Main Agenda: China Senggol Sekutu Kuat AS di Asia, Beri “Hukuman” Ini

2 months ago  ·  3 min read
By James Lopez - dailynesia.com
presiden-china-xi-jinping-mengangkat-gelas-berisi-minuman-saat-berbicara-di-jamuan-makan-kenegaraan-bersama-presiden-as-donald-1778763837267_169

China Senggol Sekutu Kuat AS di Asia, Beri “Hukuman” Ini

Dailynesia.com – Topik utama dalam perdebatan geopolitik Asia saat ini adalah upaya Tiongkok memperketat pembatasan ekspor bahan mineral kritis ke Jepang, sebagai bagian dari Main Agenda yang dijalankan Beijing untuk menekan kebijakan sekutu utamanya, Amerika Serikat. Langkah ini diumumkan bulan ini, mengikuti keputusan Jepang yang menurut Tiongkok berpotensi memperkuat kemiliteran dan menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan.

Dalam wawancara dengan media, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, menjelaskan bahwa Tiongkok melarang ekspor barang-barang dengan fungsi ganda untuk kegunaan militer Jepang, termasuk elemen tanah jarang yang menjadi komponen penting dalam teknologi pertahanan. Main Agenda ini berfokus pada menghentikan remiliterisasi dan ambisi nuklir Jepang, yang dianggap berpotensi meningkatkan tekanan terhadap Taiwan, wilayah yang dibantah statusnya oleh Tiongkok sebagai bagian dari negara tersebut.

Pembicaraan Politik dan Perubahan Kebijakan

Seperti dilaporkan Financial Times, Presiden Tiongkok Xi Jinping menyoroti isu peningkatan anggaran pertahanan Jepang selama pertemuan dengan Presiden AS Donald Trump di Beijing awal bulan ini. Main Agenda Beijing menegaskan bahwa Tiongkok akan menggunakan alat ekonomi untuk memengaruhi kebijakan sekutu AS, yang dianggap bertentangan dengan kepentingan regional. Kebijakan pembatasan ekspor ini juga diterapkan sejak Januari lalu, dengan penjelasan resmi bahwa langkah tersebut merupakan bagian dari strategi pencegahan militer Jepang.

Kementerian Perdagangan Tiongkok memberikan penjelasan lebih lanjut bahwa larangan ekspor mencakup berbagai bahan yang bisa digunakan untuk pembuatan senjata. Ini memperkuat asumsi bahwa Main Agenda Beijing bertujuan mengurangi kemampuan Jepang dalam memperkuat pertahanan militer dan melibatkan negara-negara tetangga. Mengingat Jepang memainkan peran penting dalam kebijakan pertahanan AS di Asia Tenggara, langkah Tiongkok dianggap sebagai usaha memperkecil ketergantungan AS pada negara-negara mitra.

Ekspansi Militer Jepang dan Kekhawatiran Tiongkok

Ekspansi militer Jepang telah menjadi fokus utama Main Agenda negara tersebut dalam beberapa tahun terakhir. Sejak November, para pemimpin Jepang memicu reaksi dari Beijing setelah Perdana Menteri Sanae Takaichi menyatakan bahwa keamanan negara tergantung pada kekuatan militer dan kemampuan melindungi Taiwan. Meski secara hukum Jepang terbatas hanya untuk pertahanan wilayah, upaya memperluas peran militer menurut Tiongkok berpotensi memicu perang besar kembali.

Dalam beberapa bulan terakhir, Tiongkok memperketat sanksi ekspor sebanyak dua kali, terutama pada Februari. Kabar dari Newsweek menyebutkan bahwa kebijakan ini mencakup mineral kritis seperti neodimium dan lanthanum, yang merupakan bahan baku untuk mesin jet dan baterai. Kebijakan ekspor ini menjadi bagian dari Main Agenda Tiongkok dalam mengantisipasi kebijakan militerisasi Jepang, yang dianggap mengancam kestabilan dan keseimbangan kekuatan di kawasan Pasifik.

Kebijakan Tiongkok juga menunjukkan perubahan tajam dalam struktur hubungan ekonomi dan politik dengan Jepang. Sebelumnya, Tiongkok membangun kerja sama ekonomi yang kuat dengan Jepang, tetapi kini Main Agenda Beijing lebih mengarah pada intervensi langsung untuk mengendalikan kebijakan pertahanan sekutu AS. Menurut Gracelin Baskaran, pakar dari Center for Strategic and International Studies, langkah ini menegaskan bahwa Tiongkok semakin aktif menggunakan rantai pasok sebagai alat diplomasi dan pencegahan.

Peningkatan kemiliteran Jepang memicu reaksi internasional, termasuk dari Tiongkok yang menuduh negara itu ingin kembali ke era militerisme Kekaisaran Jepang pada tahun 1930-an hingga 1940-an. Main Agenda Beijing dalam memperketat ekspor ke Jepang menggambarkan upaya mengurangi kemungkinan terjadinya konflik dengan mengendalikan akses bahan-bahan strategis. Langkah ini juga menunjukkan ketegangan antara Tiongkok dan AS dalam memperkuat posisi masing-masing di kawasan Asia Timur.

Dengan mengangkat isu remiliterisasi Jepang, Main Agenda Tiongkok berharap memperkuat dampaknya terhadap kebijakan AS di kawasan tersebut. Pengendalian ekspor ke Jepang menjadi bagian dari upaya membangun konsensus dengan negara-negara lain di Asia, terutama dengan negara-negara yang juga mengkhawatirkan pengaruh AS. Selain itu, langkah ini menegaskan bahwa Tiongkok semakin aktif dalam memperkenalkan kebijakan ekonomi sebagai alat politik global, sejalan dengan peningkatan kekuatan ekonomi dan militer negara tersebut.

MORE FROM THIS CATEGORY