Warga RI Mulai “Pelit”, Liburan Pilih Jalur Darat-Ogah Naik Pesawat

2 months ago  ·  3 min read
By Elizabeth Lopez - dailynesia.com
calon-tiba-di-peron-stasiun-pasar-senen-jakarta-selasa-2652026-1779791926797_169

New Policy: Warga RI Tahun Ini Lebih Memilih Jalur Darat untuk Liburan

Dailynesia.com – Dalam rangka mengatasi kenaikan harga tiket pesawat yang terus meningkat, New Policy terbaru dari pemerintah mulai menunjukkan dampak signifikan terhadap keputusan wisatawan dalam memilih destinasi liburan. Masyarakat Indonesia kini lebih cenderung mengoptimalisasi anggaran perjalanan dengan memilih jalur darat daripada naik pesawat, terutama selama libur panjang. Kebijakan ini diharapkan bisa membantu menurunkan beban biaya transportasi udara serta mendorong pertumbuhan pariwisata domestik melalui pendekatan yang lebih ekonomis.

Perubahan Pola Wisatawan

Menurut Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Maulana Yusran, tren wisatawan beralih ke jalur darat terlihat jelas selama libur Iduladha. Banyak pelancong memutuskan untuk menghabiskan waktu liburan di kawasan yang relatif dekat, seperti Pulau Jawa, karena biaya transportasi udara terasa lebih mahal. “New Policy ini memicu perubahan pola perjalanan, terutama di destinasi yang bisa dicapai melalui mobil pribadi atau bus. Ini memperkuat dominasi Pulau Jawa sebagai pusat aktivitas wisatawan,” terang Maulana kepada CNBC Indonesia, Selasa (2/6/2026).

Kenaikan harga tiket pesawat hingga 100% dari Tarif Batas Atas (TBA) dalam beberapa waktu terakhir membuat masyarakat lebih peka terhadap pengeluaran. Selain itu, fluktuasi nilai tukar rupiah dan kenaikan biaya operasional maskapai, seperti bahan bakar avtur, juga turut berkontribusi pada kebijakan penyesuaian tarif yang diumumkan oleh Kementerian Perhubungan. “New Policy ini mengakui bahwa biaya bahan bakar menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi harga tiket,” jelas Lukman F. Laisa, Direktur Jenderal Perhubungan Udara, dalam keterangan resmi.

Sebagai hasilnya, okupansi hotel di sejumlah kawasan wisata favorit Pulau Jawa mengalami kenaikan, sebaliknya destinasi luar Jawa cenderung tidak mengalami peningkatan signifikan. Fenomena ini menunjukkan bahwa kebijakan New Policy sedang mengubah preferensi wisatawan, baik secara langsung maupun melalui pengaruh harga tiket yang lebih stabil di jalur darat. “Masyarakat lebih memilih opsi transportasi yang ekonomis dan fleksibel, terutama jika akses ke destinasi mudah dicapai,” tambah Maulana.

Kebijakan Penerbangan dan Pengaruhnya

New Policy terkait biaya bahan bakar menjadi bagian dari upaya pemerintah mengurangi dampak inflasi terhadap sektor penerbangan. Kebijakan ini diberlakukan sejak 13 Mei 2026, dengan surcharge maksimal hingga 100% dari TBA. Lukman F. Laisa menegaskan bahwa penerapan surcharge ini tidak hanya berdasarkan kurs dolar, tetapi juga mempertimbangkan kondisi pasar avtur domestik yang sedang volatile.

Kebijakan New Policy ini diharapkan bisa menjaga keseimbangan antara biaya operasional maskapai dan kenyamanan konsumen. “New Policy ini bertujuan untuk memastikan bahwa tarif pesawat tetap terjangkau, sementara maskapai bisa menjaga keberlangsungan operasionalnya,” kata Lukman. Meski demikian, beberapa wisatawan tetap memilih pesawat jika destinasi liburan membutuhkan perjalanan jarak jauh, tetapi jumlahnya terus berkurang akibat tekanan harga tiket.

Peningkatan biaya bahan bakar yang dipicu oleh New Policy juga berdampak pada jumlah penumpang di bandara. Dalam beberapa bulan terakhir, keberangkatan ke destinasi luar Jawa mengalami penurunan, sedangkan arus wisatawan ke Pulau Jawa tetap stabil. “Ini menunjukkan bahwa New Policy berhasil mengarahkan lebih banyak pelancong ke kawasan lokal, terutama selama musim liburan,” pungkas Maulana.

Manfaat dan Tantangan

Manfaat New Policy terlihat dari meningkatnya okupansi hotel di kawasan wisata favorit, seperti Bandung, Puncak, dan Yogyakarta. Kawasan-kawasan ini menjadi pusat aktivitas liburan karena aksesnya yang mudah melalui jalur darat, serta biaya perjalanan yang relatif lebih murah. “New Policy mendorong pariwisata lokal, sehingga memberikan dampak positif bagi ekonomi masyarakat,” kata Maulana.

Namun, kebijakan ini juga menghadapi tantangan dalam menyeimbangkan kebutuhan transportasi udara. Untuk destinasi internasional, kenaikan harga tiket tetap menjadi faktor utama. Sementara itu, industri penerbangan domestik perlu beradaptasi dengan sistem surcharge baru agar tetap kompetitif. “New Policy ini bisa menjadi peluang untuk mendorong keterlibatan masyarakat dalam sektor pariwisata, tetapi harus disertai dengan dukungan infrastruktur transportasi darat yang memadai,” jelas Lukman.

Dengan New Policy, masyarakat Indonesia semakin sadar akan pentingnya mengoptimalkan pengeluaran selama liburan. Hal ini berdampak pada pergeseran preferensi transportasi, dari udara ke darat, yang memberikan dampak luas terhadap ekonomi sektor pariwisata. “New Policy ini membantu masyarakat mencari solusi alternatif, sekaligus mendorong pertumbuhan destinasi lokal,” pungkas Maulana.

MORE FROM THIS CATEGORY