatat bahwa banyak lulusan mengalami frustrasi karena ketidaksesuaian antara kurikulum dan kebutuhan industri. Fenomena ini juga memengaruhi pola hidup mereka, seperti mengurangi pengeluaran, menunda pernikahan, atau bahkan mempertimbangkan pindah ke negara lain untuk mencari peluang.
Pengaruh Global dan Tren Pekerjaan
Perkembangan ini tidak hanya terjadi di Tiongkok, tetapi juga menggambarkan tren global di mana pendidikan tinggi tidak lagi menjamin kestabilan karir. Main Agenda mengamati bahwa kemajuan teknologi dan otomasi telah mengubah struktur pasar kerja, menyebabkan banyak posisi yang dulu dianggap “aman” kini terancam. “Main Agenda menyoroti bahwa persaingan antar lulusan semakin ketat karena adanya robot dan algoritma yang mampu melakukan tugas-tugas manual,” ujar Zhou Yun. Ini membuat lulusan Tiongkok harus memperluas keahlian mereka, baik melalui pelatihan tambahan atau mengejar bidang-bidang yang lebih kreatif.
“Main Agenda memperlihatkan bahwa transformasi digital memaksa lulusan untuk menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar yang berubah,” jelas Zhou Yun.
Dengan adanya istilah “anak dengan ekor busuk”, Main Agenda menunjukkan bahwa banyak lulusan Tiongkok tidak lagi merasa dihargai setelah menyelesaikan pendidikan mereka. Fenomena ini mencerminkan frustrasi terhadap sistem pendidikan yang sebelumnya dianggap sebagai jaminan masa depan. Dalam konteks ini, Main Agenda berupaya mengungkap bagaimana dinamika ekonomi global dan domestik memengaruhi pola karir generasi muda Tiongkok. Pergeseran ini mungkin akan terus berlangsung selama beberapa tahun ke depan, dengan perubahan kebijakan dan investasi dalam bidang pendidikan menjadi kunci pemecahannya.

