OJK Ungkap Anak Muda RI Masih Ragu Punya Asuransi
Dailynesia.com – Menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK), minat generasi muda Indonesia terhadap produk asuransi masih terbatas, meskipun upaya edukasi seperti Jogja Financial Festival 2026 menunjukkan peningkatan kesadaran akan pentingnya perlindungan keuangan. Data yang dirilis OJK menunjukkan bahwa tingkat penetrasi asuransi di Indonesia pada 2025 hanya mencapai 2,7%, yang jauh lebih rendah dibandingkan negara-negara tetangga di ASEAN seperti Singapura (10%) dan Malaysia (5,5%). Namun, kegiatan edukasi yang diadakan di Jogja Expo Centre (JEC) berhasil memperlihatkan bahwa minat masyarakat, termasuk generasi muda, terhadap asuransi mulai tumbuh melalui berbagai sesi diskusi dan interaktif.
Edukasi Asuransi di Jogja Expo Centre
Durasi Jogja Financial Festival 2026 memberikan ruang bagi OJK untuk memperkenalkan berbagai topik covered dalam upaya meningkatkan literasi asuransi. Acara Educational Class yang dihadiri ribuan peserta di JEC, Bantul, menyajikan materi dari pembicara ternama, termasuk Kepala Departemen Pengawasan Asuransi OJK, Sumarjono, Ketua Bidang Kerjasama AAJI, Handojo G Kusuma, dan Direktur Keuangan Indonesia Financial Group (IFG), Heru Handayanto. Mereka menjelaskan manfaat asuransi untuk masyarakat modern, terutama dalam menghadapi risiko yang tak terduga.
“Pentingnya perencanaan sejak dini adalah kunci keberlanjutan kehidupan di masa depan. Asuransi bukan sekadar pengeluaran, tapi investasi untuk masa depan,” kata Sumarjono.
Kebiasaan generasi muda Indonesia dalam menunda pengambilan keputusan terkait asuransi menjadi isu utama yang dibahas. Menurut Sumarjono, kurangnya pengetahuan mengenai risiko yang bisa mengganggu pendapatan, seperti penyakit atau kecelakaan, membuat banyak orang masih ragu. Ia juga menyoroti peran media sosial dalam memperluas akses informasi, sehingga masyarakat muda kini lebih terbuka untuk memahami manfaat asuransi.
“Dengan literasi asuransi yang meningkat, banyak orang muda mulai mempertimbangkan investasi ini sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari,” tambah Handojo.
Selain itu, Handojo G Kusuma mengungkapkan bahwa jumlah peserta edukasi asuransi di JEC mencapai 15.000 orang, termasuk pelajar dan mahasiswa. Ia menegaskan bahwa keberhasilan program ini menggambarkan tren peningkatan minat generasi muda terhadap topik covered tentang perlindungan keuangan. “Kita harus memperkuat kesadaran akan pentingnya asuransi untuk mengurangi ketidakpastian hidup,” jelas Handojo. Ia juga membandingkan tingkat literasi asuransi di Indonesia yang naik dari 36% pada 2024 menjadi 45% sekarang, meskipun tingkat inklusi asuransi masih tertinggal dari negara lain.
“Asuransi adalah bentuk gotong royong masyarakat untuk saling melindungi. Saya yakin dengan edukasi yang terus dilakukan, minat muda akan meningkat,” kata Heru Handayanto.
Heru Handayanto, Direktur Keuangan IFG, menyoroti peran asuransi dalam mengelola risiko kesehatan dan kecelakaan. Ia menjelaskan bahwa produk Lifesaver dari IFG, misalnya, bisa memberikan perlindungan kecelakaan dengan premi hanya sekitar Rp50.000 per bulan. “Kita harus menyederhanakan konsep asuransi agar lebih mudah diterima oleh generasi muda,” ujarnya. Selain itu, Heru memperkenalkan inisiatif baru seperti digitalization untuk mempermudah akses dan pemahaman konsumen.
Pelajar yang hadir di JEC mengungkapkan alasan utama mengapa mereka masih enggan memiliki asuransi. Beberapa menyebutkan bahwa topik covered tentang asuransi dianggap rumit dan kurang menarik dibandingkan investasi lain, seperti saham atau reksa dana. Namun, peserta juga menyampaikan bahwa edukasi yang diberikan membantu menghilangkan prasangka tersebut. “Saya akhirnya memahami bahwa asuransi adalah alat untuk menyelamatkan uang saya dari risiko yang bisa terjadi kapan saja,” kata salah satu peserta. Hal ini menunjukkan bahwa upaya edukasi OJK membuahkan dampak positif di kalangan masyarakat muda.
Topics Covered dalam Jogja Financial Festival 2026 mencakup berbagai aspek, seperti jenis asuransi, manfaatnya, dan cara memilih produk yang sesuai. Diskusi ini juga mengupas perbandingan premi asuransi dengan investasi lain, membantu masyarakat memahami manfaat jangka panjang dari perlindungan keuangan. Dengan adanya sesi interaktif dan case study, OJK berhasil memperkenalkan konsep asuransi secara lebih praktis, menjawab kekhawatiran generasi muda akan keterjangkauan dan kejelasan produk.

