Latest Program: RI Belum Maju dalam Hilirisasi Logam Tanah Jarang, Negara Tetangga Sudah Miliki Pabriknya
Dailynesia.com – Dalam sebuah webinar yang diadakan oleh Indonesian Mining Institute (IMI), terungkap bahwa Indonesia masih tertinggal dalam pengembangan hilirisasi Logam Tanah Jarang (LTJ) dibandingkan negara-negara tetangga dan pemain global. Meskipun Indonesia memiliki cadangan mineral LTJ yang cukup besar, pemanfaatan bahan kritis ini belum optimal. Irwandy Arif, Ketua IMI, menyoroti bahwa industri LTJ di Tanah Air masih menghadapi hambatan teknologi pemrosesan. Ia menjelaskan bahwa sejumlah negara seperti Malaysia, India, dan Tiongkok sudah lebih dulu menguasai fasilitas industri pemurnian terintegrasi, yang menjadi bagian penting dari rantai pasok global. “Latest Program ini menunjukkan kebutuhan mendesak untuk mengakselerasi hilirisasi di Indonesia,” tambahnya.
Masalah Teknologi dan Keterbatasan Infrastruktur
Irwandy menyoroti bahwa teknologi pemurnian dan pemisahan LTJ di Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara-negara tetangga. Sebagai contoh, perusahaan Australia, Lynas Rare Earths, yang telah menjalankan fasilitas pemurnian di Pahang, Malaysia, berhasil mengolah konsentrat lantanit dari tambang Mount Weld. Di sisi lain, India juga membangun kapasitas produksi mandiri melalui Indian Rare Earths, yang menggunakan teknologi caustic cracking untuk memproses monasit. “Latest Program harus menjadi pemicu untuk mengembangkan sumber daya manusia dan teknologi lokal yang mumpuni,” ujar Irwandy.
“68 sampai 70% produksi tambang logam tanah jarang dunia berasal dari Tiongkok, dan lebih dari 90% proses pemurnian global dikuasai oleh negara tersebut,” papar Irwandy. Ini menegaskan bahwa Indonesia perlu mempercepat kebijakan dan investasi dalam bidang hilirisasi untuk tidak tertinggal.
Upaya Kemitraan PT Timah Tbk
PT Timah Tbk, sebagai pelaku utama, telah mencoba bermitra dengan enam perusahaan internasional sejak tahun 2018. Mitra-mitra ini berasal dari Inggris, Malaysia, dan Kanada, yang diharapkan bisa membantu mengolah monasit guna menghasilkan logam tanah jarang, uranium, serta torium. Namun, hingga saat ini belum ada kesepakatan akhir untuk membangun fasilitas tersebut. “Latest Program ini membutuhkan dukungan pemerintah dan perusahaan untuk mewujudkan kerja sama yang konkret,” tutur Irwandy.
Menurut Irwandy, kesuksesan hilirisasi tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada komitmen menjaga keberlanjutan. Ia menekankan bahwa industri LTJ di Indonesia perlu mengintegrasikan sumber daya alam dengan inovasi produksi untuk membangun ekosistem yang mandiri. “Tantangan terbesar adalah kesenjangan antara cadangan dan pemanfaatan, yang harus diatasi melalui kolaborasi strategis,” jelasnya.
Peluang dan Tantangan dalam Latest Program
Badan Industri Mineral (BIM) dan PT Perminas telah dibentuk sebagai langkah percepatan riset serta penguasaan teknologi hilirisasi nasional. Irwandy menyebutkan bahwa program ini memberikan peluang untuk mengejar ketergantungan dari negara-negara lain. “Latest Program harus menjadi jembatan antara industri pertambangan dan sektor manufaktur, sehingga nilai ekonomi dari mineral LTJ bisa maksimal,” imbuhnya.
Dalam konteks ekonomi, Irwandy menegaskan bahwa pengembangan LTJ di Indonesia bisa menjadi salah satu sektor unggulan. Jika berhasil, akan mengurangi impor bahan baku industri serta meningkatkan pendapatan negara. Namun, ada tantangan seperti keterbatasan infrastruktur, biaya produksi yang tinggi, dan kebutuhan tenaga ahli yang tidak terpenuhi. “Latest Program ini harus didukung oleh kebijakan yang konsisten dan investasi yang berkelanjutan,” pungkas Irwandy.
Kebijakan hilirisasi LTJ juga menjadi fokus utama dalam strategi pemerintah membangun ekonomi yang berbasis teknologi. Irwandy menambahkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, terjadi peningkatan permintaan global terhadap logam tanah jarang, yang menunjukkan potensi pasar yang sangat besar. “Kita harus memanfaatkan peluang ini sebelum negara-negara tetangga semakin memperkuat dominasi mereka,” ujarnya.
Lebih lanjut, Irwandy menekankan bahwa hilirisasi LTJ bisa menjadi bagian dari transformasi industri nasional. Ia menyarankan pemerintah dan pelaku bisnis untuk bekerja sama dengan lembaga penelitian, perguruan tinggi, serta perusahaan lokal guna mengembangkan keterampilan dan kapasitas produksi. “Latest Program ini bukan hanya tentang teknologi, tetapi juga tentang kolaborasi yang kuat dan berkelanjutan,” tutupnya.

