Ekspor Sawit, Batu Bara, dan Ferro Alloy RI Melalui PT DSI: Inilah Alasannya
Dailynesia.com – Pemerintah Indonesia mengumumkan penggunaan PT Danantara Sumber Daya Indonesia (PT DSI) sebagai penanggung jawab pengelolaan mekanisme ekspor satu pintu untuk tiga komoditas strategis utama, yaitu batu bara, kelapa sawit, serta ferro alloy. Kebijakan ini dirancang sebagai bagian dari Latest Program pemerintah untuk meningkatkan transparansi dan efisiensi dalam transaksi ekspor, khususnya untuk barang tambang yang memiliki peran krusial dalam perekonomian nasional. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menjelaskan bahwa Latest Program ini akan memberikan pengawasan lebih ketat terhadap ekspor, sekaligus memastikan data yang dihasilkan lebih akurat dan dapat dipercaya.
Kebijakan Ekspor Satu Pintu
Latest Program ini berfokus pada pengaturan mekanisme ekspor yang terpusat melalui PT DSI, dengan tujuan mengurangi praktik-praktik ekspor yang merugikan negara. Airlangga Hartarto menyebutkan bahwa penggunaan satu pintu akan meminimalkan risiko kebocoran devisa, under invoicing, serta transfer pricing yang sering terjadi dalam transaksi ekspor. “Dengan Latest Program ini, transaksi ekspor bisa diawasi secara lebih ketat, sehingga nilai ekspor yang tercatat lebih mencerminkan realitas transaksi dan penerimaan negara bisa optimal,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Minggu (31/5/2026).
Ekspor satu pintu juga akan membantu mengoptimalkan pengelolaan keuangan negara, karena seluruh transaksi akan diakses melalui sistem yang terintegrasi. Menteri Airlangga menekankan bahwa kebijakan ini adalah langkah strategis untuk memperkuat posisi Indonesia dalam pasar internasional, terutama dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat. Selain itu, mekanisme ini juga diharapkan dapat meningkatkan keandalan data ekspor, yang menjadi acuan penting dalam pembuatan kebijakan ekonomi.
Detail Ekspor 2025
Data dari tahun 2025 menunjukkan bahwa ekspor batu bara, kelapa sawit, dan ferro alloy menghasilkan total nilai sebesar US$66,13 miliar, atau sekitar 23,4% dari seluruh ekspor nasional. Komoditas-komoditas ini menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia, dengan masing-masing menyumbang US$24,48 miliar (batu bara), US$24,42 miliar (kelapa sawit atau CPO), serta US$16,49 miliar (ferro alloy). “Tiga komoditas ini memiliki dampak besar terhadap neraca perdagangan, dan Latest Program akan memastikan keberhasilan mereka diawasi secara lebih baik,” kata Airlangga.
Menurut Airlangga, kebijakan ekspor satu pintu akan mencakup tiga tahap utama, yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Tahap perencanaan dilakukan dengan menyusun rincian kebijakan berdasarkan data historis dan proyeksi pasar. Tahap pelaksanaan memerlukan kerja sama intensif antara PT DSI, Kementerian Perdagangan, serta badan-badan terkait lainnya. Terakhir, evaluasi akan dilakukan untuk mengecek efektivitas kebijakan dan menyesuaikan kebutuhan berikutnya. “Proses ini membutuhkan koordinasi yang baik, namun Latest Program dipercaya akan memberikan hasil yang signifikan,” tambahnya.
Kontribusi terhadap Neraca Perdagangan
Kebijakan ekspor satu pintu melalui PT DSI diharapkan bisa memperkuat surplus neraca perdagangan Indonesia, yang sudah terjadi selama 71 bulan berturut-turut. Ketiga komoditas utama tersebut telah menjadi tulang punggung devisa negara, dan Latest Program akan memastikan mereka tetap berkontribusi secara optimal. Airlangga menambahkan bahwa pengaturan ini juga akan memfasilitasi akses ke pasar global, karena data ekspor yang lebih akurat akan memudahkan negosiasi perdagangan dengan negara-negara mitra.
Kelapa sawit, sebagai komoditas utama, masih menjadi penghasil devisa terbesar setelah batu bara. Kontribusi ferro alloy, meskipun lebih sedikit, tetap signifikan dalam memperkuat keberhasilan ekspor. Dengan Latest Program, pemerintah juga berharap bisa meningkatkan daya saing Indonesia dalam perdagangan internasional, serta mengurangi risiko kerugian akibat praktik ekspor yang tidak transparan. “Kita perlu memastikan bahwa ekspor bisa menjadi penggerak utama perekonomian, bukan hanya sumber devisa,” jelas Airlangga.

