Key Discussion: Prabowo Heran Ekonomi 5% Tapi Kelas Menengah Turun, Kenapa?
Dailynesia.com – Menghadirkan pertanyaan mendalam yang dibawa oleh Presiden Prabowo Subianto saat menyoroti ketimpangan antara pertumbuhan ekonomi dan penurunan kelas menengah. Dalam pidato di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (20/5/2026), ia menyoroti data yang menunjukkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai rata-rata 5% per tahun, namun jumlah penduduk miskin meningkat dari 46,1% menjadi 49,5% dalam tujuh tahun terakhir, sementara kelas menengah mengalami penurunan. “Ini mencolok, Saudara-saudara, bagaimana bisa pertumbuhan ekonomi mencapai 35% selama tujuh tahun, tapi rakyat yang miskin justru meningkat, dan kelas menengah turun,” ujar Prabowo, yang mengakui rasa heran dan kekecewaan atas fenomena tersebut.
Pertumbuhan Ekonomi vs. Penurunan Kelas Menengah
Banyak pengamat menyebut pertumbuhan ekonomi 5% per tahun sebagai capaian positif, terutama dalam konteks membangun bangsa dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Namun, Prabowo menyoroti bahwa data statistik ini tidak sepenuhnya mencerminkan kesejahteraan rakyat secara proporsional. Ia menjelaskan bahwa meskipun pertumbuhan ekonomi mencapai 35% dalam tujuh tahun, distribusi hasil pertumbuhan tidak merata. “Kalau pertumbuhan ekonomi itu bisa diubah menjadi keadilan, maka kelas menengah bisa terus berkembang,” kata Prabowo, yang menekankan bahwa sistem ekonomi saat ini kurang efektif dalam menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
Keluhan Prabowo menimbulkan pertanyaan Key Discussion tentang faktor-faktor yang mendorong penurunan kelas menengah meskipun ekonomi nasional tetap mengalami pertumbuhan. Faktor utama yang diajukan meliputi ketimpangan distribusi pendapatan, kenaikan harga bahan pokok, dan dampak dari kebijakan ekonomi yang tidak seimbang. “Kalau tidak ada perubahan, maka kelas menengah akan terus menurun, dan kemiskinan akan semakin meningkat,” tegas Prabowo, yang menganggap masalah ini sebagai tantangan besar bagi kebijakan ekonomi Indonesia.
Analisis Kebijakan Ekonomi
Prabowo mengajak para ahli dan anggota dewan untuk mengevaluasi sistem perekonomian yang berlaku. Ia menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi yang diukur hanya dari angka GDP tidak cukup untuk menilai kinerja ekonomi secara menyeluruh. “Kita perlu melihat apakah pertumbuhan ini benar-benar membawa manfaat bagi seluruh lapisan masyarakat, terutama kelas menengah,” ujarnya. Menurut Prabowo, kebijakan ekonomi yang tidak berkelanjutan akan mengakibatkan struktur sosial yang semakin terpecah, dengan kelompok miskin berkembang pesat sementara kelompok atas semakin kaya.
Menurut analisis Prabowo, ketimpangan ini bisa diatasi dengan pendekatan yang lebih inklusif. “Kita perlu memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak hanya menguntungkan segelintir orang, tetapi juga mencakup seluruh rakyat,” katanya. Ia menyarankan reformasi struktural yang melibatkan perbaikan sistem pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur, serta kebijakan pajak yang lebih adil. “Ini adalah Key Discussion yang harus dijawab secara ilmiah dan matematis,” tambah Prabowo, yang mengingatkan bahwa ekonomi nasional perlu dikelola dengan lebih hati-hati untuk memastikan kesejahteraan yang merata.
Komparasi dengan Negara Lain
Dalam Key Discussionnya, Prabowo menyebutkan bahwa fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di berbagai negara berkembang seperti Meksiko, India, dan Filipina. Namun, ia menegaskan bahwa sistem ekonomi masing-masing negara berbeda, sehingga hasilnya juga berbeda. “Kita perlu belajar dari negara-negara lain, tetapi jangan terburu-buru mengadopsi kebijakan yang tidak sesuai dengan kondisi lokal,” katanya. Menurut Prabowo, sistem ekonomi Indonesia saat ini membutuhkan penyesuaian agar tidak hanya menghasilkan pertumbuhan, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup rakyat.
Kelompok kelas menengah, yang menjadi tulang punggung konsumsi dan investasi di Indonesia, menurut Prabowo, menjadi korban dari ketimpangan distribusi pendapatan. “Jika kelas menengah terus menurun, maka kekuatan ekonomi nasional akan terganggu,” jelasnya. Ia menyoroti bahwa kenaikan kemiskinan sebesar 3% dalam tujuh tahun menunjukkan adanya masalah yang perlu diatasi secara mendesak, baik melalui kebijakan pemerintah maupun peran masyarakat.
Prabowo juga menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi 5% per tahun harus dikelola dengan lebih baik. “Kita perlu memastikan bahwa kebijakan ekonomi tidak hanya mengukir angka, tetapi juga mampu mengubah kesejahteraan rakyat,” katanya. Menurutnya, kebijakan yang tidak berkelanjutan akan mengakibatkan ketidakstabilan sosial dan ekonomi dalam jangka panjang. “Kita harus menjawab pertanyaan Key Discussion ini dengan tuntas, agar rakyat tidak merasa tertekan,” ujarnya, yang menambahkan bahwa reformasi ekonomi harus menjadi prioritas utama pemerintah.

