Terduga Under Invoicing – 2 Raksasa Sawit Lapor Keuangan di Singapura

2 months ago  ·  2 min read
By Elizabeth Lopez - dailynesia.com
bfe6cd4c-a801-47be-a3a6-dc688351caa8-0

Dua Perusahaan Sawit Besar Diduga Lakukan Praktik Under Invoicing dan Transfer Pricing

Dailynesia.com – Dalam penyelidikan terbaru, Kementerian Keuangan menemukan adanya indikasi penyusutan pendapatan dan kebijakan transfer pricing yang dilakukan oleh sepuluh entitas bisnis di sektor sawit. Dua perusahaan besar yang menjadi sorotan adalah Wilmar International Limited serta Golden Agri-Resources, yang tergabung dalam kelompok Sinar Mas. Selain itu, Musim Mas Group dan PT Salim Ivomas Pratama Tbk juga terlibat dalam skema tersebut.

Mengenai kegiatan ekspor Crude Palm Oil (CPO), pemerintah menemukan celah dalam laporan keuangan perusahaan-perusahaan terkait. Wilmar dan anak perusahaan Sinar Mas, termasuk Golden Agri-Resources, diduga melakukan praktik underinvoicing yang menyebabkan ketidakseimbangan antara volume pendapatan dan tingkat laba. Langkah yang diambil oleh otoritas fiskal bertujuan memastikan transparansi ekspor, bukan memutus operasional mereka.

Kinerja Finansial Wilmar dan Golden Agri-Resources

Dalam laporan kuartal pertama 2026, Wilmar International Limited mencatatkan kenaikan pendapatan sebesar 21,9% YoY menjadi Rp 353,25 triliun. Namun, laba bersih perusahaan justru mengalami penurunan signifikan hingga 22,8% ke level Rp 4,75 triliun. Anomali ini mengakibatkan Net Profit Margin (NPM) Wilmar turun dari 2,12% pada awal 2025 menjadi 1,34%.

Sementara itu, Golden Agri-Resources Ltd melaporkan pertumbuhan pendapatan sebesar 6,0% menjadi Rp 57,81 triliun. Meski penjualan meningkat, laba bersih perusahaan mengalami koreksi tajam sebesar 20,0% ke Rp 786,81 miliar. Perubahan ini menekan margin laba bersih perusahaan hingga mencapai 1,36%.

Sinar Mas Agro Resources dan Tekanan Operasional

Di sisi lain, PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR) menunjukkan pergerakan yang berbeda. Perusahaan domestik ini melaporkan penurunan pendapatan sebesar 2,0% ke Rp 20,73 triliun. Meski demikian, efisiensi operasional SMAR menunjukkan peningkatan drastis, dengan laba bersih meningkat 518,1% menjadi Rp 829,50 miliar.

Kenaikan yang signifikan ini mendorong marjin laba bersih SMAR melompat dari 0,63% pada awal 2025 menjadi 4,00% pada kuartal pertama 2026. Dinamika kontras antara keuntungan yang menurun di luar negeri dan peningkatan efektif di dalam negeri menjadi perhatian pemerintah.

Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

MORE FROM THIS CATEGORY