Heboh Kasus Ilmuwan Palsu RI di Konferensi Dunia, ITB-LPDP Buka Suara

2 months ago  ·  4 min read
By James Lopez - dailynesia.com
0f1693c2-85c5-485b-a61d-bee997c31010-0

Kontroversi Peneliti Indonesia Palsu di Konferensi Internasional, ITB dan LPDP Beri Penjelasan

Dailynesia.com – Skandal penelitian yang menimbulkan sorotan di media sosial terjadi saat seorang peneliti Indonesia hadir dalam Konferensi Internasional International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases (ISSPD) di Kopenhagen, 17-21 Mei 2026 lalu. Mahasiswa Indonesia, Wa Ode Dwi Daningrat, menemukan indikasi manipulasi data serta penggunaan identitas yang tidak sesuai dalam empat riset yang dipresentasikan. Dugaan ini memicu perdebatan mengenai integritas akademik, terutama terkait program pendidikan tinggi yang melibatkan beasiswa dan penelitian internasional.

Penjelasan ITB tentang Riset Prihatini

ITB mengeluarkan pernyataan resmi untuk merespons kasus yang menimpa Prihatini, peneliti yang diduga melibatkan data palsu dalam presentasi di ISSPD. Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ITB, Aep Patah, menjelaskan bahwa materi riset yang dipresentasikan tidak terkait langsung dengan tesis atau penelitian yang dijalani Prihatini di institusi tersebut. “Riset yang diajukan dalam konferensi itu adalah kegiatan pribadi, bukan hasil kerja kelompok atau program yang didukung ITB,” tambahnya.

Menurut Aep Patah, Prihatini menyelesaikan studi Magister di ITB pada 2022 dengan tesis berjudul “Kajian Analitik Gelombang Air Akibat Longsoran pada Pantai Miring.” Kebutuhan mempresentasikan riset dalam forum internasional memungkinkan peneliti memanfaatkan berbagai sumber dan kerja sama, tetapi tidak semua penelitian yang disampaikan diakui oleh institusi sebagai hasil kerja yang resmi.

ITB menegaskan bahwa mereka bersedia membantu investigasi jika diperlukan. “Jika terbukti ada pelanggaran, kita akan menghormati proses hukum dan bersama-sama menindaklanjuti tindakan yang sesuai,” jelas Aep Patah. Lebih lanjut, ia menekankan bahwa institusi terus berupaya memperkuat sistem pengecekan kredibilitas peneliti sebelum mereka diizinkan mengikuti program internasional.

Respons LPDP terhadap Kasus Beasiswa

Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) juga memberikan pernyataan terkait dugaan kecurangan yang melibatkan Prihatini, salah satu penerima beasiswa mereka. Kepala Divisi Hukum dan Komunikasi LPDP, M. Lukmanul Hakim, menjelaskan bahwa lembaga sedang melakukan verifikasi terhadap data yang diberikan oleh peneliti. “Prihatini adalah alumni beasiswa LPDP yang telah menyelesaikan studi pada 2022, dan kita sedang memeriksa kesesuaian kinerjanya selama masa penelitian,” katanya.

“Kita tidak memungkiri bahwa kasus ini memicu pertanyaan mengenai transparansi dalam penggunaan dana beasiswa. Selain itu, kita juga mengingatkan para peneliti untuk lebih teliti dalam mempresentasikan hasil kerja mereka, terutama yang melibatkan kolaborasi internasional,” kata Lukmanul Hakim dalam pernyataan terkini.

LPDP berkomitmen untuk memperbaiki mekanisme pengawasan dan memastikan semua penerima beasiswa memenuhi standar akademik yang diharapkan. “Kita akan melanjutkan investigasi hingga hasilnya memenuhi kriteria kepastian, baik melalui data internal maupun kerja sama dengan universitas mitra,” tambahnya. Langkah ini diharapkan bisa memberikan jaminan bahwa para peneliti yang menerima dukungan dana pendidikan tetap menjunjung etika riset.

Kronologi Penemuan Skandal

Kasus ini diungkapkan oleh Wa Ode Dwi Daningrat, seorang mahasiswa S3 di Oxford University, melalui akun Instagram. Ia menyoroti bahwa empat riset yang dipresentasikan Prihatini pada konferensi tersebut sebenarnya hasil kolaborasi dengan dua peneliti lainnya, Rifaldy Fajar dan Rini Winarti. Meski demikian, nama mereka tidak tercantum sebagai penulis atau penyumbang data dalam presentasi.

Empat riset tersebut menggunakan nama AI-Biomedicine Research Group dan IMCDS-Biomed Research Foundation, Jakarta sebagai institusi asal. Rini Winarti, salah satu peneliti, menyebutkan bahwa identitas peneliti di sesi presentasi juga menimbulkan keraguan, termasuk nama “Riana Dwi Kurniawati” yang disebut sebagai pemateri utama.

Wa Ode mengklaim bahwa informasi ini ditemukan setelah memeriksa laporan riset serta data hasil kolaborasi secara menyeluruh. “Saya menemukan bahwa beberapa data dalam riset Prihatini tidak konsisten dengan hasil yang telah dipublikasikan sebelumnya, sehingga mendorong saya untuk menyampaikan kecurigaan ini,” katanya. Proses penyelidikan diharapkan bisa membuka peluang untuk memperbaiki sistem verifikasi di masa depan.

Langkah Selanjutnya dalam Investigasi

Setelah pihak ITB dan LPDP memberikan penjelasan, kini proses investigasi lebih lanjut akan dilakukan untuk mengungkap seluruh fakta. Pihak universitas dan lembaga beasiswa berencana melakukan pemeriksaan lebih mendalam terhadap latar belakang peneliti, data yang digunakan, serta dokumentasi kerja sama dengan institusi lain. “Kita akan memastikan bahwa semua proses penelitian dilakukan secara transparan dan akuntabel,” kata Aep Patah dalam wawancara terpisah.

Langkah ini tidak hanya untuk menyelesaikan kasus Prihatini, tetapi juga sebagai upaya memperkuat kepercayaan publik terhadap program akademik yang dijalankan oleh ITB dan LPDP. Peningkatan kerja sama dengan pihak internasional akan menjadi fokus utama dalam memperbaiki sistem pengecekan kredibilitas,” jelasnya.

Dalam jangka panjang, ITB dan LPDP berencana mengimplementasikan sistem verifikasi yang lebih ketat, termasuk melibatkan auditor independen untuk meninjau hasil riset yang dipresentasikan dalam konferensi internasional. “Kita ingin menghindari kejadian serupa terulang, terutama dalam program yang berfokus pada pendidikan tinggi dan penelitian internasional,” tegas Lukmanul Hakim. Langkah ini diharapkan bisa memperbaiki citra akademik Indonesia di panggung global.

Peristiwa ini menjadi bahan evaluasi untuk mengecek apakah sistem beasiswa dan penelitian telah menghasilkan kualitas yang optimal. Meski ada dugaan manipulasi data, pihak ITB dan LPDP tetap mempertahankan kredibilitas program mereka. “Kasus ini adalah contoh bagaimana pentingnya transparansi, tetapi bukan akhir dari upaya membangun integritas akademik yang lebih baik,” tutur Aep Patah dalam pernyataan terbaru. Dengan demikian, “Latest Program” yang melibatkan kerja sama internasional akan terus diperbaiki untuk memastikan keberhasilan dan kejujuran penelitian.

MORE FROM THIS CATEGORY