Muncul Fenomena Ayam Goreng-Daging di Warteg Mulai Tak Laku – Ada Apa?

2 months ago  ·  4 min read
By Elizabeth Lopez - dailynesia.com
pedagang-warung-tegal-warteg-memajang-masakannya-ditengah-harga-plastik-mengalami-kenaikan-di-jakarta-selasa-552026-1777971947135_169

Muncul Fenomena Ayam Goreng-Daging di Warteg Mulai Tak Laku, Ada Apa?

Keresahan Pedagang Akibat Perubahan Pola Konsumsi

Dailynesia.com – Jakarta — Perubahan pola konsumsi masyarakat belakangan ini semakin menggoyahkan bisnis warung makan (warteg). Banyak pedagang mengeluhkan penurunan daya beli pengunjung, yang tampak jelas dari kecenderungan pelanggan memilih lauk pauk dengan harga lebih terjangkau. Fenomena ini juga memengaruhi penjualan beberapa makanan favorit, termasuk ayam goreng dan daging sapi. Amirah, salah satu pelaku usaha di kawasan Senen, Jakarta Pusat, mengakui adanya pergeseran preferensi pembeli. Menurutnya, konsumen kini lebih memilih makanan dengan harga Rp10.000 hingga Rp20.000, seperti tempe-tahu, telur balado, serta berbagai gorengan.

“Benar, pengunjung sekarang lebih cenderung membeli lauk yang harganya di bawah Rp20.000. Mereka memilih tempe-tahu goreng, sayuran, dan gorengan daripada ayam goreng atau daging sapi,” ujarnya saat ditemui CNBC Indonesia, Sabtu lalu (30/5/2026).

Kenaikan Harga Bahan Makanan Berdampak Pada Kebiasaan Belanja

Kenaikan harga bahan baku memaksa pengusaha menyesuaikan strategi pemasaran. Amirah menjelaskan bahwa beberapa menu yang sebelumnya laris terus kini mulai mengalami penurunan pesanan. Misalnya, lauk rendang daging sapi dan semur sapi yang biasanya dipakai sebagai pilihan utama, kini tidak lagi banyak diminati. Sementara itu, menu dengan harga lebih rendah seperti telur balado dan tempe-tahu mengalami peningkatan permintaan.

“Sebanyak 80 persen pembeli saat ini memilih lauk di bawah Rp20.000. Harga menu sekitar Rp10.000-an jadi pilihan utama, sedangkan menu di atas Rp20.000 mulai susah dicari,” tambah Amirah.

Pengaruh Inflasi Terhadap Kebutuhan Harian Pengunjung

Dampak inflasi terasa jelas pada kebutuhan sehari-hari masyarakat. Kusuma, pedagang warteg di kawasan berbeda, mengungkapkan bahwa pola pemesanan lauk berubah drastis. Ia menyatakan, pelanggan kini lebih memilih sayuran dan gorengan sebagai lauk utama, sementara rendang dan udang yang sebelumnya populer kini mulai ditinggalkan.

“Dulu, rendang dan udang sering dibeli oleh pelanggan, tapi kini mereka lebih memilih tempe-tahu goreng dan sayur. Menu yang di bawah Rp10.000 jadi pilihan utama, sedangkan yang di atas Rp20.000 sudah tak lagi banyak diminati,” kata Kusuma.

Perubahan Struktur Menu Berdasarkan Daya Beli

Para pengusaha mulai menyesuaikan struktur menu agar sesuai dengan kemampuan finansial pelanggan. Surono, pedagang warteg lainnya, menuturkan bahwa harga menu yang naik menyebabkan perubahan pola belanja. Banyak pelanggan memilih paket makanan dengan biaya lebih terjangkau, seperti nasi dengan lauk seharga Rp10.000 hingga Rp15.000.

“Karena harga bahan baku meningkat, pembeli kini lebih selektif. Kami biasanya menyediakan daging kikil yang ludes terjual, tapi sekarang kadang sampai sore masih ada sisa. Hal ini terjadi karena menu yang mahal seperti rendang dan udang tak lagi diminati,” tutur Surono.

Pengurangan Penggunaan Bahan Mahal Dalam Pembuatan Makanan

Dalam upaya mengoptimalkan pengeluaran, pelanggan mulai mengurangi penggunaan bahan makanan yang harganya lebih tinggi. Surono menambahkan bahwa pengurangan penggunaan udang menjadi salah satu dampak utama dari kenaikan harga. Meski demikian, ia masih menjual ayam goreng sebagai alternatif. “Udang mahal, jadi menu yang dicampur dengan nasi dan sayur memang bisa sampai Rp20.000. Tapi banyak orang lebih memilih ayam goreng karena lebih ekonomis,” jelas Surono.

Strategi Penyesuaian Harga Dan Variasi Menu

Sebagai respons terhadap kecenderungan ini, para pedagang mulai menyesuaikan harga dan variasi menu. Kusuma, misalnya, menuturkan bahwa ia telah menghentikan penjualan udang goreng karena permintaan menurun. Ia tetap menjual ayam goreng, tetapi menyesuaikan porsi agar lebih murah. “Pembeli sekarang mencari kepuasan dari harga terjangkau, tapi tetap ingin nasi yang porsi cukup. Jadi, lauk dipilih berdasarkan kebutuhan, bukan hanya rasa,” tambah Kusuma.

Pengaruh Jangka Panjang Pada Bisnis Warteg

Perubahan ini berpotensi mengubah dinamika bisnis di sektor warteg. Selain menurunkan penjualan lauk mahal, kenaikan harga bahan baku juga memaksa pengusaha mengurangi penggunaan bahan-bahan tertentu. Amirah menekankan bahwa pengunjung kini lebih memprioritaskan kebutuhan dasar. “Mereka ingin harga yang murah, tapi tetap merasa puas dengan makanan. Jadi, berbagai variasi sayuran dan gorengan jadi solusi untuk memenuhi kebutuhan,” katanya.

Kebutuhan Adaptasi Dalam Pelayanan

Dalam kondisi ini, adaptasi menjadi kunci untuk bertahan. Pedagang mulai memperkenalkan menu baru yang lebih terjangkau, sekaligus mengoptimalkan penggunaan bahan yang tersedia. Amirah mengatakan bahwa perubahan ini memaksa para pengusaha menyesuaikan strategi pemasaran. “Kami mulai menyusun menu yang lebih sederhana agar bisa menjangkau lebih banyak konsumen. Meski begitu, kami tetap menjaga kualitas nasi agar tetap menarik,” jelasnya.

Tren Konsumsi Masyarakat Dan Faktor Ekonomi

Faktor ekonomi seperti inflasi dan kenaikan pengeluaran rumah tangga turut memengaruhi keputusan belanja. Surono menilai bahwa pengurangan lauk mahal seperti daging sapi dan udang adalah tanda dari perubahan kebiasaan. “Pembeli sekarang lebih memilih menu yang praktis, tapi tetap ingin nasi yang porsi cukup. Karena itu, kami berupaya menyediakan lauk dengan harga terjangkau, meski rasanya kurang lengkap,” kata Surono.

Peluang Dan Tantangan Bagi Pengusaha Warteg

Perubahan ini memberikan tantangan sekaligus peluang bagi pengusaha. Dengan menawarkan menu

MORE FROM THIS CATEGORY