Kapan LRT Jabodebek Tembus Bogor? KAI Kasih Jawaban Begini
Dailynesia.com – PT Kereta Api Indonesia (KAI) (Persero) meluncurkan new policy baru dalam pengembangan sistem transportasi massal Jabodebek, yang menjadi fokus utama untuk mengatasi kepadatan arus lalu lintas di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Kebijakan ini memperkuat rencana perluasan rute LRT (Light Rail Transit) Jabodebek hingga kota Bogor, menurut pengumuman dari Direktur Portfolio Management dan Teknologi Informasi, I Gede Darmayusa, pada Jumat (22/5/2026). Dalam new policy ini, KAI menekankan pentingnya perencanaan yang matang untuk memastikan proyek terus berjalan secara berkelanjutan dan memberi manfaat maksimal bagi masyarakat.
Master Plan dan Rencana Perluasan
“Secara master plan, dulu memang sudah ada rencana sampai Bogor, kalau tidak salah sampai Baranangsiang ya. Kami dengan DJKA tentunya sedang mengkaji kembali potensi bisnis, potensi TOD, dan lain sebagainya ya, sehingga biaya yang besar itu bisa kita justifikasi dengan peningkatan penumpang,” jelas Gede di Stasiun LRT Dukuh Atas.
KAI memperkirakan bahwa perluasan rute LRT ke arah Bogor akan memberikan dampak signifikan terhadap pengurangan beban transportasi di daerah tersebut. Dalam new policy terbaru, pihaknya menyoroti bahwa jalur Bogor pada KRL (Kereta Rel Listrik) Jabodetabek saat ini melayani separuh dari total penumpang harian, yaitu sekitar 500 ribu orang. Angka ini menunjukkan potensi besar yang bisa diambil dari pembangunan jalur LRT di wilayah tersebut.
Menurut Gede, analisis terkait keberlanjutan proyek ini mencakup pertimbangan ekonomi, lingkungan, dan sosial. Dengan new policy yang lebih terstruktur, KAI berharap mampu mengoptimalkan penggunaan sumber daya dan mempercepat pemanfaatan kawasan transit oriented development (TOD) sebagai pusat pengembangan kota yang ramah lingkungan. Langkah ini diharapkan bisa memperkuat keterpaduan transportasi antar kota dan memicu pertumbuhan ekonomi di sepanjang jalur baru.
Kapasitas dan Evaluasi Rute
Pada masa kini, LRT Jabodebek hanya mampu menampung 6 gerbong perjalanan, sementara KRL bisa menawarkan kapasitas hingga 12 gerbong. Dengan new policy yang diterapkan, KAI berencana untuk meningkatkan kapasitas LRT melalui perluasan stasiun dan penggunaan teknologi terkini. Selain itu, perusahaan juga sedang menambah 678 stasiun baru yang diharapkan bisa meningkatkan jumlah penumpang hingga 80 ribu orang per hari.
Analisis rute dan jadwal perjalanan masih dalam evaluasi, terutama untuk jalur arah Sukabumi. Gede menjelaskan bahwa keputusan untuk mengembangkan rute LRT ke kota Bogor tidak hanya didasarkan pada kebutuhan transportasi, tetapi juga pada peluang ekonomi dan pengurangan kemacetan di jalan raya. New policy ini juga mencakup rencana pengembangan infrastruktur yang lebih fleksibel, sehingga bisa mengikuti pertumbuhan populasi dan aktivitas ekonomi di wilayah Jabodebek.
Dalam new policy terbaru, KAI menegaskan komitmen untuk mempercepat proses pemanfaatan kawasan TOD. Hal ini melibatkan kolaborasi dengan pemerintah daerah dan pengembang lokal untuk menciptakan sistem transportasi yang lebih efisien. Proyek ini juga diharapkan bisa menjadi contoh dalam pengembangan kota berbasis ketersediaan infrastruktur transportasi yang modern.
Keberhasilan new policy ini akan tergantung pada beberapa faktor, seperti koordinasi antara berbagai pihak, ketersediaan dana, dan kecepatan pengambilan keputusan. Gede menambahkan bahwa pihaknya sudah memulai diskusi dengan pihak terkait untuk memastikan bahwa ekstensi LRT ke Bogor bisa dilaksanakan secara optimal. Proyek ini juga dijadwalkan akan menjadi bagian dari pembangunan transportasi nasional yang lebih luas.

