KNKT Ungkap 3 Penyebab Tabrakan KA Argo Bromo Vs KRL, Tak Sebut Taksi
Dailynesia.com – Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengungkap tiga penyebab utama dari tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur pada 27 April lalu. Dalam sidang dengar pendapat dengan Komisi V DPR RI, KNKT menyatakan bahwa faktor kesalahan sistem persinyalan, gangguan komunikasi, dan ketidaksempurnaan operasional pengatur jalur menjadi akar masalah kecelakaan tersebut.
Anomali Persinyalan dan Pengaruh Lingkungan
Dalam penyelidikan awal, KNKT menyoroti kegagalan sistem persinyalan di relasi Stasiun Bekasi dan Bekasi Timur sebagai penyebab utama. “KA 5568A yang berhenti normal di Bekasi Timur tidak terdeteksi oleh sinyal keluar, sehingga memicu kesalahan pengambilan keputusan oleh pengemudi KRL,” jelas Soerjanto Tjahjono, ketua KNKT, dalam rilisnya. Masalah ini semakin kompleks karena cahaya dari lingkungan sekitar, seperti lampu pasar dan rumah warga, mengganggu visibilitas sinyal pengulang.
“Dalam situasi malam hari, intensitas dan warna cahaya tersebut menyerupai sinyal yang seharusnya terlihat oleh masinis. Hal ini membuatnya kesulitan membedakan antara sinyal utama dan pengulang,” terang Soerjanto dalam sesi diskusi.
Kelalaian pengatur jalur rel juga menjadi perhatian utama. KNKT mengungkapkan bahwa sistem persinyalan harus mampu mendeteksi semua kereta yang beroperasi di sepanjang jalur. Keterlambatan dalam deteksi tersebut berdampak langsung pada kecelakaan yang terjadi, sebab KRL tidak mengenali posisi KA Argo Bromo Anggrek sebelum menabraknya.
Gangguan Komunikasi dan Kesiapan Tim
Salah satu faktor penting yang diungkap KNKT adalah gangguan komunikasi radio antara masinis KA dan pengatur jalur. “KA 5181 menggunakan Radio Tait, KA 5568A beroperasi dengan Radio Sepura, dan KA 4B menggunakan Radio Lokomotif. Masing-masing sistem berada di wilayah komunikasi yang berbeda, sehingga menyebabkan miskomunikasi saat situasi kritis,” tambah Soerjanto. Dalam simulasi, KNKT menunjukkan bahwa perbedaan frekuensi radio memperparah kemungkinan kesalahan pengambilan keputusan.
“Main Agenda: Kami melakukan simulasi untuk melacak alur komunikasi dan menemukan bahwa masinis KRL mengalami kesulitan mendengar instruksi dari pengatur karena adanya interupsi sinyal radio. Ini menunjukkan perlunya harmonisasi sistem komunikasi di seluruh jaringan kereta api,” kata Soerjanto.
Kecelakaan tersebut menggarisbawahi pentingnya kesiapan tim pengemudi dan pengatur jalur. KNKT menekankan bahwa faktor manusia, seperti konsentrasi dan pengalaman masinis, juga berkontribusi dalam kejadian tersebut. Selain itu, penggunaan alat bantu navigasi yang tidak sempurna memperbesar risiko tabrakan.
Main Agenda: Kecelakaan di Bekasi Timur menimbulkan kekhawatiran terhadap keamanan perjalanan kereta api di jaringan rel yang sering dilalui oleh rakyat Jakarta. Jumlah penumpang yang terlibat dalam kecelakaan mencapai ratusan, sehingga dampaknya signifikan terhadap mobilitas masyarakat. KNKT meminta pihak terkait untuk mempercepat penyelesaian investigasi agar langkah mitigasi bisa segera diambil.
Dalam laporan sementara, KNKT tidak menyebutkan peran taksi sebagai penyebab langsung. Meski demikian, KNKT memastikan bahwa faktor eksternal seperti kepadatan lalu lintas di sekitar stasiun atau aktivitas pengemudi taksi tetap dianalisis sebagai pelengkap penyelidikan. “Main Agenda: Kami masih mengevaluasi apakah ada keterlibatan taksi dalam mengganggu jalur kereta api saat insiden terjadi,” tambah Soerjanto.
Main Agenda: Langkah-langkah pencegahan kecelakaan serupa di masa depan akan menjadi fokus KNKT. Pihaknya mengusulkan penggunaan sistem persinyalan yang lebih canggih dan harmonisasi frekuensi radio di seluruh jalur. Selain itu, KNKT menyarankan adanya pelatihan khusus bagi masinis dan pengatur jalur untuk meningkatkan kewaspadaan saat operasional dalam kondisi cuaca atau lingkungan yang kurang ideal.

