Bos BGN Perintahkan Dapur MBG di Jatim Borong Telur Peternak, Ada Apa?

3 months ago  ·  3 min read
By Daniel Rodriguez - dailynesia.com
peternak-memanen-telur-di-salah-satu-peternakan-ayam-petelur-di-gunung-sindur-jawa-barat-rabu-245-5_169-1

Bos BGN Perintahkan Dapur MBG Borong Telur Peternak dalam Special Plan

Dailynesia.com – Dalam upaya meningkatkan pemanfaatan telur lokal, Badan Gizi Nasional (BGN) meluncurkan Special Plan khusus untuk Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Jawa Timur. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap situasi pasar telur yang sedang terpuruk, di mana harga jual di tingkat peternak turun tajam. Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, menyatakan bahwa Special Plan menjadi strategi untuk memastikan telur peternak bisa lebih banyak digunakan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), sekaligus mengurangi beban ekonomi para produsen.

Implementasi Special Plan di Jatim

Koordinasi yang intensif antara BGN dan Satgas MBG Kabupaten Magetan menjadi pilar utama Special Plan ini. Dalam wawancara dengan media, Nanik menjelaskan bahwa jumlah penggunaan telur dalam menu MBG akan ditingkatkan dari dua kali seminggu menjadi tiga kali. “Dengan Special Plan ini, kami ingin mendukung peternak lokal yang sedang kesulitan, sekaligus memberikan manfaat gizi tambahan kepada masyarakat,” ujarnya. Langkah ini diharapkan mampu membuka akses pasar yang lebih luas untuk telur, sekaligus mengurangi ketergantungan pada pasokan luar daerah.

“Penggunaan telur dalam MBG bukan hanya tentang ketersediaan bahan makanan, tetapi juga tentang pembentukan ekosistem pangan yang lebih berkelanjutan,” tambah Nanik. Ia menekankan bahwa Special Plan dirancang untuk mengintegrasikan produk pertanian lokal ke dalam kebijakan nasional, sehingga bisa meningkatkan nilai tambah bagi peternak sekaligus menjaga kualitas gizi masyarakat.

Protes Peternak Ayam Petelur di Magetan

Kebijakan Special Plan ini sejalan dengan aksi damai yang dilakukan sejumlah peternak ayam petelur di Magetan. Pada Rabu (6/5/2026), mereka berkumpul di Alun-Alun dan sekitar Masjid Agung Baitussalam untuk menyampaikan keluhan mengenai penurunan harga telur. Mereka menuturkan bahwa harga jual di tingkat kandang saat ini hanya berkisar antara Rp22.000 hingga Rp22.800 per kilogram, jauh di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp26.500 per kilogram.

Kondisi ini diperburuk oleh kenaikan biaya bahan pakan ternak dan overproduksi telur. Peternak menilai bahwa Special Plan yang dicanangkan BGN bisa menjadi solusi jangka panjang. Dengan memperbanyak konsumsi telur dalam program MBG, mereka berharap bisa menciptakan permintaan yang stabil dan mengangkat harga jual ke level yang lebih sehat. “Kami bersyukur karena ada upaya seperti Special Plan yang memberikan dorongan ekonomi bagi peternak,” kata salah satu peserta aksi.

Analisis Pasar Telur dan Dukungan Pemerintah

Kebijakan Special Plan juga diharapkan bisa menjadi titik balik untuk industri telur nasional. Menurut keterangan dari Badan Pusat Statistik (BPS), produksi telur di Jawa Timur selama tiga bulan terakhir mengalami peningkatan hingga 15%, namun konsumsi di tingkat pedagang dan konsumen justru menurun. Hal ini menciptakan ketimpangan pasokan dan harga yang tidak sebanding. Dengan Special Plan, BGN berharap bisa mengimbangi kelebihan produksi dengan meningkatkan pemesanan langsung dari peternak, sehingga menekan risiko kerusakan stok.

“Special Plan ini adalah bagian dari strategi nasional untuk memperkuat keterlibatan sektor pertanian dalam pemerataan gizi,” jelas Kepala BGN, yang belum disebutkan namanya. Ia menambahkan bahwa BGN juga sedang berdiskusi dengan pihak produsen bahan pakan untuk menstabilkan biaya produksi, yang merupakan salah satu penyebab utama tekanan harga telur.

Prospek Kebijakan Special Plan

Langkah Special Plan di Jawa Timur dinilai menjadi contoh yang baik dalam integrasi kebijakan antara pemerintah pusat dan daerah. Sejumlah ahli gizi menilai bahwa peningkatan frekuensi penggunaan telur dalam MBG bisa berdampak signifikan terhadap peningkatan asupan protein masyarakat. Selain itu, kebijakan ini juga memberikan dorongan untuk mengurangi impor telur, yang selama ini menjadi beban devisa negara.

Menurut peneliti dari Institut Pertanian Bogor, peningkatan penggunaan telur dalam program MBG bisa meningkatkan pendapatan peternak hingga 20% jika diterapkan secara konsisten. “Kunci sukses Special Plan adalah keberlanjutan dan koordinasi yang baik antara berbagai pihak terkait,” tutur peneliti tersebut. Ia menyarankan agar pemerintah daerah bisa menyesuaikan program ini dengan kondisi lokal, termasuk memastikan kualitas telur yang digunakan mencapai standar gizi optimal.

MORE FROM THIS CATEGORY