Media Asing Ramai Sorot Gunung Dukono Meletus yang Tewaskan 3 Pendaki

3 months ago  ·  3 min read
By Linda Miller - dailynesia.com
0bde2b93-875f-4689-b39a-d2c6f24a9f19-0

Key Discussion: Gunung Dukono Meletus, 3 Pendaki Tewaskan dan Perhatian Media Asing

Dailynesia.com – Tentang erupsi Gunung Dukono di Halmahera, Maluku Utara, semakin menjadi sorotan publik dan media internasional. Letusan yang terjadi Jumat pagi (9/5/2026) mengakibatkan tewaskan tiga pendaki. Dalam video dan foto yang viral, terlihat kolom abu vulkanik mencapai ketinggian 10 km di atas permukaan. Rombongan pendaki terdiri dari 20 orang, termasuk warga Singapura dan pendaki lokal Indonesia, yang mengabaikan peringatan keselamatan sebelum memasuki jalur. Penyebab kematian korban, kata sumber di lapangan, terkait dengan material letusan seperti abu, batu, dan lava yang meluncur ke area pendakian.

Peristiwa Evakuasi dan Korban

Kepolisian Halmahera Utara mengungkapkan bahwa dua pendaki asing dari Singapura dan satu pendaki lokal dari Kota Ternate meninggal dalam kejadian ini. Dua korban asing diduga berusia 30 dan 27 tahun, sedangkan korban lokal adalah seorang perempuan yang belum diketahui usianya secara pasti. Jenazah ketiga korban masih berada di zona rawan, menurut Kepala Kepolisian Halmahera Utara, Erlichson Pasaribu. “Korban tewas karena terkena material letusan yang bergerak cepat, termasuk abu dan batu vulkanik,” jelas Pasaribu, Sabtu (10/5/2026).

“Kami menghentikan operasi pencarian sejenak setelah letusan berlangsung, karena kondisi medan sangat berbahaya. Seluruh jenazah masih berada di area dalam, dan kami akan melanjutkan evakuasi hari esok,” kata Kepala Kantor SAR Ternate, Iwan Ramdani, melalui laporan Reuters, Sabtu (9/5/2026).

Kondisi Gunung dan Proses Penyelamatan

Basarnas menyatakan bahwa pencarian terhadap tiga korban hilang sempat tertunda karena aktivitas letusan yang intens. Menurut Aldy Salabia, warga lokal yang terlibat dalam upaya penyelamatan, pendaki berada di posisi berisiko tinggi meski telah diberi peringatan. “Kami melihat abu mengalir deras dan material vulkanik terlempar ke berbagai arah. Pendaki tak sempat menyelamatkan diri,” katanya, melalui laporan BBC, Sabtu (9/5/2026).

Erlichson Pasaribu menambahkan bahwa letusan Gunung Dukono berulang dan mengganggu evakuasi. “Meski sumber daya kita terbatas, kami berusaha memberi bantuan terbaik kepada korban,” ujarnya. Sementara itu, tim SAR sedang berupaya mengumpulkan data tentang jalur pendakian dan kondisi kawah gunung tersebut. Peristiwa ini memicu Key Discussion tentang pentingnya pengawasan dan protokol keselamatan dalam aktivitas wisata alam.

Latar Belakang Gunung Dukono dan Peringatan Terdahulu

Gunung Dukono, yang dikenal sebagai salah satu gunung aktif di Indonesia, telah memberikan peringatan keselamatan sejak Desember 2024. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi merekomendasikan pendaki tidak mendekati kawah utama dalam radius 4 km karena ancaman lontaran batu, abu, dan lava. Meski demikian, pendaki tetap memasuki kawasan gunung hingga ketinggian 1.335 meter. “Kami mempertanyakan kesiapan pendaki sebelum memulai ekspedisi,” tulis Basarnas dalam pernyataan resmi, Jumat (9/5/2026).

Banyak pendaki mengabaikan papan informasi dan media sosial yang menyoroti risiko erupsi. Di media asing, kejadian ini dianggap sebagai Key Discussion terkini mengenai dampak alam terhadap wisatawan internasional. Beberapa laporan menyebutkan bahwa pendaki dari negara lain sering kali terjebak dalam kondisi rawan karena kurang memahami daerah perbukitan tersebut.

Analisis dan Implikasi Kejadian

Analisis dari ahli geologi menunjukkan bahwa letusan Gunung Dukono terjadi karena tekanan magma yang meningkat. “Kebocoran gas dan material vulkanik bisa memicu letusan kapan saja, bahkan tanpa peringatan dini,” kata Pakar Gunung Api, dilansir BBC, Sabtu (9/5/2026). Letusan ini memberikan Key Discussion tentang kebutuhan pengawasan lebih ketat terhadap destinasi wisata yang berisiko. Pemerintah daerah juga sedang mengevaluasi sistem informasi bencana yang diberikan kepada pengunjung.

Sementara itu, warga setempat mengungkapkan kekecewaan mereka terhadap keselamatan pendaki. “Kami selama ini memberi peringatan, tapi pendaki tak peduli. Mereka terus masuk dan akhirnya menjadi korban,” kata seorang warga di Ternate. Peristiwa ini memperkuat Key Discussion tentang pentingnya kesadaran masyarakat terhadap ancaman alam. Sumber daya kesehatan dan logistik juga terjebak dalam situasi darurat, karena banyak pendaki mengalami luka serius.

Langkah Pemulihan dan Keselamatan Masa Depan

Setelah operasi penyelamatan selesai, pemerintah menggelar rapat untuk meninjau protokol keamanan. “Kami akan memperketat pemeriksaan sebelum pendaki masuk, dan mungkin membatasi jumlah pengunjung,” kata Erlichson Pasaribu, dalam Key Discussion terbaru. Penyebab letusan yang akurat masih dalam penyelidikan, namun dugaan awal menyebutkan bahwa cuaca buruk dan tekanan tektonik menjadi faktor utama.

Kebocoran abu yang terjadi terus-menerus mengakibatkan kesulitan komunikasi dan transportasi. Namun, tim SAR telah berhasil menyelamatkan sejumlah pendaki yang terluka. “Key Discussion mengenai erupsi ini menjadi pembelajaran penting untuk wisatawan, khususnya dari luar negeri,” tambah Kepala Kantor SAR Ternate. Pihak berwenang berharap kejadian ini bisa memperbaiki sistem informasi bencana gunung berapi di Indonesia.

MORE FROM THIS CATEGORY