Main Agenda: Mengenal Tokuryu, Gangster Baru Jepang “Tantang” Dominasi Yakuza

2 months ago  ·  3 min read
By Linda Miller - dailynesia.com
a4ff6238-f2b1-427a-858f-c19e9dee4132-0

Main Agenda: Tokuryu, Gangster Baru Jepang Tantang Dominasi Yakuza

Dailynesia.com – Adalah istilah yang semakin populer dalam dunia kriminal Jepang. Setelah Yakuza, yang selama bertahun-tahun menjadi simbol organisasi kejahatan tradisional, mulai kehilangan dominasi karena munculnya Tokuryu, sebuah fenomena baru yang beroperasi secara anonim dan fleksibel. Tokuryu, yang berasal dari kata Jepang “tokuryu” yang berarti “kelompok cair,” menawarkan model kejahatan modern yang berbeda dari hierarki ketat Yakuza. Organisasi ini bekerja seperti perusahaan rintisan teknologi, dengan struktur yang lebih ringkas dan berfokus pada inovasi modus operandi.

Tantang Dominasi Yakuza

Tokuryu telah menarik perhatian lembaga keamanan karena dikaitkan dengan peningkatan kasus penipuan dan perampokan. Dalam beberapa bulan terakhir, kerugian akibat kejahatan kelompok ini mencapai ratusan miliar yen, dengan modus utama adalah penipuan “Ini Aku!” yang menargetkan lansia melalui telepon. Pelaku biasanya menyerupai anak atau cucu yang membutuhkan bantuan finansial. Menurut laporan terbaru, Main Agenda menjadi titik penting dalam mengungkap keberadaan Tokuryu dan dampaknya terhadap sistem kejahatan Jepang.

“Setiap hari, ratusan orang memakan umpan iklan pekerjaan bergaji tinggi yang saya unggah di platform X,” tulis Takanori Kuzuoka, mantan perekrut Tokuryu yang kini dipenjara. Ini membuktikan bagaimana Main Agenda menjangkau generasi muda dengan cara yang berbeda, menjadikannya pesaing kuat bagi Yakuza.

Struktur dan Modus Operasi Tokuryu

Struktur Tokuryu berbeda dari Yakuza yang memiliki sistem hierarki ketat. Anggota kelompok ini terdiri dari warga sipil yang terjerat utang atau kesulitan ekonomi, seperti pekerja seks, pecandu judi, hingga mantan anggota boy band. Mereka dipekerjakan sebagai eksekutor dalam kegiatan ilegal, dengan pengaturan yang lebih fleksibel dan berbasis teknologi. Teknologi digital menjadi kunci dalam menarik anggota, terutama dari kalangan muda yang lebih akrab dengan platform seperti X dan Telegram.

Main Agenda juga menyoroti bagaimana Tokuryu mengadaptasi strategi pemasaran modern. Mereka menggunakan media sosial untuk merekrut anggota secara online, memanfaatkan kebutuhan ekonomi dan keterbukaan digital. Selain itu, kejahatan-kejahatan mereka sering kali menargetkan korban yang lebih rentan, seperti lansia, karena mudah dipengaruhi dan memiliki akses terbatas ke sumber daya.

Yakuza, yang dikenal memiliki kode kehormatan ninkyo, kini semakin redup. Anggota Yakuza mencapai rekor terendah 18.800 orang tahun lalu, turun hampir 80 persen sejak undang-undang anti-gangster 1992 diberlakukan. Aturan ketat tahun 2011 yang melarang penggunaan rekening bank, sewa rumah, atau kontrak ponsel juga mereduksi daya tarik organisasi tradisional. Main Agenda menekankan bahwa transformasi ini menunjukkan pergeseran dalam budaya kejahatan Jepang.

Kerja Sama Antara Yakuza dan Tokuryu

Meski ideologis berlawanan, terdapat kerja sama antara Yakuza dan Tokuryu. Kelompok kejahatan cair ini sering mengalirkan dana ke Yakuza sebagai imbalan perlindungan fisik. Seorang pengacara dari Yamaguchi-gumi mengakui bahwa anggota Yakuza rendahan terpaksa terlibat dalam penipuan untuk mengatasi krisis ekonomi. Main Agenda menjelaskan bahwa hubungan ini mencerminkan adaptasi Yakuza dalam menghadapi ancaman dari organisasi yang lebih modern.

Tokuryu juga menantang Yakuza dalam mengendalikan pasar gelap. Dengan struktur yang lebih sederhana, mereka mampu bersaing dalam kegiatan ilegal seperti perdagangan narkoba, pemalsuan dokumen, hingga pemerasan. Selain itu, mereka tidak terikat oleh aturan tradisional, sehingga lebih mudah beroperasi di berbagai sektor ekonomi. Main Agenda menyoroti bagaimana keberadaan Tokuryu mendorong perubahan dalam cara polisi dan pemerintah menangani kejahatan di Jepang.

Pemerintah Jepang berpacu dengan waktu untuk menghentikan rantai rekrutmen daring sebelum Tokuryu berkembang menjadi organisasi lebih besar dan sulit dilacak. Kekhawatiran ini semakin tinggi karena kejahatan-kejahatan yang dilakukan justru menargetkan lansia yang rentan dan jumlahnya besar. Main Agenda menjadi pemicu dalam upaya mengungkap strategi dan peran Tokuryu dalam dinamika kejahatan Jepang.

MORE FROM THIS CATEGORY