Waspada! 4 Wilayah RI Ini Terancam Krisis Air Bersih
Dailynesia.com – Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus mendatang, dengan prediksi tahun ini menjadi musim kemarau terpanjang dalam sejarah. Beberapa daerah di Pulau Jawa telah diidentifikasi sebagai zona rawan menghadapi kesulitan pasokan air bersih, berdasarkan data dari Bappenas.
“Indonesia secara rata-rata air masih aman, tetapi jika dilihat per pulau, per region, ini yang banyak kekurangan air ada di Pulau Jawa,”
kata Dadang Jainal Mutaqin, Direktur Kehutanan dan Konservasi Sumber Daya Air di Bappenas, dalam acara diseminasi Indonesia Environmental Outlook (IEO) 2026 pada Maret lalu.
BMKG juga memperkirakan sebagian besar Zona Musim akan mengalami kondisi hujan di bawah normal (64,5%). Hal ini berpotensi mengganggu ketersediaan air untuk kebutuhan sehari-hari. Wilayah yang terancam mengalami kekeringan di Pulau Jawa antara lain: 1. Jawa Barat, 2. Jawa Tengah, 3. Jawa Timur, dan 4. DKI Jakarta.
Jawa Barat
Berdasarkan prediksi BMKG, hampir 93% wilayah Jawa Barat akan masuk musim kemarau dengan curah hujan lebih rendah dari biasanya. Area seperti Bandung, Tasikmalaya, Cianjur, Sukabumi, Cirebon, dan Kuningan diperkirakan mengalami kondisi tersebut. Faktor utama penyebab akses air bersih terganggu di Jakarta meliputi ekstraksi air tanah intensif yang mempercepat penurunan muka tanah dan polusi tinggi yang mengotominasi sumber air permukaan.
Jawa Tengah
Pemetaan BPBD Jawa Tengah menunjukkan beberapa daerah berpotensi mengalami krisis air pada musim kemarau 2026. Wilayah rawan meliputi Grobogan, Blora, Rembang, Sragen, Klaten, Pemalang, serta Wonogiri. Untuk mengantisipasi dampaknya, pemerintah daerah telah menyediakan cadangan air mencapai 123 juta liter.
Jawa Timur
Jawa Timur masuk dalam daftar provinsi dengan risiko tinggi krisis air bersih. Tekanan terhadap pasokan air melibatkan penggunaan besar oleh sektor pertanian yang mencapai 80% dari total volume air nasional, sekaligus kebutuhan domestik industri selama musim hujan rendah.
DKI Jakarta
DKI Jakarta menjadi salah satu wilayah di Pulau Jawa dengan isu ketersediaan air terkritis. Masalah ini disebabkan oleh ekstraksi air tanah secara masif yang mempercepat penurunan muka tanah, serta polusi tinggi yang mengotominasi sumber air permukaan. Pada saat musim kemarau berlangsung, akses air bersih akan semakin terbatas.

