Historic Moment: Diam-Diam Bisnis China & Iran Menggurita di Wilayah Pendudukan Rusia

3 months ago  ·  3 min read
By Christopher Moore - dailynesia.com
5225a2bc-4921-42c3-a6b8-30fc4913d4d9-0

Diam-Diam Bisnis China & Iran Menggurita di Wilayah Pendudukan Rusia

Dailynesia.com – Dalam sebuah momen sejarah, bisnis dari Tiongkok dan Iran terus berkembang di wilayah yang diduduki Rusia di Ukraina. Meski konflik perang masih berlangsung dan wilayah tersebut terasing dari pihak internasional, aktivitas ekonomi di sana justru semakin meningkat. Banyak perusahaan dari kedua negara ini turut andil dalam berbagai sektor, menunjukkan kolaborasi yang kuat di tengah ketegangan politik.

Penelitian Menyoroti Aktivitas Ekonomi yang Menggelora

Menurut laporan dari Eastern Human Rights Group (EHRG), sebuah organisasi pengawas berbasis Ukraina, setidaknya 17 perusahaan Tiongkok aktif beroperasi di wilayah yang diduduki Rusia saat ini. Mereka terlibat dalam pertambangan, konstruksi, telekomunikasi, dan layanan keuangan. Keberadaan mereka menunjukkan betapa luasnya keterlibatan ekonomi Tiongkok di wilayah tersebut, yang semakin menjadi bagian dari strategi geopolitik yang lebih luas.

Kolaborasi Tiongkok dengan Wilayah Pendudukan Rusia

Pada November 2023, dua perusahaan Tiongkok, Zhongxin Heavy Industrial Machinery dan Amma Construction Machinery, menandatangani kontrak pasokan mesin penghancur batu untuk proyek konstruksi di Donetsk. Kontrak ini diumumkan oleh Evgeny Solntsev, yang menjabat sebagai “Perdana Menteri” Republik Rakyat Donetsk. Dalam pernyataannya, Solntsev menyatakan,

“Saya yakin bahwa potensi kerja sama kita sangat besar, dan kita baru mulai mengimplementasikannya.”

Bahkan, peralatan dari perusahaan Tiongkok ini digunakan dalam kegiatan tambang Karansky di Donetsk Selatan. Hasil tambang batu kemudian digunakan untuk proyek pembangunan di wilayah pendudukan Rusia, termasuk kota pelabuhan Mariupol yang hancur akibat perang. Menurut laporan, Mariupol menjadi salah satu proyek terbesar Rusia setelah terpapar blokade pada awal 2022. Beberapa bangunan yang dibangun bahkan dinyatakan berdiri di atas area kuburan massal korban perang sipil.

Penggunaan Yuan Tiongkok Semakin Menyebar

Keterlibatan Tiongkok di wilayah pendudukan Rusia semakin diperkuat dengan penggunaan yuan yang semakin meluas. Sistem pembayaran elektronik Tiongkok dan layanan pertukaran mata uang via Telegram menjadi alat utama dalam transaksi. Dilaporkan ada 79 bank di wilayah pendudukan yang telah berpartisipasi dalam perdagangan yuan, menunjukkan adanya kerja sama yang nyata.

Meski secara resmi Beijing menyatakan netral dalam perang Rusia-Ukraina dan mendukung integritas teritorial Ukraina, perusahaan-perusahaan Tiongkok tetap memanfaatkan peluang bisnis di sana. “Tiongkok tidak melarang bisnis di wilayah pendudukan Rusia, tetapi menutup mata terhadap beberapa hal,” kata analis politik Ukraina, Volodymyr Fesenko. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang prioritas ekonomi Tiongkok dalam konflik internasional.

Iran Juga Memperkuat Pengaruh Ekonominya

Selain Tiongkok, Iran juga dikabarkan memperkuat pengaruh ekonominya di wilayah pendudukan Rusia. EHRG melaporkan bahwa Teheran membeli gandum dan batu bara dari Donbas serta mulai mengintegrasikan kawasan tersebut ke dalam rantai logistik negara itu. Wakil Perdana Menteri Republik Rakyat Luhansk, Pavel Kovalev, bahkan menyatakan produsen lokal siap memasok kasein atau protein susu ke Iran.

Butchenko menilai keterlibatan Iran tidak lepas dari dorongan Kremlin. “Kremlin tidak hanya memberikan izin kepada perusahaan-perusahaan Iran untuk masuk ke pasar wilayah pendudukan tetapi juga mendorong mereka,” katanya. Hal ini memperlihatkan hubungan ekonomi yang terus menerus antara Rusia dan negara-negara sekutu, meski di tengah konflik yang sedang berlangsung.

Konteks Politik dan Hukum Internasional

Peneliti dari EHRG, Maksym Butchenko, menegaskan bahwa masuknya perusahaan Tiongkok dan Iran ke wilayah pendudukan Rusia merupakan bagian dari “integrasi bayangan” yang dilakukan Rusia. “Ini adalah preseden yang mengancam dari sudut pandang politik dan hukum internasional karena melanggar perjanjian internasional,” ujarnya. Keterlibatan eksternal ini bisa memperkuat posisi Rusia dalam upaya mengisolasi Ukraina secara ekonomi.

Ketergantungan Ukraina terhadap perusahaan Tiongkok, terutama di sektor teknologi dan telekomunikasi, membuat keberadaan bisnis asing tersebut sulit dihindari. Meski Kyiv telah menjatuhkan sanksi terhadap sejumlah perusahaan Tiongkok, seperti Alibaba dan Perusahaan Minyak Nasional Tiongkok, hubungan ekonomi tetap berlangsung.

MORE FROM THIS CATEGORY