Rupiah Cetak Rekor Terendah Baru, Dolar AS Tembus Rp17.730
Dailynesia.com – Dalam Latest Program terkini, rupiah mengalami pelemahan mencolok terhadap dolar AS (USD) pada hari Senin (25 Mei 2026). Data dari Refinitiv menunjukkan bahwa mata uang lokal ini mencapai titik terendah sepanjang sejarah (All Time Low) dengan nilai Rp17.730 per USD. Pada awal hari, rupiah sempat menguat 0,06% hingga Rp17.680/USD, tetapi peningkatan tersebut tidak bertahan. Di akhir sesi perdagangan, mata uang Garuda bergerak ke level Rp17.730/USD, mencerminkan tekanan yang berkelanjutan terhadap nilai tukar.
Analisis Pasar Global yang Mempengaruhi Dolar AS
Kondisi dolar AS pada hari Senin dipengaruhi oleh dinamika di pasar internasional. Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa sebagian besar negosiasi kesepakatan damai dengan Iran telah selesai, tetapi tekanan terhadap dolar masih ada. Blokade terhadap kapal Iran di Selat Hormuz tetap berlaku hingga perjanjian resmi ditandatangani dan disertifikasi, menciptakan ketidakpastian bagi investor. Meski indeks dolar AS (DXY) mengalami penurunan ke 99,070, fluktuasi ini belum cukup untuk mengembalikan kekuatan rupiah.
“Kami telah finalisasi sebagian besar perjanjian damai dengan Iran, tetapi kebijakan blokade akan tetap diterapkan hingga kesepakatan tersebut lengkap,” tutur Trump dalam pernyataannya.
Penjelasan ini memicu perubahan sentiment pasar, tetapi tekanan eksternal seperti perang dagang dan inflasi tetap menghimpit dolar AS. Akibatnya, rupiah terus tertekan, dengan indikasi bahwa Latest Program ini menjadi titik awal dari koreksi lebih lanjut.
Kebijakan Pemerintah untuk Stabilisasi Rupiah
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pemerintah terus berupaya memperkuat rupiah melalui Latest Program yang telah dirancang. Salah satu langkah strategis adalah penerapan kebijakan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) mulai 1 Juni 2026. Kebijakan ini diharapkan dapat meningkatkan aliran dana dari ekspor batu bara dan CPO ke dalam negeri, yang sebelumnya terkunci akibat tekanan dari dolar AS.
Di samping itu, pemerintah melakukan intervensi di pasar obligasi untuk memastikan stabilitas imbal hasil (yield) selama aliran modal asing keluar. Selama pekan lalu, total pembelian Surat Berharga Negara (SBN) mencapai sekitar Rp2,2 triliun. Upaya ini bertujuan mengurangi tekanan dari permintaan dolar AS, sekaligus menjaga daya beli rupiah dalam kondisi pasar yang tidak stabil.
Dengan Latest Program yang dijalankan, pemerintah juga mendorong penguatan nilai tukar rupiah hingga Rp15.000/USD. Namun, keberhasilan ini bergantung pada respons pasar terhadap kebijakan ekspor dan stabilisasi inflasi. Jika kebijakan DHE SDA dapat menarik lebih banyak aliran dana, maka rupiah bisa memperoleh kekuatan untuk memperbaiki posisinya di tengah tekanan global.
Analisis dari para ekonom menunjukkan bahwa penurunan rupiah ke level Rp17.730/USD berdampak pada sektor ekspor dan impor. Kebutuhan untuk mengimbangi defisit neraca perdagangan semakin tinggi, terutama dengan permintaan dolar AS yang meningkat. Namun, Latest Program ini memberikan harapan bahwa pemerintah akan memperkuat langkah-langkah stabilisasi di tengah tantangan ekonomi global.
Secara umum, fluktuasi rupiah mencerminkan dinamika ekonomi yang kompleks. Selama Latest Program ini, faktor-faktor seperti kondisi pasar internasional, kebijakan moneter, dan stabilitas politik menjadi penentu utama. Dengan penutupan di Rp17.730/USD, rupiah menunjukkan kecenderungan melemah yang berkelanjutan, tetapi upaya pemerintah untuk mengembalikan kekuatannya tidak bisa diabaikan. Kebijakan-kebijakan yang diterapkan dalam Latest Program akan menjadi penentu utama dalam beberapa minggu ke depan.

