Harga Emas Bikin Cemas, Jatuh Bangun dalam Hitungan Jam

2 months ago  ·  3 min read
By David Williams - dailynesia.com
emas_169-2

Harga Emas Mengalami Perubahan Drastis, Bergerak dari Penurunan Tajam hingga Penguatan Signifikan

Dailynesia.com – Harga emas mengalami perubahan yang signifikan dalam waktu singkat, menimbulkan ketidakpastian bagi para investor dan pedagang. Di pasar Jakarta, harga emas melambung setelah dolar AS melemah dan harga minyak bergerak turun, yang dipicu oleh kabar kesepakatan perpanjangan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. Data dari Refinitiv menunjukkan bahwa harga emas ditutup pada Kamis (28/5/2026) di US$ 4491,93 per troy ons, naik 0,78% dari level sebelumnya. Kenaikan ini menjadi indikasi pergeseran sentimen pasar, meski fluktuasi harga emas terus memicu rasa cemas.

Faktor Penyebab Perubahan Harga Emas

Topics Covered: Dalam dua hari sebelumnya, harga emas sempat mencapai titik terendah US$ 4300, terutama saat pasar beralih fokus ke berita geopolitik. Perpanjangan gencatan senjata antara AS dan Iran memberikan tekanan signifikan pada dolar AS, yang turun 0,2% ke 99,02 pada Rabu (27/5/2026), mencapai level terendah sejak 5 Mei. Penurunan nilai tukar dolar AS berdampak langsung pada daya tarik emas sebagai aset safe haven. Sementara itu, harga minyak Brent juga turun setelah pengumuman tersebut, yang menambah ketidakstabilan pasar komoditas.

Topics Covered: Selain perubahan nilai tukar mata uang, data inflasi AS menjadi faktor penting dalam menentukan arah harga emas. Indeks pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) naik 3,8% secara tahunan hingga April 2026, sesuai ekspektasi pasar. Kenaikan PCE sebesar 0,4% di bulan April menunjukkan adanya tekanan inflasi yang terus berlangsung, meski laju kenaikan melambat dibandingkan bulan sebelumnya. Analis mengingatkan bahwa data ini bisa memengaruhi kebijakan moneter Federal Reserve, yang berdampak besar pada pasar keuangan global.

Pengaruh Data PCE terhadap Kebijakan Federal Reserve

Topics Covered: Kepala strategi komoditas global TD Securities, Bart Melek, mengatakan bahwa data PCE memberikan ruang bagi The Federal Reserve untuk menahan suku bunga dan menghindari penguatan kebijakan moneter. Meski risalah rapat The Fed pada 28-29 April menunjukkan ada pejabat yang tetap optimis dengan kenaikan suku bunga lanjutan, kecenderungan pasar mulai mempertimbangkan kemungkinan pelambatan inflasi. Dengan adanya indikasi pelambatan inflasi, kebijakan moneter bisa lebih longgar, yang pada akhirnya akan mendorong permintaan terhadap emas.

Topics Covered: Dalam beberapa bulan terakhir, emas cenderung tidak bisa sepenuhnya menjadi “penyelamat” bagi investor, terutama saat suku bunga AS naik. Namun, dengan kemungkinan The Federal Reserve mempertahankan kebijakan moneter yang lebih longgar, emas kembali menjadi pilihan utama. Perkembangan ini memperlihatkan bahwa kebijakan ekonomi global memainkan peran penting dalam menentukan harga emas, yang terus bergerak cepat di tengah ketidakpastian politik dan ekonomi.

Harga Perak Juga Melambung, Mengikuti Pola Emas

Topics Covered: Tidak hanya emas, perak juga mengalami peningkatan signifikan. Pada perdagangan Kamis (28/5/2026), perak ditutup di US$ 75,64 per troy ons, naik 1,38% dari level sebelumnya. Peningkatan ini mengikuti tren kenaikan emas, yang menunjukkan adanya korelasi kuat antara dua komoditas logam mulia. Perak sempat jatuh 3,4% dalam dua hari beruntun sebelumnya, namun kenaikan kembali muncul setelah krisis geopolitik memudarkan appetit investor terhadap aset berisiko.

Topics Covered: Meningkatnya permintaan terhadap perak berdampak pada peningkatan volume transaksi, terutama dari negara-negara yang mengalami kekacauan ekonomi. Harga perak bergerak naik 0,14% pada Jumat (29/5/2026) menjadi US$ 75,74 per troy ons, mengikuti dinamika emas. Analis mengingatkan bahwa kenaikan harga perak bisa menjadi tanda bahwa investor mulai mengubah strategi investasi mereka, terutama setelah mencatatkan keuntungan yang mengalir ke aset safe haven seperti logam mulia.

Kontribusi Kebijakan Pemerintah Tiongkok

Topics Covered: Sebagai negara utama pengguna emas, Tiongkok juga memainkan peran kunci dalam menentukan arah harga emas. Impor emas melalui Hong Kong melonjak 81,2% pada April 2026 dibanding bulan sebelumnya, yang menunjukkan kebutuhan akan aset logam mulia semakin meningkat. Kenaikan impor ini mencerminkan strategi pemerintah Tiongkok dalam mengamankan cadangan emas dan memperkuat kebijakan moneter mereka. Dengan tuntutan inflasi yang meningkat, Tiongkok memprioritaskan investasi emas sebagai pilihan aman.

Topics Covered: Kenaikan impor emas Tiongkok bukan hanya terkait kebutuhan domestik, tetapi juga kebijakan global. Perusahaan-perusahaan Tiongkok aktif memasukkan emas ke dalam portofolio investasi mereka, yang sejalan dengan kecenderungan investor lain. Perubahan kebijakan ekspor dan impor emas di Asia Tenggara berdampak langsung pada harga global, yang terus berfluktuasi di tengah dinamika politik dan ekonomi. Dengan adanya fakta ini, emas tetap menjadi magnet bagi investor yang mencari stabilitas di tengah ketidakpastian.

MORE FROM THIS CATEGORY