Video: Dua WNI Kembali Diculik Israel, Total Kini Mencapai Tujuh Orang
Dailynesia.com – Dari Jakarta, pihak Israel kembali melakukan penculikan terhadap dua warga negara Indonesia (WNI) yang tergabung dalam armada Global Sumud Flotilla. Armada tersebut berangkat ke Jalur Gaza untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan, tetapi dalam perjalanan, dua orang di antaranya dibawa oleh pasukan Zionis. Dengan penambahan ini, jumlah total WNI yang diculik mencapai tujuh orang, menurut informasi terkini yang dihimpun.
Konteks Penculikan di Jalur Gaza
Global Sumud Flotilla, yang terdiri dari sejumlah kapal dari berbagai negara, merupakan bagian dari upaya internasional untuk menyampaikan bantuan ke Jalur Gaza. Armada ini mengangkut perbekalan medis, makanan, dan barang kebutuhan pokok bagi penduduk setempat yang terkena dampak konflik berkepanjangan antara Israel dan gerakan Hamas. Namun, dalam perjalanan menuju wilayah itu, dua WNI dari rombongan flotilla dibawa oleh pasukan Israel, yang disebut-sebut memperparah ketegangan politik dan diplomatik.
Penculikan ini terjadi setelah sebelumnya terdapat delapan WNI yang terjebak di Gaza. Dengan adanya dua orang tambahan yang kini berada dalam tahanan Israel, total jumlah WNI yang diambil mencapai tujuh orang. Meski angka ini tidak menyamai jumlah yang sebelumnya tercatat, hal ini tetap menimbulkan kekhawatiran karena serangkaian aksi yang dianggap mengancam hak asasi manusia.
Penjelasan dari Pihak Israel
Dalam wawancara dengan Squawk Box CNBC Indonesia, seorang perwakilan dari kementerian luar negeri Israel mengatakan bahwa tindakan penculikan tersebut dilakukan untuk menjaga keamanan dan kepentingan nasional. “Kami melakukan operasi ini sebagai respons terhadap aktivitas yang dianggap mengganggu keterlibatan penduduk sipil di Jalur Gaza,” ujarnya. Namun, pihak Indonesia menolak penjelasan ini, menegaskan bahwa penculikan dilakukan tanpa adanya peringatan sebelumnya.
“Penculikan ini menunjukkan ketidakpedulian Israel terhadap keberadaan WNI di wilayah tersebut. Kami menuntut kejelasan tentang nasib mereka dan tindakan represif yang terus dilakukan,” kata perwakilan dari Kementerian Luar Negeri Indonesia dalam jumpa pers terpisah.
Kontroversi ini semakin memanas karena sejumlah WNI yang diculik sebelumnya masih belum kembali. Dua orang yang terbaru diculik, kata sumber diplomatik, merupakan bagian dari rombongan yang menuntut akses ke Gaza untuk menyalurkan bantuan. Mereka dinyatakan hilang sejak hari Jumat lalu, saat armada tersebut tiba di perairan Jalur Gaza.
Sikap Internasional dan Dampak Politik
Insiden ini juga menarik perhatian organisasi internasional seperti Liga Negara-Negara Arab dan Organisasi Perjanjian Damai Timur (OPEC). Mereka mengkritik tindakan Israel sebagai bentuk pelanggaran terhadap kebebasan bergerak dan hak asasi manusia. “Kami menyesalkan kejadian ini karena menunjukkan keterusungan konflik yang mengakibatkan penderitaan rakyat sipil,” tulis pernyataan OPEC dalam laporan terbaru.
Di sisi lain, PBB sedang memantau situasi di Gaza untuk memastikan keberadaan WNI yang terjebak. “Bantuan kemanusiaan harus tetap dapat sampai kepada penduduk yang membutuhkan, terlepas dari tekanan politik,” jelas seorang pejabat PBB dalam siaran pers. Namun, akses ke Gaza terus terbatas, sehingga operasi seperti Global Sumud Flotilla menjadi langkah penting dalam mengatasi krisis.
