Starmer Digoyang, Siapa PM Inggris Terlama & Terpendek dalam Sejarah?

2 months ago  ·  3 min read
By Linda Miller - dailynesia.com
9dda2f71-1205-4d26-a950-2d7c97f5b8ef-0

New Policy: Tekanan pada Starmer, Siapa Perdana Menteri Inggris Terlama & Terpendek?

Dailynesia.com – Menjadi topik utama dalam pemerintahan Inggris saat ini, terutama karena dampaknya terhadap posisi Keir Starmer sebagai Perdana Menteri (PM) terbaru. Tekanan politik terhadap Starmer semakin intens setelah penurunan dukungan dari internal Partai Buruh, yang menimbulkan spekulasi mengenai kemungkinan perubahan kepemimpinan. Dalam konteks New Policy, pergeseran ini menunjukkan kecemasan terhadap kebijakan pemerintahan yang sedang dijalankan, terutama dalam menghadapi tantangan ekonomi dan sosial yang meningkat.

“New Policy belum terbukti memberikan hasil yang stabil, meski ada upaya untuk mengubah arah kebijakan melalui tindakan kudeta senyap,” komentar Kemi Badenoch, anggota Partai Konservatif.

Di tengah situasi ini, anggota parlemen Partai Buruh mulai menggalang dukungan untuk mengganti Starmer, dengan harapan mengakhiri periode kekuasaan yang dianggap tidak efektif. Meski demikian, proses pergantian memerlukan setidaknya 20% dukungan dari anggota parlemen, sehingga tidak bisa terjadi secara mendadak. Starmer, yang sebelumnya memimpin pemerintahan setelah pemilu lokal Inggris 2026, tetap mempertahankan komitmennya meskipun terpapar tekanan politik yang semakin berat.

Sejarah Perdana Menteri Inggris Terlama

Pemerintahan Inggris telah mengalami pergeseran kepemimpinan yang sering terjadi sejak abad ke-18. Salah satu rekor yang masih berdiri adalah masa jabatan terlama, yang dipegang oleh Robert Walpole, salah satu PM pertama dalam sejarah modern. Ia memimpin pemerintahan selama 20 tahun 315 hari pada periode 1721–1742, menjadi contoh kekuatan politik yang stabil. Namun, era modern menunjukkan perubahan dramatis, dengan Margaret Thatcher menjadi PM terlama dalam sejarah era tersebut, berkuasa selama 11 tahun (1979–1990).

“New Policy menjadi alasan utama mengapa kekuasaan di Inggris terus berubah. Walpole menetapkan standar, tetapi Thatcher membuktikan bahwa perubahan bisa terjadi dalam waktu yang lebih cepat,” tulis sejarawan.

Periode Starmer, yang masih dalam proses, berpotensi menjadi salah satu dari lima PM terbaru dalam kurun sepuluh tahun terakhir. Hal ini menunjukkan bahwa New Policy tidak hanya memengaruhi kebijakan ekonomi, tetapi juga mengubah dinamika kepemimpinan politik, yang sebelumnya jarang mengalami pergantian secepat ini.

Perdana Menteri dengan Masa Jabatan Terpendek

Jika Starmer benar-benar digantikan, maka rekor masa jabatan terpendek dipegang oleh Liz Truss, yang hanya menjabat selama 49 hari pada 2022. Ia menjadi PM terpendek dalam sejarah modern karena kebijakan pemotongan pajaknya menyebabkan krisis ekonomi yang memicu gejolak pasar keuangan. Hal ini mengingatkan kembali pada periode sebelumnya, seperti Lord Liverpool atau Benjamin Disraeli, yang juga memiliki masa jabatan singkat tetapi berdampak besar pada politik Inggris.

“New Policy bisa mempercepat pergantian kepemimpinan, seperti yang terjadi pada era Liz Truss. Hal ini menggambarkan perubahan cepat di Inggris pasca-Brexit,” analisis politik.

Kondisi saat ini menunjukkan bahwa New Policy bukan hanya tentang kebijakan, tetapi juga tentang kestabilan politik. Dengan tekanan terus meningkat, muncul pertanyaan apakah Starmer akan menjadi PM dengan masa jabatan terpanjang atau justru menjadi salah satu yang terpendek, tergantung pada respons publik dan suara anggota parlemen terhadap kebijakannya.

Brexit dan krisis ekonomi pasca-pemilu menjadi faktor utama yang mengubah peta kekuasaan Inggris. New Policy yang diusung Starmer berusaha menjawab tantangan ini, tetapi keberhasilannya bergantung pada kemampuan mengelola stabilitas internal dan eksternal. Dengan empat PM yang telah berganti dalam waktu sepuluh tahun terakhir, perubahan kepemimpinan terus menjadi bagian dari proses politik Inggris yang dinamis.

Meski ada kemungkinan Starmer akan tetap memimpin, New Policy menunjukkan bahwa partai-partai besar seperti Partai Buruh harus siap menghadapi tekanan dari dalam maupun luar. Perubahan ini mungkin mempercepat proses pergantian, sebagaimana yang terjadi pada periode Liz Truss. Dengan munculnya nama-nama seperti Wes Streeting atau Andy Burnham, prospek New Policy akan menentukan masa depan kepemimpinan Inggris selama beberapa tahun ke depan.

MORE FROM THIS CATEGORY