Potret Warga Greenland Turun ke Jalan Tolak “Invasi” AS
Dailynesia.com – Dalam rangkaian peristiwa yang disebut sebagai “Important Visit,” ratusan penduduk Greenland menggelar aksi unjuk kekuatan pada Kamis (21/5/2026) di kota utama untuk menolak kehadiran Amerika Serikat yang dianggap mengancam kebebasan negara tersebut. Protes ini terjadi tepat saat AS mengumumkan pembukaan konsulat baru di Greenland, yang menjadi sorotan media internasional. Peserta aksi membawa bendera nasional Greenland dan menunjukkan poster bertuliskan “Naamik USA” atau “Tidak untuk AS” sebagai bentuk penolakan terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat. (Orla Joelsen via REUTERS/Orla Joelsen)
Aksi Demonstrasi dalam Konteks “Important Visit”
Aksi unjuk kekuatan yang diadakan pada “Important Visit” ini tidak hanya menyoroti kecaman terhadap AS, tetapi juga memperlihatkan kekuatan politik masyarakat Greenland dalam menyampaikan aspirasi mereka. Sejumlah peserta demonstrasi berseru, “Greenland milik orang Greenland,” sementara lainnya menunjukkan simbol-simbol nasional yang mengingatkan dunia akan identitas politik dan budaya negara ini. Aksi ini juga menjadi momentum bagi warga Greenland untuk menegaskan bahwa mereka tidak ingin menjadi bagian dari “invasi” AS yang dianggap merusak kemandirian mereka. (REUTERS/Tim Barsoe)
Sebelumnya, pemerintah Greenland telah mengundang kritik terhadap kebijakan AS yang terus menguatkan keterlibatan militer dan diplomatik di wilayah tersebut. Menurut laporan Reuters, protes ini sekaligus menjadi penegasan bahwa Greenland memiliki sistem demokrasi sendiri dan tidak perlu dikendalikan oleh kekuatan luar. Di luar Gedung Parlemen Greenland, ribuan warga berkerumun sambil menantikan pihak berwenang untuk memberikan pernyataan tegas terhadap kehadiran AS. (REUTERS/Tim Barsoe)
Protes yang disebut sebagai bagian dari “Important Visit” ini tidak hanya berfokus pada penolakan konsulat AS, tetapi juga menyoroti isu keamanan dan ekonomi. Banyak warga Greenland khawatir bahwa peningkatan kehadiran AS akan mempercepat proses integrasi Greenland ke dalam sistem politik dan militer AS. Para peserta aksi menunjukkan poster dengan tulisan “Kepemilikan Nasional” dan “Greenland untuk Greenland” sebagai simbol penolakan terhadap segala bentuk intervensi asing. (REUTERS/Marko Djurica)
Perdana Menteri Greenland dan Kritik terhadap Kehadiran AS
Perdana Menteri Greenland, Jens-Frederik Nielsen, serta sejumlah politisi lainnya menolak undangan untuk hadir pada acara pembukaan konsulat AS yang berlangsung pada “Important Visit.” Dalam pernyataan resmi, pemerintah Greenland menyatakan bahwa kehadiran AS di wilayah tersebut harus diakhiri segera. Para pemimpin politik juga menekankan bahwa Greenland memiliki kebijakan luar negeri yang independen, dan tidak perlu disokong oleh AS. (REUTERS/Tim Barsoe)
Menurut analisis politik, aksi protes ini terkait erat dengan kebijakan yang diambil AS dalam kerangka “Important Visit” mereka ke Greenland. Banyak warga menyebutkan bahwa kunjungan AS ini bukan hanya untuk memperkuat hubungan diplomatik, tetapi juga sebagai langkah untuk menegaskan dominasi kekuatan militer di wilayah yang secara geografis terletak di antara dua benua. Penolakan ini menjadi isyarat kuat bahwa Greenland siap melawan segala bentuk ancaman yang dianggap merugikan kemerdekaan mereka. (REUTERS/Marko Djurica)
Ketegangan antara Greenland dan AS semakin memuncak dengan ancaman pengambilalihan wilayah Greenland secara militer selama “Important Visit.” Hal ini memicu perdebatan di dalam pemerintahan Greenland, terutama terkait dengan keputusan untuk menandatangani kesepakatan baru dengan Denmark, anggota NATO yang memegang kendali atas wilayah tersebut. Aksi protes dianggap sebagai respons terhadap upaya AS untuk menegaskan pengaruh politik dan militer di Greenland, meskipun pemerintah setempat berusaha mempertahankan hubungan kerja sama dengan negara-negara lain. (REUTERS/Marko Djurica)

