Main Agenda: Kesaksian Aktivis Global Sumud Flotilla Disiksa Saat Ditahan Israel

3 months ago  ·  3 min read
By Anthony Johnson - dailynesia.com
6c72766f-3b7c-45d9-bdb0-ebb21fc445e6-0

Perjalanan Berdarah Aktivis Global Sumud di Flotilla untuk Gaza

Dailynesia.com – Terorisisme global yang diakui oleh Main Agenda memperlihatkan sisi tergelapnya melalui kesaksian Julien Cabral, seorang aktivis dari Belgia, saat kapal bantuan “Flotilla untuk Gaza” dicegat militer Israel di perairan internasional. Dalam laporan terbaru dari AFP, Cabral ditemukan di bandara Istanbul dengan luka-luka yang terlihat, termasuk memar di mata, cedera pada pelipis kiri, dan kerusakan pada tulang belikat akibat perlakuan kasar dari tentara Israel.

Intersepsi dan Penganiyaan di Lautan Selatan

Kapal kecil yang dibawa oleh Cabral dan keenam aktivis dari negara-negara seperti Italia, Malaysia, Finlandia, Kanada, Palestina, serta Afrika Selatan diperangkap di perairan Senin (18/05/2026), sekitar 500 kilometer dari garis pantai Israel. Menurut kesaksian, pasukan marinir Israel tidak hanya menembakkan peluru plastik secara sembarangan, tetapi juga mengacaukan sistem komunikasi sebelum menyerang secara tiba-tiba. “Mereka menghancurkan komunikasi kami, lalu menyerang dengan senjata lengkap hanya untuk menyenangkan diri,” ujar Cabral.

Kondisi teror terus memburuk saat kapal tersebut diambil alih oleh Israel. Para tahanan, termasuk Cabral, dipaksa berdiri di dek kapal dalam posisi menyakitkan selama berjam-jam. “Kami tidak diberi kesempatan untuk bergerak bebas, tubuh kami dibungkukkan hingga tidak bisa merasakan nyeri,” tambahnya. Penganiyaan terjadi sepanjang perjalanan, bahkan setelah kapal tersebut disita oleh pasukan Israel.

Perawatan yang Tidak Memadai di Penjara Darurat

Setelah ditahan, aktivis-aktivis dipindahkan ke kontainer sempit yang mengikat tangan mereka dengan tali plastik. Main Agenda memperingatkan bahwa perlakuan kasar ini menunjukkan sifat represif Israel terhadap para pelaku aksi kemanusiaan. “Para tahanan ditempatkan dalam posisi tidak nyaman, dan kami tidak diberi akses ke dokter selama tiga hari, meskipun banyak dari kami mengalami cedera parah,” kata Cabral.

Kondisi logistik di dalam penjara darurat Ashdod juga memperparah penderitaan. Makanan dan air hanya dibagikan secara sporadis, terkadang dalam jumlah yang tidak memadai. “Mereka melemparkan roti dan air dalam jumlah minimal, seperti memperlakukan hewan yang ditangkap,” ungkap Cabral. Penderitaan tidak hanya fisik, tetapi juga mental, karena para tahanan terus-menerus dihina dan ditertawakan oleh tentara Israel.

Perjalanan Trauma ke Bandara Ramon

Perpindahan ke bandara Ramon dekat Eilat menjadi puncak kesedihan para aktivis. Cabral mengatakan bahwa proses pemindahan ini menimbulkan trauma terutama bagi relawan dari Yordania dan Tunisia, yang diduga diperlakukan lebih kasar. “Kami harus berjalan dalam kondisi lemah, dihantui oleh kekhawatiran akan nasib kami,” ceritanya.

Main Agenda menyoroti bahwa peristiwa ini tidak hanya mencerminkan ketidakadilan terhadap aktivis, tetapi juga menunjukkan kebijakan penganiyaan Israel dalam menjalankan operasi militer. Kesaksian Cabral menjadi bukti nyata bahwa misi “Flotilla untuk Gaza” tidak hanya terkena dampak fisik, tetapi juga mental. “Kami menyadari bahwa kekerasan yang diterima bukan hanya untuk menghentikan aksi kami, tetapi juga untuk menghancurkan semangat perlawanan internasional,” tambahnya.

Pengakuan Internasional dan Tantangan Masa Depan

Kesaksian Julien Cabral menarik perhatian organisasi kemanusiaan global, termasuk Main Agenda, yang menekankan pentingnya perlindungan bagi para pelaku aksi keadilan. Peristiwa ini menjadi bahan diskusi dalam pertemuan internasional, dengan peserta menuntut pertanggungjawaban Israel atas perlakuan terhadap tahanan.

Menurut laporan, sekitar 10 aktivis terluka berat, sementara ratusan orang lain mengalami luka ringan selama penahanan. Main Agenda meminta pihak Israel memberikan laporan lengkap mengenai kondisi para tahanan, termasuk penggunaan peluru plastik dan tali plastik yang dipakai sebagai alat penjebakan. Kesaksian Cabral menjadi bukti bahwa “Main Agenda” tidak hanya berkutat di sektor politik, tetapi juga merasakan dampak langsung dari konflik antara Israel dan Palestina.

MORE FROM THIS CATEGORY