Breaking News! IHSG Ambruk 3% Lebih, Turun ke Level 6.300-an

3 months ago  ·  4 min read
By David Williams - dailynesia.com
pergerakan-indeks-harga-saham-gabungan-ihsg-di-bursa-efek-indonesia-jakarta-selasa-992025-cnbc-indonesiamuhammad-sabki-1757395638459_169-1

Breaking News! IHSG Ambruk 3% Lebih, Turun ke Level 6.300-an

Dailynesia.com – Jakarta, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan signifikan menjelang akhir sesi perdagangan hari ini, Selasa (19/5/2026). Hingga pukul 11.45 WIB, indeks tersebut melorot sebesar 3,13% atau 200 poin ke level 6.398,78. Penurunan ini menimbulkan kekhawatiran di pasar modal, dengan 569 saham turun, 134 saham naik, dan 110 saham stagnan. Aktivitas perdagangan mencapai Rp 13,85 triliun, terdiri dari 24,77 miliar saham yang diperdagangkan dalam 1,6 juta transaksi.

Peluncuran ulang IHSG hari ini berlanjut dari tren penurunan sebelumnya. Pada perdagangan Senin, indeks sempat merosot lebih dari 4%, tetapi berhasil dikurangi menjadi -1,85% saat penutupan. Menurut data Refinitiv, hampir seluruh sektor berada dalam kondisi negatif, hanya sektor kesehatan yang bertahan di zona hijau. Penurunan terbesar terjadi pada sektor bahan baku, dengan indeks mengalami penurunan hingga 7,4% karena koreksi tajam pada saham Prajogo Pangestu.

Kebijakan perusahaan emiten memengaruhi IHSG secara signifikan. Chandra Asri (TPIA) menjadi penyebab utama penurunan, dengan selisih 15% yang mengurangi 11,16 poin. Dua saham lainnya, Amman Mineral (AMMN) dan Mora Telematika (MORA), turun masing-masing sebesar 10,94 poin dan 8,97 poin. Sementara itu, Dian Swastatika Sentosa (DSSA) terpantau mengalami penurunan 7,5 poin. Tiga dari empat saham tersebut termasuk dalam daftar yang dikeluarkan dari indeks MSCI.

Dampak Tekanan dari MSCI dan FTSE

Peluncuran saham dari indeks MSCI Global Standard Index dan MSCI Global Small Cap Index berdampak material terhadap IHSG. Tekanan ini semakin memperparah pelemahan pasar, meskipun DXY mengalami penurunan 0,11% ke level 99,094. Penurunan nilai tukar rupiah juga menjadi faktor krusial, karena rupiah kembali menembus level psikologis baru. Per pukul 09.13 WIB, rupiah melemah 0,34% ke Rp17.700/US$, setelah melemah 0,06% pada pembukaan perdagangan pagi hari ini.

“Untuk memastikan integritas dan replikabilitas indeks, FTSE Russell akan menghapus sekuritas yang terdampak pada harga nol pada tinjauan Juni 2026, efektif mulai pembukaan pasar pada Senin, 22 Juni 2026,” tulis pengumuman resmi.

Kebijakan “harga nol” ini diambil karena FTSE menilai likuiditas saham yang memiliki konsentrasi kepemilikan tinggi (HSC) cenderung memburuk. Investor institusi yang mengelola dana indeks pasif (passive fund) khawatir tidak akan menemukan pembeli yang cukup jika harus menjual saham tersebut secara mendadak. Pengumuman ini muncul setelah otoritas pasar modal Indonesia meningkatkan transparansi dengan mempublikasikan daftar HSC.

Sektor bahan baku terus menjadi sumber tekanan utama. Penurunan tajam pada saham Prajogo Pangestu memberi dampak signifikan terhadap IHSG, yang berdampak pada rata-rata harga saham di seluruh pasar. Selain itu, kondisi pasar global juga ikut memengaruhi. Indeks DXY mengalami penurunan yang mencerminkan ketidakstabilan pasar keuangan internasional, meskipun rupiah masih mengalami tekanan.

Perusahaan-perusahaan yang dikeluarkan dari MSCI sebelumnya menjadi sorotan karena memiliki pangsa pasar yang dominan. Dalam pengumuman terbaru dari FTSE, “Index Treatment for the June 2026 Index Review” yang dirilis Rabu (13/5/2026), dijelaskan bahwa FTSE Russell memberikan sinyal kuat untuk menghapus saham-saham HSC pada tinjauan berikutnya. Hal ini dilakukan sebagai bagian dari upaya mengembangkan standar indeks global yang lebih akurat dan transparan.

Kondisi Pasar dan Proyeksi Masa Depan

Kondisi pasar saat ini menunjukkan ketidakpastian yang meningkat. Pelemahan rupiah terus berlanjut meski DXY menunjukkan penurunan kecil. Pergerakan mata uang lokal sangat dipengaruhi oleh kebijakan moneter dan dinamika ekonomi internasional. Investor mengharapkan koreksi IHSG akan terus berlanjut, terutama jika faktor-faktor seperti HSC dan pelemahan rupiah tidak segera diperbaiki.

Kebijakan FTSE menambah ketegangan di pasar. Perusahaan-perusahaan yang terdaftar sebagai HSC dikhawatirkan akan kehilangan akses ke dana indeks global, yang merupakan sumber modal penting. Transparansi kepemilikan saham menjadi fokus utama otoritas bursa, karena diperlukan untuk memastikan keadilan dan kesehatan pasar. Penerapan kebijakan ini diharapkan meningkatkan kepercayaan investor dan mencegah manipulasi harga.

Peluncuran saham dari MSCI dan FTSE juga menimbulkan pertanyaan tentang dampak jangka panjang terhadap IHSG. Apakah kebijakan ini akan memperkuat struktur pasar atau justru menambah ketidakstabilan? Analis menilai bahwa perusahaan-perusahaan yang terpangkas dari indeks global perlu menunjukkan kemajuan dalam menyeimbangkan kepemilikan saham, agar tidak kehilangan akses ke modal luar.

Pasar modal Indonesia berada di bawah tekanan, dengan IHSG terus bergerak dalam arah yang tidak menguntungkan. Namun, pemerintah dan otoritas pasar modal berupaya memperkuat kebijakan transparansi untuk membangun kepercayaan investor. Meski demikian, ketidakpastian ekonomi global dan dinamika kurs rupiah tetap menjadi penghalang utama bagi penguatan IHSG.

Dengan penurunan tajam ini, pasar sedang mencoba menguji batas toleransi. Investor dinasihati untuk lebih waspada terhadap risiko, terutama dalam sektor bahan baku dan perusahaan-perusahaan yang menjadi fokus pembatalan dari indeks global. Pergerakan IHSG juga dipengaruhi oleh faktor-faktor domestik, seperti ekspor, inflasi, dan kebijakan pemerintah. Kenaikan ekspor dan penurunan inflasi diperkirakan bisa menjadi penyelamat, jika investor terus memperlihatkan optimisme.

Kebijakan global seperti yang diumumkan FTSE dan MSCI menjadi indikator penting bagi investor. Penghapusan saham HSC

MORE FROM THIS CATEGORY