“Bom Waktu” Iran Masih Berdetak, Nasionalisme Jadi Jawaban?
Konteks Strategi Nasionalisme dalam Special Plan
Dailynesia.com – Dalam kondisi tekanan ekonomi yang semakin menggerogoti dan ketegangan konflik yang tak kunjung mereda, pemerintah Iran terus memperkuat narasi nasionalisme sebagai bagian dari Special Plan mereka. Special Plan ini sebenarnya merupakan rencana strategis yang dirancang untuk menjaga kestabilan politik dan mengembalikan moral masyarakat di tengah krisis yang meliputi inflasi tinggi, kekacauan ekonomi, dan kekecewaan terhadap kebijakan pemerintah. Di Teheran, berbagai sudut kota dihiasi dengan poster besar yang menyoroti persatuan bangsa dan kemenangan melawan kekuatan Barat. Strategi ini muncul beberapa bulan setelah pemerintah dikritik karena mengambil langkah keras terhadap unjuk rasa anti-kabinet, termasuk pembubaran demonstrasi dan penahanan aktivis.
Upaya Memperkuat Citra Persatuan
Saat ini, pemerintah berusaha membangun citra persatuan dengan menampilkan simbol-simbol patriotik baru. Termasuk dalam Special Plan ini adalah upacara pernikahan massal dengan tema militer, pelatihan senjata di masjid, serta parade Garda Revolusi yang memperkuat semangat “perlawanan nasional.” Perubahan ini menggeser fokus propaganda dari simbol Syiah ke identitas Persia dan kebangsaan, yang lebih mudah menarik simpati publik. Dalam Special Plan ini, pemerintah juga mengadopsi strategi yang lebih menyeluruh, mencakup media sosial, pendidikan, dan kegiatan budaya untuk membangun kesadaran kolektif.
“Ideologi Republik Islam lama telah kehilangan daya tarik besar di tengah masyarakat. Maka, mereka memanfaatkan aspek lain identitas Iran untuk menarik dukungan massa,” kata Ali Vaez, Direktur Proyek Iran di International Crisis Group, seperti dilansir Reuters pada Jumat (22/5/2026). Dengan Special Plan ini, pemerintah berharap dapat mengalihkan perhatian masyarakat dari isu-isu ekonomi yang mendesak ke arah pembangunan narasi persatuan.
Meski pemerintah mengusahakan Special Plan untuk memperkuat kesatuan nasional, banyak pihak masih meragukan efektivitasnya. Masyarakat yang semakin frustrasi dengan krisis ekonomi dan politik mempertanyakan apakah narasi nasionalisme ini mampu mengatasi kekecewaan yang terus membesar. Sebelumnya, Iran telah berhasil menahan serangan udara dari AS dan Israel, serta mendorong Trump kembali ke meja perundingan melalui ancaman penutupan Selat Hormuz. Namun, kondisi ekonomi Iran dianggap memburuk hingga mendekati kehancuran, dan Special Plan ini juga dianggap sebagai bagian dari upaya untuk memperkuat dominasi pemerintah di tengah tekanan internasional.
Special Plan mencakup beberapa elemen yang diharapkan dapat mengalihkan perhatian publik. Pemimpin Tertinggi baru Mojtaba Khamenei menjadi pusat perhatian dalam berbagai kegiatan nasionalis, termasuk di dalam Special Plan yang bertujuan membangun kembali semangat persatuan. Selain itu, pemerintah juga memperketat pengawasan terhadap kemungkinan gelombang protes berikutnya, dengan menggalakkan kampanye propaganda yang menekankan keberhasilan politik dan militer. Dalam Special Plan ini, peran ulama dalam struktur kekuasaan mulai berkurang, digantikan oleh Garda Revolusi sebagai simbol kekuatan nasional.
Dalam Special Plan yang dijalankan, pemerintah juga mencoba mengaitkan krisis ekonomi dengan keberhasilan diplomatik dan militer. Misalnya, penghormatan terhadap bendera oleh tim nasional sepak bola Iran dianggap sebagai bagian dari upaya untuk membangkitkan semangat kebangsaan. Meski demikian, responden publik tetap terbelah. Banyak warga menilai pemerintah terlalu sibuk membangun citra, dibanding mengatasi masalah ekonomi yang menggerogoti keseharian masyarakat. Dengan Special Plan ini, pemerintah mencoba mengurangi kritik dari dalam negeri dengan menegaskan bahwa segala sesuatu di Iran berjalan normal dan rakyat tetap solid.
Special Plan yang dijalankan pemerintah Iran juga terlihat dalam berbagai acara dan kebijakan yang menggabungkan elemen budaya dan politik. Di antaranya, pemerintah memanfaatkan momentum pertandingan sepak bola internasional untuk menggalang semangat nasionalisme. Selain itu, kampanye media massa yang menyoroti keberhasilan militer Iran, seperti penahanan serangan udara AS, juga menjadi bagian dari Special Plan ini. Dengan menggabungkan narasi keberhasilan dan kekacauan, pemerintah berharap mampu membangun konsensus nasional di tengah tantangan global.
Dalam Special Plan ini, pemerintah juga berupaya membangun kembali kepercayaan publik dengan memperkenalkan tokoh-tokoh nasionalis Persia yang terkenal di masa lalu. Salah satu contohnya adalah Rais Ali Delvari, pejuang gerilya anti-Britain yang kini hadir di poster besar bersama komandan Garda Revolusi. Strategi ini berusaha menegaskan bahwa identitas Iran tidak hanya berbasis agama, tetapi juga memiliki akar sejarah yang kuat. Meski demikian, Special Plan ini juga dianggap sebagai cara untuk memperkuat kontrol pemerintah dan menekan suara oposisi yang semakin menguat.