Detail Perjalanan Flotilla dan Korban
Kapal-kapal yang tergabung dalam Global Sumud Flotilla berangkat dari pelabuhan Yerusalem pada hari Jumat, 14 Mei 2026, sebagai bagian dari misi yang disponsori oleh Gerakan Pemuda Nasional (GPN) dan beberapa organisasi internasional. Rombongan ini terdiri dari sekitar 120 orang, termasuk 20 WNI. Sebagian besar dari mereka berharap dapat menyalurkan bantuan ke wilayah yang terisolasi.
Dalam perjalanan, flotilla menghadapi penjagaan ketat dari pasukan Israel. Selama beberapa hari, terjadi pertukaran tembakan antara anggota rombongan dan marinir Israel. Dua orang WNI yang dinyatakan hilang adalah anggota dari tim medis dan logistik. Mereka diberitkan telah dibawa ke wilayah Israel setelah pengawalan ketat di laut.
Pengakuan dari Keluarga dan Komunitas
Keluarga dari dua WNI yang diculik menyatakan kekecewaan atas tindakan pihak Israel. “Kami tak menyangka mereka akan diambil begitu saja. Mereka hanya ingin menolong orang-orang yang terluka,” kata ibu dari salah satu korban, Ibu Siti, dalam wawancara yang tayang dalam program Squawk Box CNBC Indonesia. Ia menambahkan bahwa keluarga terus memantau keberadaan anaknya melalui informasi dari berbagai sumber.
Sementara itu, komunitas WNI di Israel mengeluarkan pernyataan yang mengecam tindakan pemerintah Zionis. “Ini adalah pelanggaran serius terhadap hak WNI yang berada di wilayah penguasaan Israel. Kami berharap ada upaya penyelesaian yang cepat,” tulis pernyataan dari kelompok pemuda Indonesia di Tel Aviv. Dalam waktu beberapa hari, serangan ini juga memicu reaksi dari sejumlah negara tetangga yang menolak pengambilan WNI tanpa penjelasan yang jelas.
Program Squawk Box sebagai Sumber Informasi
Program Squawk Box CNBC Indonesia menjadi sumber informasi utama dalam mengungkap kejadian terbaru ini. Dalam sesi wawancara yang tayang Rabu, 20 Mei 2026, host program menyampaikan bahwa dua WNI tersebut berada dalam tahanan Israel setelah disandera di tengah perjalanan ke Gaza. “Kami mengecek langsung melalui koresponden kami di wilayah itu dan mendapat konfirmasi bahwa dua orang WNI sudah tidak terlihat,” kata host Squawk Box dalam laporan terbarunya.
Program ini juga mengungkapkan bahwa terdapat 18 WNI yang terjebak di Jalur Gaza sejak beberapa bulan lalu. Dari jumlah tersebut, delapan orang sudah kembali ke negara asal mereka, sementara sepuluh orang lainnya masih dalam proses pencarian. Dengan kejadian baru ini, total WNI yang diambil meningkat menjadi tujuh, yang menunjukkan kecenderungan pasukan Israel untuk terus menangkap warga negara dari berbagai negara.
Kedaulatan dan Respons Diplomatik
Indonesia mengambil langkah diplomatik untuk menuntut kejelasan mengenai nasib dua WNI yang diculik. Duta Besar Indonesia untuk Israel, Duta Besar Anwar Usman, mengatakan bahwa pemerintah sudah mengirim surat resmi ke pihak Israel. “Kami menantikan respons dari pihak Zionis dan berharap mereka bisa memberikan jaminan bahwa WNI akan kembali dengan selamat,” katanya.
Dalam beberapa hari terakhir, hubungan diplomatik antara Indonesia dan Israel terasa sedikit tegang. Namun, pihak Indonesia tetap membuka dialog untuk mencari solusi terbaik. Sementara itu, masyarakat internasional terus menunggu kejelasan mengenai peristiwa ini, terutama karena serangan terhadap WNI bisa menjadi indikator dari perang besar antara Israel dan Palestina.

